Aksi Mahasiswa UI Tertahan di Dukuh Atas

2 hours ago 3

MAHASISWA Universitas Indonesia turun ke jalan sehari setelah Indonesia merayakan 81 tahun kemerdekaan. Selasa, 18 Agustus 2026, mahasiswa bergerak menuju Bundaran HI dengan membawa delapan tuntutan. Di Dukuh Atas, langkah mereka tertahan barikade polisi.

Ketua BEM UI 2026 Yatalathof Ma’shum Imawan sempat bernegosiasi dengan aparat. Polisi kemudian mengizinkan massa bergerak perlahan menuju Bundaran HI. Namun, mahasiswa tetap tertahan meski maju beberapa langkah demi beberapa langkah.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

“Rakyat Bersatu Tak Bisa Dikalahkan” menggema dari barisan massa. Seruan itu disusul hentakan satu komando, “Buka, buka, bukaa jalannya. Buka jalannya sekarang juga.” Teriakan tersebut diulang massa ketika berhadapan dengan barisan polisi.

Pantauan Tempo menunjukkan polisi mundur lima langkah atas komando pimpinan lapangan. Mahasiswa mengikuti dengan maju. Di depan mereka, pagar besi tinggi dipasang untuk menutup akses dari Jalan Jenderal Sudirman menuju Bundaran HI.

Dalam orasinya, mahasiswa menyebut aksi tersebut sebagai upaya merebut kembali kemerdekaan yang mereka nilai tergerus oleh negara. Kritik diarahkan kepada kepolisian, TNI, dan pejabat pemerintah.

Massa juga menyanyikan lagu bernada ejekan terhadap Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Keduanya disebut gagal menjalankan pemerintahan.

Delapan tuntutan menjadi dasar aksi mahasiswa UI. Mereka menyerukan penghentian apa yang disebut sebagai “penjajahan negara atas rakyat sendiri” dan pemberantasan korupsi, kolusi, serta nepotisme. Mereka juga menuntut reforma agraria, penurunan harga kebutuhan pokok dan BBM, serta evaluasi total Proyek Strategis Nasional dan penghentian program Makan Bergizi Gratis serta Koperasi Desa Merah Putih.

Mahasiswa turut menolak pemusatan kekuasaan dan pemangkasan Transfer ke Daerah, serta menuntut pengembalian otonomi daerah. Mereka meminta pemerintah menetapkan status bencana nasional untuk wilayah Sumatra dan Flores serta mempercepat pemulihan daerah terdampak.

Tuntutan terakhir menyasar aparat keamanan. Mahasiswa meminta penghentian tindakan represif dan intervensi TNI-Polri di ruang sipil serta pembubaran Yonif Teritorial Pembangunan atau YON-TP.

Delapan tuntutan itu memperlihatkan luasnya kritik yang dibawa mahasiswa UI, dari harga kebutuhan pokok, korupsi, agraria, dan kebijakan pemerintah hingga batas keterlibatan aparat dalam ruang sipil. Di Dukuh Atas, kritik tersebut bertemu dengan barikade polisi sebelum massa mencapai Bundaran HI.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |