Program Desa Sarjana Unggul Jadikan Anak Desa Membangun Kabupaten Malinau

2 hours ago 1

INFO TEMPO - Program Desa Sarjana Unggul (PDSU) di Kabupaten Malinau membuktikan bahwa pendidikan tinggi tidak lagi menjadi mimpi bagi anak-anak desa. Minat masyarakat terhadap program ini pun meningkat signifikan.

Pada 2021 masyarakat yang mendaftar PDSU hanya 49 orang, lima tahun kemudian melonjak menjadi 1.027 pendaftar pada 2026. Program ini menjadi salah satu prioritas Bupati Malinau Wempi W. Mawa karena untuk membiayai anak desa agar menjadi sarjana dan mengembalikan pengetahuan dan keahlian mereka untuk pembangunan desa.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Di titik inilah PDSU memiliki konsekuensi yang lebih besar. Beasiswa bukan sekadar bantuan biaya kuliah, melainkan investasi pemerintah terhadap sumber daya manusia (SDM) yang kelak diharapkan kembali menjadi bagian dari pembangunan di kampung halamannya.

Salah satu hasil nyata program ini terlihat dari pengalaman Lili Mersi Merang, warga Desa Nawang Baru. Mahasiswi Jurusan Gizi ini pernah berada dalam situasi ketika pendidikan tinggi yang sedang ditempuhnya terancam berhenti. Persoalan biaya membuat keluarganya kesulitan mempertahankan keberlangsungan kuliah.

Pendidikan yang telah diperjuangkan hampir saja terhenti bukan karena kemampuan akademik, melainkan karena keterbatasan ekonomi. Keadaan pun berubah ketika Lili mengetahui adanya PDSU.

Dia kemudian mendaftar pada 2024 dan berhasil menyelesaikan pendidikannya pada 2026. Baginya, kelulusan bukan sekadar akhir perjalanan sebagai mahasiswa. Lili ingin membawa pengetahuan di bidang gizi ke Desa Nawang Baru. 

Salah satu fokus yang ingin dilakukannya adalah memperkuat edukasi masyarakat mengenai pola makan sehat, terutama bagi ibu hamil, sekaligus ikut mendorong pencegahan stunting pada balita. “Masih banyak masyarakat yang menganggap yang penting makan, tanpa memperhatikan kecukupan gizi. Saya ingin memberikan edukasi mengenai pola hidup sehat dan membantu menekan angka stunting di Desa Nawang Baru,” kata Lili.

Penerima manfaat lainnya, Chrisdanika Toni, yang juga berasal dari Desa Nawang Baru, mengatakan, PDSU memiliki arti yang sangat besar baginya. Sebab, kondisi ekonomi keluarganya tidak memungkinkan untuk orang tua dengan membiayai pendidikan tinggi dua anak sekaligus. Apalagi, dia berasal dari keluarga petani. 

“PDSU tentu sangat membantu, terlebih lagi saya berasal dari keluarga petani di mana ada juga saudara yang sedang berkuliah sehingga orang tua kesulitan untuk membiayai dua orang anaknya yang sedang menempuh pendidikan tinggi,” ujar Chrisdanika.

Dukungan beasiswa membuat kesempatan untuk menyelesaikan pendidikan tinggi tetap terbuka. Chrisdanika berhasil menempuh pendidikan dan menyelesaikan studi D3 Farmasi.

Namun, gelar pendidikan baginya bukan tujuan akhir. Ada tanggung jawab yang ikut melekat setelah menyelesaikan pendidikan, terutama karena ilmu yang diperolehnya memiliki keterkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat desa.

Chrisdanika berencana membawa pengetahuan farmasi yang dimilikinya kembali ke Desa Nawang Baru. Dia ingin memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya memahami penggunaan obat secara benar.

“Ilmu yang saya dapatkan selama berkuliah akan digunakan untuk mengedukasi warga di Desa Nawang Baru akan pentingnya obat-obatan, memahami tata cara mengonsumsi sesuai dengan resep, apalagi masih banyak orang yang kurang memahami terkait pengobatan,” ujarnya.

Penerima manfaat lainnya, Dika Stephanie Christine, Desa Setulang yang memilih studi Kehutanan. Bagi Dika, PDSU bukan sekadar jalan untuk mendapatkan gelar sarjana. Pendidikan yang dibiayai pemerintah harus memiliki tujuan lebih besar ketika seorang penerima manfaat kembali ke daerah asal.

Setelah menyelesaikan masa magang di kantor Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malinau, Dika akan menjalani pengabdian selama enam bulan di desa asalnya. Di sanalah pengetahuan kehutanan yang diperolehnya di perguruan tinggi akan diuji dalam konteks nyata.

Dika ingin membantu pemerintah desa mengembangkan potensi kawasan hutan, sekaligus memperkuat pemahaman masyarakat mengenai pengelolaan sumber daya alam (SDA) secara berkelanjutan. “Ilmu yang saya pelajari di kampus nantinya ingin saya terapkan untuk membantu desa, mengelola sumber daya hutan secara baik dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ucap Dika.

Adapun, Urai, penerima manfaat PDSU dari Desa Wisata Setulang, melihat pendidikan sebagai modal untuk membuka peluang baru bagi masyarakat. Mahasiswi Pendidikan Bahasa Inggris angkatan 2024 itu, mengaku kesempatan melanjutkan pendidikan tinggi menjadi lebih terbuka setelah memperoleh dukungan melalui PDSU.

Beasiswa tersebut membantu memenuhi kebutuhan kuliah, sekaligus biaya tempat tinggal selama menjalani pendidikan. “Saya ingin membuka les bahasa Inggris untuk anak-anak maupun masyarakat yang ingin belajar. Harapannya, kemampuan itu bisa mendukung pengembangan desa wisata dan masyarakat juga lebih siap menjadi pemandu wisata,” kata dia. (*)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |