Presiden Prabowo: Kritik Itu Menyelamatkan, Tapi Jangan Fitnah dan Caci Maki

4 hours ago 3
 Kritik Itu Menyelamatkan, Tapi Jangan Fitnah dan Caci Maki Presiden Prabowo Subianto memberikan sambutan dalam acara peringatan Hari Lahir Ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jakarta Convention Center, Kamis malam (23/7/2026).(ANTARA/Rio Feisal)

PRESIDEN Prabowo Subianto menegaskan bahwa pemerintahannya sangat terbuka terhadap kritik. Menurutnya, kritik merupakan elemen krusial dalam kehidupan demokrasi yang berfungsi sebagai instrumen koreksi agar jalannya pemerintahan tetap berada di jalur yang benar.

Pernyataan tersebut disampaikan Presiden saat memberikan pidato dalam acara Harlah Ke-28 PKB di JCC, Senayan, Jakarta, Kamis (23/7). Meski menyambut baik masukan, Prabowo memberikan catatan penting mengenai batasan antara kritik yang membangun dengan serangan yang bersifat destruktif.

"Kita negara demokrasi. Kita tidak antikritik. Kritik itu menyelamatkan. Tapi ada beda kritik dan caci maki. Kritik dengan fitnah itu beda," ujar Presiden Prabowo.

Kritik Objektif sebagai Penyelamat

Presiden menjelaskan bahwa pemerintah memahami fungsi kritik untuk mengoreksi kebijakan. Oleh karena itu, penyampaian aspirasi yang objektif dan konstruktif sangat diperlukan dalam sistem demokrasi di Indonesia. Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak akan goyah menghadapi berbagai serangan selama kebijakan yang diambil mengutamakan kepentingan rakyat.

“Tapi enggak ada masalah. Tidak ada masalah. Kalau kita benar, kalau kita berada di jalan yang benar, kita terus akan kuat,” ucapnya meyakinkan.

Poin Utama Arahan Presiden Prabowo:

Aspek Pesan Presiden
Sikap Pemerintah Terbuka dan tidak anti terhadap kritik.
Fungsi Kritik Menyelamatkan dan mengoreksi jalannya pemerintahan.
Larangan Menghindari fitnah, caci maki, dan narasi pesimistis.
Harapan Menjaga optimisme dan persatuan nasional.

Ibarat Tim Nasional di Lapangan

Dalam kesempatan tersebut, Prabowo juga menyoroti adanya narasi-narasi negatif yang berupaya melemahkan kepercayaan publik, termasuk isu bahwa Indonesia akan kolaps. Ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk tetap optimistis dan memberikan dukungan terhadap pembangunan nasional.

Kepala Negara mengibaratkan pemerintah seperti sebuah tim nasional yang sedang bertanding. Sebagai suporter, masyarakat diharapkan memberikan semangat, bukan justru menjatuhkan mental para pemain yang sedang berjuang.

"Kalau kita cinta sama satu kesebelasan, umpamanya dia lagi bertanding di lapangan, kita kan sebagai suporter, ‘Ayo, ayo, maju.’ Tapi jangan turunkan moral dong, orang lagi bertanding di situ. Nanti kamu kalah," tuturnya memberikan perumpamaan.

Menutup pidatonya, Presiden menekankan bahwa perbedaan pandangan adalah hal wajar dalam demokrasi. Namun, ia berharap semua pihak tetap mengedepankan kepentingan nasional dan semangat gotong royong tanpa menyebarkan informasi yang dapat memecah belah masyarakat.

"Mari kita berjuang bersama untuk bangsa dan rakyat Indonesia," pungkasnya. (Ant/Z-1)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |