Sultan Peringatkan Wisatawan Tak Mendaki Gunung Merapi

4 hours ago 2

GUBERNUR Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X meminta masyarakat terutama wisatawan tidak nekat melakukan aktivitas pendakian ke Gunung Merapi. Imbauan ini menyusul beredarnya informasi aktivitas pendakian jalur mandiri akhir Juni lalu di tengah masih meningkatnya aktivitas vulkanik.

Gunung Merapi tercatat masih meluncurkan awan panas guguran selama dua hari berturut, Rabu dan Kamis, 1-2 Juli 2026. "Saya meminta untuk masyarakat terutama wisatawan jangan naik ke atas (mendaki Merapi)," kata Sultan, Kamis, 2 Juli 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Raja Keraton Yogyakarta itu menuturkan, dengan situasi Merapi saat ini yang masih level III atau Siaga, kondisinya sangat membahayakan jika berada di zona larangan. "Kalau mau berwisata tetap di area aman, bukan di atas," ujarnya menambahkan.

Menurut Sultan, berbeda dengan warga setempat yang umumnya sudah memahami karakteristik serta dinamika bahaya Merapi, para wisatawan luar daerah yang berniat berlibur sering kali belum mengetahui perkembangan aktivitas terkini. Sehingga kewaspadaan ekstra sangat diperlukan agar mereka tetap aman dari ancaman material vulkanik.

"Kalau masyarakat sekitarnya sudah paham, tapi untuk pendatang mungkin banyak yang belum tahu, sekedar mau berlibur, saya harap jangan naik," kata dia.

Sultan meyakini masyarakat sekitar gunung itu tidak ada yang melanggar aturan memasuki zona bahaya. Terutama melihat rata-rata jangkauan awan panas yang bersifat efusif atau leleran dari puncak gunung hingga 2,0-2,5 kilometer. Adapun rata-rata aktivitas dan permukiman warga lereng Merapi sudah di luar radius bahaya itu.

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat adanya aktivitas awan panas guguran selama dua hari berturut-turut, yakni pada Rabu dan Kamis, 1-2 Juli 2026. Awan panas meluncur sejauh 2.000 meter ke arah hulu Kali Sat atau Putih di sektor barat pada Rabu pukul 13.05 WIB dengan durasi 171,16 detik. Disusul luncuran berikutnya sejauh 1.700 meter ke arah hulu Kali Krasak di sektor barat daya pada Kamis pukul 06.01 WIB dengan durasi 139,58 detik.

Kepala BPPTKG Yogyakarta Agus Budi Santoso menuturkan penutupan jalur pendakian oleh Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) hingga saat ini menjadi langkah mitigasi utama yang wajib dipatuhi. "Sebab potensi letusan eksplosif sewaktu-waktu tetap tinggi akibat potensi sumbatan magma yang memicu akumulasi tekanan gas di dalam kawah," kata Agus, Kamis.

Agus, menjelaskan bahwa jangkauan lontaran material jika terjadi erupsi eksplosif dapat mencapai radius 3 kilometer dari puncak dan berpotensi menyasar area yang selama ini menjadi batas akhir pendakian. 

Secara historis dalam tiga abad terakhir, tipe eksplosif merupakan yang paling sering terjadi pada erupsi Merapi. Bahkan pasca erupsi 2010 telah tercatat sebanyak 32 kali erupsi eksplosif yang didominasi oleh aktivitas freatik.

Pihaknya juga mengimbau masyarakat untuk menjauhi sektor selatan hingga barat daya yang meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal 7 kilometer. Sementara untuk sektor tenggara mencakup Sungai Woro sejauh maksimal 3 kilometer dan Sungai Gendol sejauh 5 kilometer. 

Selain menghindari zona bahaya tersebut, warga juga diminta mengantisipasi paparan abu vulkanik serta tetap mewaspadai potensi banjir lahar hujan dan awan panas guguran yang dipicu oleh suplai magma yang masih berlangsung terus-menerus.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |