SUSANNA Nurdjaman dan timnya dari Institut Teknologi Bandung (ITB) membuat bangunan seperti oven besar untuk mempercepat proses pengeringan produk laut. Model bangunan oven itu ada yang dilengkapi pemanas ruangan dengan tenaga surya serta memanfaatkan limbah botol plastik sebagai dinding.
“Tempatnya bisa untuk pengeringan rumput laut, pengolahan ikan asin, kerupuk, dan garam,” kata dosen di kelompok keahlian oseanografi lingkungan dan terapan ITB itu kepada Tempo, Rabu 6 Mei 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Bangunan terbaru yang berkonsep dry oven itu berdiri di Desa Muara, Kabupaten Cirebon, pada 4 April lalu. Berukuran 5 x 2 setinggi 3 meter, ruangannya dilengkapi pemanas bertenaga surya hasil tangkapan panel yang disimpan dalam aki.
Penataan rumput laut di dalam bangunan pengering di Desa Muara, Cirebon, April 2026. Dok. Tim ITB
Dinding bangunan terbuat dari seng dengan tiang memakai baja ringan dan atap menggunakan material yang transparan seperti rumah kaca sehingga sinar matahari bisa masuk dan panasnya terkumpul. “Panas utamanya dari matahari langsung, tambahannya dari pemanas tenaga panel surya,” ujarnya.
Selain itu, rumah oven tersebut bisa digunakan ketika hari mendung atau hujan. Pengeringan juga dinilai lebih higienis karena berlangsung di dalam ruangan. Namun, sebagai bangunan contoh, Susanna mengakui kapasitas untuk produk laut yang akan dikeringkan masih sedikit.
Menurutnya, model bangunan bisa dikembangkan ke ukuran yang lebih besar sesuai kebutuhan dan dipakai secara komunal. “Kalau panen rumput laut kan tidak setiap hari, hari lain bisa untuk proses pengeringan produk lain,” kata dia.
Seorang petambak udang dan ikan di Desa Muara, Wahyudi, mengakui rumah oven itu bisa membantu proses pengeringan meskipun jumlahnya masih terbatas. Dari sekitar 1-2 ton hasil panen rumput laut, misalnya, yang bisa masuk ke ruang pengeringan itu berkisar 2-3 kuintal.
Budi daya rumput laut itu dilakukan oleh kebanyakan petani tambak. Kolam mereka bercampur dengan udang atau ikan bandeng. Di saat hari panas, menurut Wahyudi, lama pengeringan rumput laut di luar dan di dalam ruangan oven hampir sama sekitar 2-3 hari. “Bangunan itu mengatasi masalah pengeringan waktu cuaca hujan,” ujarnya.
Dalam dua tahun terakhir Susanna menerapkan metode pengeringan sederhana itu di beberapa wilayah pesisir dengan beragam model dan ukuran, seperti 3 x 4 meter.
Rumah garam berskala rumahan, misalnya, digunakan untuk mengeringkan air laut bagi petambak garam di Cirebon, Maluku, Nusa Tenggara Timur. Di dalamnya dipasang rak bertingkat sehingga hemat tempat dan lebih cepat untuk pengeringan. “Kualitas (grade) garamnya lebih bagus dan lebih bersih,” kata Susanna.
Dari hasil uji coba yang dilakukan, pengeringan di dalam ruangan seperti green house itu menghasilkan 300-500 kilogram. Dengan cara biasa, yaitu penjemuran di luar ruangan, diperlukan waktu sekitar 2-4 minggu. “Kalau hujan, penjemurannya diulang,” kata Susanna. Sedangkan penjemuran rumah garam sudah bisa menghasilkan dalam waktu sepekan.
Selain bahan logam sebagai penutup dinding, Susanna juga memakai botol plastik bekas yang disusun hingga rapat. Selain untuk mengatasi limbah plastik, biaya pembuatan rumah oven pun menjadi lebih murah. Menurutnya, bahan lain bisa dikembangkan untuk dipakai. Dari beberapa rumah oven yang dibuatnya, kisaran biayanya sekitar Rp 5-50 juta.





























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3642128/original/083822000_1637681616-2_000_Hkg660630.jpg)








:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5502638/original/046269700_1770993794-vickery.jpg)









