Petugas memberikan vaksin antirabies terhadap seekor anjing peliharaan milik warga di halaman parkir Pantai Mertasari, Desa Sanur Kauh, Denpasar, Bali, Selasa (2/12/2025).(ANTARA/Nyoman Hendra W)
PERISTIWA tragis yang menimpa seorang anak di Jasinga, Kabupaten Bogor, akibat dugaan serangan anjing pemburu telah memicu gelombang keprihatinan di media sosial. Insiden ini tidak hanya menimbulkan kekhawatiran terkait keamanan pemeliharaan anjing pemburu di area permukiman, tetapi juga menjadi alarm keras bagi pentingnya pencegahan penyakit zoonosis, terutama rabies.
Menanggapi fenomena tersebut, Dr drh Agus Wijaya, dosen dari Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University, menegaskan bahwa aspek kesehatan hewan harus menjadi prioritas utama. Menurutnya, kedisiplinan dalam vaksinasi rabies pada anjing pemburu masih menjadi tantangan besar di lapangan.
"Kemungkinan vaksinasi rabies belum dilakukan secara disiplin di wilayah tersebut. Ini menjadi hal yang perlu mendapat perhatian karena vaksinasi merupakan langkah dasar dalam menjaga kesehatan hewan sekaligus melindungi masyarakat," ungkap Dr Agus.
Faktor Pemicu Serangan
Dr Agus menjelaskan bahwa serangan anjing terhadap manusia tidak terjadi tanpa alasan. Terdapat kombinasi antara kondisi kesehatan hewan yang tidak terpantau serta pola interaksi manusia yang kurang tepat. Ia menyoroti adanya mitos di kalangan pemilik anjing pemburu yang enggan memberikan vaksin karena takut performa berburu hewan tersebut menurun.
Berikut adalah beberapa faktor risiko yang diidentifikasi terkait insiden serangan anjing:
| Keengganan Vaksinasi | Kekhawatiran pemilik bahwa anjing menjadi lemas setelah vaksin, padahal efek tersebut hanya sementara. |
| Interaksi Anak-anak | Kurangnya pemahaman anak-anak dalam berinteraksi, seperti tindakan usil yang memicu respons defensif hewan. |
| Lokasi Permukiman | Penggunaan anjing pemburu di lingkungan padat penduduk tanpa pengelolaan dan pengawasan yang ketat. |
| Status Kesehatan | Kondisi kesehatan hewan yang tidak terpantau meningkatkan risiko perilaku agresif dan penyebaran rabies. |
Langkah Pencegahan dan Tanggung Jawab
Untuk meminimalkan risiko di masa depan, Dr Agus menekankan pentingnya tanggung jawab penuh dari pemilik hewan. Ia menyarankan agar anjing tidak dibiarkan berkeliaran bebas di lingkungan masyarakat. Penggunaan tali ikat atau penempatan di area tertutup yang aman di halaman rumah menjadi prosedur standar yang harus dipatuhi.
Selain itu, ia mendorong adanya sinergi antara pemerintah, komunitas pemburu, dan masyarakat luas. Program vaksinasi yang teratur dan berkelanjutan, didampingi dengan penyuluhan intensif mengenai bahaya rabies, dianggap sebagai solusi jangka panjang yang paling efektif.
"Vaksinasi perlu diprogramkan secara teratur. Penyuluhan mengenai bahaya rabies harus terus digalakkan agar masyarakat memahami risiko serta langkah-langkah pencegahannya," pungkasnya.
Melalui kombinasi pengelolaan hewan yang bertanggung jawab, edukasi publik, dan konsistensi vaksinasi, diharapkan lingkungan yang aman bagi manusia maupun hewan peliharaan dapat terwujud, sekaligus mencegah terulangnya tragedi serupa. (Z-1)


































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/6007179/original/011565500_1778899711-20260512BL_Portrait_John_Herdman_24.jpg)















