Sakit

6 hours ago 1
Sakit            Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

MATA Lionel Messi menerawang Minggu malam itu di Stadion New Jersey. Kesedihan terlihat jelas di wajahnya saat Argentina gagal untuk mempertahankan gelar juara dunia. Matanya merah dan air mata menggenangi pelupuk matanya.

Mimpi untuk menjadi orang kedua setelah Pele, yang bisa dua kali berturut-turut mengangkat Piala Dunia, tampak begitu kuat menjelang pertandingan final. Sepertinya kemenangan yang diraih sepanjang kejuaraan akan terus berlanjut. Delapan belas gol yang tercipta merupakan bukti ketajaman Argentina.

Jalan yang harus dilewati Albiceleste untuk lolos ke final jauh lebih mudah ketimbang Spanyol. Drawing setelah penyisihan grup menguntungkan Argentina. Mereka hanya bertemu tim-tim kuda hitam seperti Tanjung Verde (Tanjung Hijau), Mesir, dan Swis. Baru di semifinal tim asuhan Lionel Scaloni harus menghadapi tim favorit, yaitu Inggris.

Kekaguman pecinta sepak bola kepada Messi semakin menjadi karena mahabintang sepak bola itu begitu luar biasa. Ia mampu mempertunjukkan sentuhan emasnya. Selalu mampu untuk membalikkan keadaan dalam 10 menit terakhir. Pertama saat tertinggal 0-2 dari Mesir dan kedua di semifinal saat tertinggal 0-1 dari Inggris.

Namun, saat di final penampilan mereka justru antiklimaks. Argentina seperti Tanjung Verde saat menghadapi Spanyol. Mereka dipaksa untuk menerapkan 'parkir bus' guna menahan serangan bergelombang dari Rodrigo Hernandez dan kawan-kawan.

Cedera yang dialami dua center-back andalan Lisandro Martinez dan Cristian Romero menjadi awal malapetaka bagi Albiceleste. Pelatih Lionel Scaloni dipaksa melakukan pergantian yang tidak direncanakan.

Saat 45 menit pertama selesai, Messi sampai marah kepada rekannya. Argentina sama sekali tidak bermain bola. Mereka hanya mengejar-ngejar bola yang berpindah dari satu kaki ke kaki pemain Spanyol lainnya. Kalaupun bisa mematahkan serangan pemain 'La Furia Roja', hanya dalam beberapa detik bola sudah direbut lagi oleh pemain Spanyol.

Ternyata sampai 90 menit pertandingan berakhir, tidak ada satu pun tendangan pemain Argentina yang mengarah ke gawang Spanyol. Sebuah aib besar bagi tim sekelas Argentina yang dipimpin Messi.

Kesedihan Messi malam itu bukan sekadar disebabkan Argentina gagal untuk kembali mengangkat piala, melainkan juga Albiceleste kalah kelas dan dibuat seperti tim yang baru bermain sepak bola. Messi kalah dalam permainan dan kalah hasil pertandingan.

Sebuah akhir yang sangat menyakitkan bagi mahabintang sekelas Messi. Apalagi rekan-rekannya tampil sangat kasar bahkan di akhir pertandingan seperti tidak mau menerima kekalahan.

Pemain muda terbaik Piala Dunia 2022 Enzo Fernandez diganjar kartu merah karena tackling yang membahayakan keselamatan center-back Spanyol Pau Cubarsi. Leandro Paredes diberi kartu merah setelah pertandingan karena mencekik dan membanting gelandang Spanyol, Gavi.

TIDAK MUDAH 

Kalau saja Messi menuruti kata hatinya untuk gantung sepatu setelah membawa Argentina menjadi juara dunia di Qatar, tentu ceritanya akan menjadi lain. Semua orang akan mengenang Messi sebagai bintang besar yang mengakhiri kariernya di puncak.

Putusan seperti itulah yang membuat nama Pele menjadi begitu harum. Bukan hanya menjadi satu-satunya pemain yang merasakan tiga kali juara dunia, dia juga tahu kapan harus mundur dari gelangang. Setelah memimpin Brasil memenangi Piala Dunia 1970, Pele masih berusia 30 tahun. Namun, ia tahu bahwa usianya itu sudah terlalu tua untuk tampil lagi di Piala Dunia 1974. Apalagi ketika itu mulai muncul bintang sepak bola baru seperti Franz Beckenbauer dan Johan Cruyff.

Ketika Brasil tersingkir dari gelanggang di Jerman (Barat), orang tetap mengenang Pele sebagai bintang besar. Ia tidak perlu menangis karena kehilangan kebesarannya. Bahkan Pele kemudian menjadi duta sepak bola dengan bermain di klub Cosmos, New York, untuk memperkenalkan olahraga paling digemari di dunia ini kepada bangsa Amerika.

Messi tampil di Piala Dunia 2026 saat ia merayakan usia 39 tahun. Sebuah usia yang jauh dari ideal untuk permainan yang mengandalkan pada speed and power game. Dan terbukti, Messi sudah kehilangan kecepatan dan kekuatan seperti 10 tahun lalu.

Masa keemasan Messi sudah lewat jauh. Sekarang eranya Lamine Yamal, bayi berusia lima bulan yang hampir 20 tahun lalu ia mandikan. Minggu malam itu Yamal membuktikan bahwa sekarang dirinyalah yang menjadi bintang.

Sebuah pelajaran penting yang bisa dipetik, kita perlu tahu diri bahwa segala sesuatu ada akhirnya. Pilihan untuk mundur pada saat berada di puncak jauh lebih baik daripada tersingkir pada saat kita kalah. Memang tidak mudah untuk melepas ketenaran, menikmati kejayaan.

Banyak orang takut untuk kehilangan, takut untuk merasa kurang. Karena itulah orang selalu berupaya untuk terus berada di puncak. Bahkan sering kali godaan itu membuat orang menghalalkan segala cara. Kalau perlu merekayasa agar terus berada di puncak karena merasakan 'power is privilege, kekuasaan itu hak istimewa'.

Messi hanyalah sebuah cerita. Banyak bintang besar yang nasibnya seperti Messi. Sebut misalnya Diego Armando Maradona yang harus dicoret dari tim Argentina Piala Dunia 1994 karena terbukti doping.

Setiap masa ada orangnya, setiap orang ada masanya. Sekarang masanya bintang muda seperti Yamal, Cubarsi, Pedri, dan Nico Williams. Karena sepak bola adalah permainan dan 'anak-anak' akan selalu bermain dengan penuh kegembiraan.

Itulah yang kita lihat pada final Piala Dunia 2026. Para pemain Spanyol bermain begitu riang gembira. Tidak ada ketakutan yang terpancar di wajah mereka. Tim asuhan Luis de la Fuente menikmati permainan mereka dan kita pun pencinta sepak bola menikmati sebuah sepak bola yang indah.

Selamat datang sepak bola indah. Selamat datang juara baru. Viva Espana!

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |