Utusan Donald Trump, Jared Kushner, akan mengunjungi Israel dan Mesir untuk menjembatani perbedaan terkait rencana perdamaian dan gencatan senjata Gaza.(AFP)
UTUSAN Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Jared Kushner, akan mengunjungi Israel dan Mesir pekan depan untuk menjembatani perbedaan terkait rencana perdamaian Gaza. Langkah itu ditempuh setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menolak sejumlah bagian penting dari peta jalan yang telah disepakati Hamas.
Kushner, yang juga menantu Trump, akan melakukan perjalanan bersama Nickolay Mladenov, pejabat tinggi dalam Board of Peace yang dibentuk Trump. Keduanya dijadwalkan bertemu dengan pihak Israel dan mediator utama, Mesir.
Kunjungan tersebut diarahkan untuk mencari titik temu mengenai pelaksanaan rencana perdamaian Trump. Seorang pejabat Board of Peace mengatakan Kushner dan Mladenov berharap dapat melakukan pembicaraan konstruktif untuk mempercepat proses tersebut.
“Amerika Serikat dan Israel sepakat mengenai tujuan akhirnya, yaitu Hamas yang didemiliterisasi,” kata pejabat tersebut yang meminta identitasnya dirahasiakan.
“Kami akan mendengarkan kekhawatiran yang telah disampaikan dan membahas langkah selanjutnya. Yang penting adalah kami sama-sama menyepakati hasil yang ingin dicapai dan mencari cara untuk mempercepat kemajuan,” lanjutnya.
Perbedaan utama muncul setelah Mladenov mengumumkan rencana 15 poin yang antara lain memuat kesediaan Hamas menyerahkan senjata kepada komite pemerintahan Palestina baru di Gaza.
Hamas menyetujui bagian terbaru dari rencana tersebut pada akhir Juli. Dalam versi awal yang dirilis Board of Peace, tahap berikutnya akan mencakup penarikan pasukan Israel secara bertahap dari sebagian besar wilayah Gaza.
Namun, Mladenov kemudian mengubah penjelasan tersebut. Israel disebut tidak perlu menarik pasukannya sebelum Hamas sepenuhnya melucuti senjata.
Netanyahu menegaskan tidak akan menarik pasukan Israel dari Gaza. Ia juga meragukan kesediaan Hamas untuk menyerahkan persenjataan dan menuntut agar proses pelucutan senjata dilakukan secara menyeluruh serta dapat diverifikasi. Adapun Hamas menyatakan tetap mematuhi kesepakatan yang telah dibuat.
“Kami terus menunggu tekanan dari para mediator dan pihak Amerika Serikat terhadap Netanyahu dan pemerintahnya agar memaksa mereka mematuhi peta jalan tersebut,” kata anggota biro politik Hamas, Bassem Naim, kepada AFP.
Naim juga meminta Amerika Serikat mencegah terganggunya proses kesepakatan gencatan senjata karena kepentingan politik dan pemilu. Israel dijadwalkan menggelar pemilu pada 27 Oktober, dengan sejumlah jajak pendapat menunjukkan persaingan ketat yang kembali menempatkan Netanyahu dalam posisi tertekan.
Upaya diplomatik tersebut berlangsung ketika situasi di Gaza kembali memburuk. Israel melancarkan serangan udara mematikan pada Rabu dan Kamis lalu setelah lebih dari sepekan situasi relatif mereda. (AFP/Z-2)

















































