Lindsey Graham.(Al Jazeera)
DALAM pertemuan di KTT NATO di Turki bulan ini, mendiang Senator Lindsey Graham menyampaikan satu permintaan khusus kepada Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Graham meminta Zelensky, yang dijadwalkan berbicara dengan Presiden Donald Trump pada hari yang sama, untuk mempromosikan rancangan undang-undang (RUU) sanksi keras terhadap ekonomi perang Rusia.
Langkah itu menjadi misi terakhir Graham sebelum ia meninggal dunia akibat kondisi jantung tak lama setelah kembali dari Ukraina. Kini, RUU yang dijuluki sebagai 'sanksi dari neraka' tersebut memperoleh momentum besar di Washington sebagai bentuk penghormatan atas kegigihan sang senator dari Partai Republik tersebut.
Terobosan di Senat dan Dukungan Gedung Putih
Pada Selasa (28/7), Senat Amerika Serikat memberikan suara 86 berbanding 12 untuk memproses paket legislasi tersebut. RUU ini memberikan wewenang kepada pemerintah untuk mengenakan tarif hingga 100 persen pada lima pembeli utama minyak dan gas alam Rusia. Selain itu, atas desakan pemerintahan Trump, sanksi juga diperluas untuk mencakup Iran.
Senator Richard Blumenthal, rekan lama Graham dalam menyusun legislasi ini, mengenang antusiasme Graham saat mengetahui Gedung Putih akhirnya memberikan dukungan. "Dia berkata kepada saya, 'Ini kesepakatan yang sangat besar. Kita semua melakukan hal yang baik'," ujar Blumenthal menirukan ucapan Graham.
Perjalanan Panjang Menuju Kesepakatan
Keberhasilan RUU itu tidak datang dengan mudah. Selama lebih dari satu tahun, negosiasi terus mengalami kebuntuan. Awalnya, RUU ini mengusulkan tarif hingga 500 persen untuk pembeli uranium dan energi Rusia, tetapi sempat tertahan karena keraguan Demokrat mengenai pemberian wewenang perdagangan yang terlalu besar kepada Trump.
Titik balik terjadi setelah serangkaian lobi intensif yang dilakukan Graham terhadap Trump dan Departemen Keuangan AS. Senator Jeanne Shaheen mengungkapkan bahwa Graham memiliki hubungan terbaik dengan presiden untuk menjembatani dukungan antara Kongres dan Gedung Putih. Departemen Keuangan, yang awalnya khawatir akan dampak ekonomi terhadap AS, akhirnya mencabut keberatan mereka setelah pertemuan di Ankara, Turki.
Poin Utama RUU Sanksi Graham:
- Tarif hingga 100% bagi lima pembeli teratas minyak dan gas Rusia.
- Perluasan sanksi terhadap Iran.
- Wewenang bagi presiden untuk menekan ekonomi perang Rusia secara agresif.
Sinyal Dukungan untuk Ukraina
Presiden Zelensky, yang menghadiri pemakaman Graham sebelum bertemu dengan Senat, menegaskan bahwa legislasi ini bukan sekadar soal uang. "Ini sinyal besar dukungan AS untuk Ukraina dan Eropa," kata Zelensky. Ia berharap tekanan finansial ini dapat memaksa Presiden Rusia Vladimir Putin untuk merundingkan penyelesaian invasi yang kini memasuki tahun kelima.
Meskipun mendapat dukungan luas, RUU ini tetap menghadapi kritik. Perwakilan Demokrat Gregory Meeks menyebutnya sebagai kuda troya untuk otoritas tarif yang bisa disalahgunakan. Sementara itu, analis ekonomi seperti Richard Connolly dari Royal United Services Institute meragukan efektivitas sanksi dalam menghentikan invasi, mengingat ada potensi pasar gelap dan permintaan global yang tetap tinggi terhadap minyak mentah Rusia.
Namun bagi para pendukungnya, RUU yang kini dinamai untuk menghormati Graham itu merupakan kemenangan kebijakan luar negeri yang langka di tengah perpecahan Kongres. "Ini bukan akhir, bahkan mungkin bukan awal dari akhir," kata Blumenthal. "Namun Putin tidak lagi tampak tidak tersentuh." (The Washington Post/I-2)


















































