Rencana FIFA Jual Saham Komersial Piala Dunia Tuai Kritik Keras UEFA dan Sepp Blatter

3 weeks ago 6
Rencana FIFA Jual Saham Komersial Piala Dunia Tuai Kritik Keras UEFA dan Sepp Blatter Presiden FIFA Gianni Infantino (kanan) saat upacara pemberian penghargaan setelah pertandingan final antara Spanyol dan Argentina di Piala Dunia FIFA 2026 di Stadion New York New Jersey, Amerika Serikat, Minggu (19/6/2026).(Xinhua)

RENCANA Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) untuk melepas sebagian kepemilikan bisnis komersial Piala Dunia dan turnamen internasional lainnya memicu gelombang kritik tajam. Langkah ini dinilai berbagai pihak, termasuk UEFA dan mantan Presiden FIFA Sepp Blatter, berpotensi menggerus independensi tata kelola sepak bola dunia serta membuka ruang konflik kepentingan yang lebar.

FIFA mengumumkan pembentukan entitas baru bernama FIFA Forward Enterprise (FFE). Badan ini dirancang khusus untuk mengelola aspek komersial dari Piala Dunia dan berbagai kompetisi di bawah naungan FIFA. Melalui skema FFE, FIFA berencana menjual saham minoritas kepada investor jangka panjang dengan target penghimpunan dana mencapai US$4,2 miliar (sekitar Rp68,4 triliun) pada akhir tahun ini.

Pemisahan Komersial dan Regulasi

Meski akan melibatkan investor luar, FIFA menegaskan tetap menjadi pemegang saham mayoritas dan memegang kendali penuh atas seluruh aspek olahraga. Dalam keterangannya, FIFA menyatakan bahwa FFE hanya akan mengelola sisi komersial. Sementara itu, seluruh keputusan strategis mengenai regulasi, kalender pertandingan, penyelenggaraan kompetisi, hingga tata kelola sepak bola tetap berada sepenuhnya di tangan FIFA.

Namun, jaminan tersebut tidak meredakan kekhawatiran. UEFA menjadi salah satu pihak yang paling vokal menolak gagasan ini. Federasi sepak bola Eropa tersebut menegaskan bahwa nilai-nilai dan tata kelola sepak bola tidak boleh diperlakukan sebagai komoditas dagang.

"Ini telah melewati batas yang seharusnya tidak pernah dilewati oleh lembaga pengelola sepak bola. UEFA memandang persoalan ini dengan sangat serius," tulis pernyataan resmi UEFA. Mereka menambahkan bahwa jiwa sepak bola bukanlah aset yang bisa diperjualbelikan tanpa transparansi mengenai siapa yang akan memperoleh keuntungan finansial.

Kritik Sepp Blatter dan Isu Konflik Kepentingan

Mantan Presiden FIFA, Sepp Blatter, turut memberikan kritik pedas. Ia menyoroti kedekatan Presiden FIFA saat ini, Gianni Infantino, dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Hal ini mencuat seiring laporan adanya investor asal AS, seperti Thrive Capital milik Joshua Kushner dan unit dari JP Morgan Chase, yang mulai menjajaki peluang masuk dalam proyek FFE.

"Hubungan erat antara Presiden FIFA dan Presiden Amerika Serikat kini telah memasuki dimensi finansial yang sangat merusak sepak bola. Tidak seorang pun berhak menjual permainan kita," tegas Blatter melalui media sosial.

Polemik semakin memanas setelah laporan The Times dan Financial Times menyebutkan adanya potensi Infantino menjabat sebagai komisaris FFE setelah masa jabatannya sebagai presiden berakhir. Meski Infantino diprediksi menjabat hingga 2031, FIFA langsung membantah kabar tersebut dan menegaskan pembahasan posisi itu tidak pernah dilakukan.

Valuasi dan Dampak ke Ekosistem Sepak Bola

Berdasarkan data yang dihimpun, valuasi awal FFE diperkirakan mencapai US$20 miliar (sekitar Rp325,8 triliun). FIFA juga menawarkan kesempatan kepada 211 asosiasi anggotanya untuk membeli saham senilai US$20 juta atau sekitar 0,1% kepemilikan. Skema ini diharapkan dapat meningkatkan total pendanaan pengembangan FIFA menjadi lebih dari US$10 miliar dalam empat tahun ke depan.

Kekhawatiran Utama Pihak Penolak:

  • Investor mungkin mendorong penambahan jumlah peserta turnamen demi keuntungan.
  • Frekuensi penyelenggaraan Piala Dunia yang lebih sering.
  • Potensi perluasan Piala Dunia 2030 menjadi 64 peserta.
  • Konflik kepentingan dalam pengambilan keputusan regulasi vs komersial.

Rencana pembentukan FFE ini masih memerlukan persetujuan dari Dewan FIFA yang beranggotakan 38 orang serta mayoritas dari 211 asosiasi anggota. Jika disetujui, langkah ini akan menjadi perubahan struktural terbesar dalam sejarah pendanaan sepak bola global, yang menurut sumber senior di industri ini, dampaknya bisa menjangkau hingga ke level akar rumput. (AFP/Dhk/I-1)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |