Burung Endemik Selandia Baru Berubah Jenis 1 Juta Tahun Lalu

8 hours ago 2

PENEMUAN fosil di sebuah gua di Pulau Utara, Selandia Baru, mengungkap bahwa pergantian spesies burung telah terjadi sekitar satu juta tahun lalu di negeri itu, jauh sebelum kedatangan manusia. Temuan ini sekaligus mengisi kekosongan catatan fosil yang selama ini menyulitkan ilmuwan mengetahui kapan perubahan besar pada satwa endemik Selandia Baru mulai terjadi.

Tim peneliti yang dipimpin paleontolog dari Flinders University, Trevor Worthy, melakukan penggalian di Moa Eggshell Cave, sebuah gua di dekat kawasan Waitomo. “Bagian paling menarik adalah fosil-fosil tersebut terperangkap di antara dua lapisan abu vulkanik yang usianya telah diketahui secara pasti,” kata Worthy seperti dilaporkan Earth, 23 Juni 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Lapisan abu yang lebih tua berasal dari letusan Gunung Ngaroma sekitar 1,55 juta tahun lalu, sedangkan lapisan yang lebih muda berasal dari letusan Gunung Kidnappers sekitar satu juta tahun lalu. Artinya, seluruh fosil yang berada di bawah lapisan abu muda dipastikan berusia lebih dari satu juta tahun.

Peneliti juga menemukan fosil empat spesies katak asli Selandia Baru dari genus Leiopelma. Seluruh spesies tersebut masih memiliki bentuk yang sama dengan katak yang hidup di wilayah itu hingga masa yang jauh lebih baru, menunjukkan perubahan evolusi yang sangat kecil selama satu juta tahun.

Sebaliknya, fosil burung memperlihatkan perubahan yang jauh lebih besar. Dari 21 tulang yang berhasil diidentifikasi, tim menemukan 12 jenis burung. Sedikitnya empat, dan kemungkinan enam spesies, tidak pernah lagi muncul pada situs fosil yang lebih muda di Selandia Baru.

Temuan itu menunjukkan sekitar sepertiga hingga setengah spesies burung yang hidup di sekitar Waitomo satu juta tahun lalu kemudian menghilang dari catatan fosil. Sebagian diperkirakan punah, sebagian digantikan spesies lain, sementara lainnya berevolusi menjadi burung yang masih hidup hingga kini.

Penelitian tersebut juga mengidentifikasi dua spesies baru. Salah satunya adalah Strigops insulaborealis, kerabat purba burung kakapo yang diperkirakan memiliki kemampuan memanjat lebih buruk dibandingkan spesies modern. Spesies lainnya adalah burung rail besar yang tidak dapat terbang, Porphyrio claytongreenei, yang diduga merupakan nenek moyang bersama burung takahe yang masih hidup dan moho yang telah punah.

Para peneliti menduga perubahan besar pada populasi burung dipicu kombinasi perubahan iklim dan aktivitas vulkanik. Sekitar satu juta tahun lalu, letusan Kidnappers menutupi sekitar 44.000 kilometer persegi Pulau Utara dengan abu vulkanik setebal sekitar 10 meter. Beberapa dekade kemudian, letusan lain kembali menumpuk material vulkanik di wilayah tersebut.

Rangkaian letusan itu diduga memisahkan populasi burung dalam waktu lama sehingga mendorong mereka berevolusi ke jalur yang berbeda, sementara katak tetap bertahan dengan perubahan yang sangat kecil.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Alcheringa: An Australasian Journal of Palaeontology pada Januari lalu tersebut dinilai menjadi bukti bahwa pergantian spesies burung di Selandia Baru telah berlangsung jauh sebelum kedatangan manusia yang kemudian memicu gelombang kepunahan satwa endemik di negara itu. 

“Temuan ini masih merupakan gambaran awal karena penggalian baru dilakukan pada sebagian kecil lantai gua, sehingga masih terbuka peluang ditemukannya lebih banyak spesies pada penelitian berikutnya,” ucap Worthy.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |