INFO TEMPO - Pemerintah Kabupaten Malinau tidak hanya membangun jalan, jembatan dan fasilitas publik, tetapi juga membangun sumber daya manusia (SDM) yang unggul. Melalui Program Desa Sarjana Unggul (PDSU), Bupati Malinau Wempi W. Mawa menempatkan pendidikan tinggi sebagai investasi jangka panjang untuk mencetak SDM yang kelak dapat membangun daerah asalnya.
“Pembangunan bukan hanya membangun fisik, tetapi juga membangun manusia. Karena manusia inilah yang nantinya akan melanjutkan pembangunan daerah," kata Bupati Wempi.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Bagi sebagian keluarga, menyekolahkan anak ke perguruan tinggi berarti harus menanggung biaya kuliah sekaligus biaya hidup, transportasi, tempat tinggal dan kebutuhan sehari-hari. Itu sebabnya, kemampuan ekonomi sering kali ikut menentukan.
Kondisi inilah yang ingin diputus oleh Pemkab Malinau melalui PDSU. Program tersebut memberikan dukungan pembiayaan pendidikan bagi mahasiswa Malinau yang menempuh pendidikan tinggi, baik di dalam maupun di luar daerah.
Bupati Wempi melihat, pendidikan sebagai instrumen penting untuk membuka kesempatan yang lebih adil bagi anak-anak daerah. “Jangan sampai anak-anak kita tidak bisa melanjutkan pendidikan hanya karena persoalan biaya. Pemerintah harus hadir memberikan kesempatan agar mereka bisa mencapai cita-citanya," ujarnya.
Karena itu, PDSU bukan sekadar persoalan membayar biaya kuliah. Program tersebut adalah upaya membuka pintu yang sebelumnya sulit dijangkau.
Ada satu gagasan penting yang membedakan PDSU dari sekadar bantuan pendidikan. Penerima manfaat tidak hanya diproyeksikan menjadi sarjana.
Mereka diharapkan kembali membawa ilmu, keahlian, pengalaman dan gagasan ke daerah asal. Dengan demikian, pendidikan tidak berhenti di ruang kuliah.
Ilmu harus kembali ke desa. Konsep tersebut sejalan dengan orientasi pembangunan Kabupaten Malinau yang menempatkan masyarakat desa sebagai bagian penting dari pembangunan daerah.
Bupati Wempi menegaskan, pentingnya anak-anak daerah yang memperoleh kesempatan pendidikan tinggi, untuk nantinya memberikan manfaat kepada masyarakat tempat mereka berasal. "Anak-anak kita yang sekolah itu nantinya diharapkan kembali dan membangun desanya. Karena mereka berasal dari desa, maka ilmu yang diperoleh juga harus memberikan manfaat bagi desa."
Konsep ini menjadi penting bagi Malinau. Daerah membutuhkan dokter yang memahami karakter masyarakat lokal, guru yang memahami kondisi pendidikan pedalaman.
Selain itu, daerah juga membutuhkan tenaga teknik, pertanian, kehutanan, ekonomi, hukum dan bidang profesional lainnya yang tidak hanya memiliki ijazah, tetapi memahami persoalan daerah.
Karena itu, seorang penerima PDSU tidak seharusnya dipandang hanya sebagai penerima bantuan. Ia adalah calon aset pembangunan.
Bupati Wempi melihat, pembangunan SDM di Kabupaten Malinau sebagai investasi yang menentukan masa depan daerah. Pandangan tersebut menempatkan PDSU dalam kerangka pembangunan yang lebih besar. Pemkab Malinau tidak hanya mengejar angka lulusan perguruan tinggi, tapi sedang membangun rantai pembangunan pendidikan, kompetensi, pengabdian dan pembangunan daerah.
Pada awal pelaksanaan program ini di 2021, jumlah pendaftar masih berada pada kisaran puluhan orang. Namun di 2026 terdapat 1.027 pendaftar. Dari jumlah itu, sebanyak 664 calon peserta dinyatakan lolos verifikasi administrasi untuk mengikuti tahapan berikutnya.
“Kita ingin anak-anak yang mendapatkan kesempatan ini benar-benar memanfaatkan pendidikan dengan baik dan nantinya bisa memberikan kontribusi untuk daerah," kata Bupati Wempi.
Bupati Wempi, mengatakan penerima program diharapkan tidak melupakan daerah asal setelah menyelesaikan pendidikan. “Kita ingin mereka kembali ke daerah. Ilmu yang mereka dapatkan jangan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi harus bisa bermanfaat untuk masyarakat dan pembangunan Malinau,” ujarnya.
Harapan ini menjadi penting, karena investasi pendidikan baru benar-benar menghasilkan ketika ilmu yang diperoleh berubah menjadi kerja nyata. (*)


















































