KELOMPOK masyarakat Generasi Z tercatat sebagai kelompok usia yang paling berani menegosiasikan gaji. Temuan yang dipaparkan dalam Laporan “Salary Pulse” dari Jobstreet, juga menunjukkan bahwa Gen Z yang lahir pada 1997-2012 memprioritaskan kesejahteraan diri, keseimbangan kerja dan hidup, serta hubungan yang baik dengan rekan kerja dalam menentukan kepuasan mereka di tempat kerja.
"Hampir separuh dari Gen Z merasa gajinya sudah layak, tapi mereka berani menegosiasikan gaji mereka," kata Acting Managing Director Jobstreet by SEEK Wisnu Dharmawan pada acara Media Briefing mengenai pemaparan data Laporan Eksklusif "Salary Pulse" 23 Juni 2026 di Jakarta.
Wisnu menambahkan kondisi itu berkebalikan dengan Gen X yang rata-rata lahir pada 1965–1980. Mereka sebenarnya hanya sedikit yang merasa gajinya layak, tetapi yang berani untuk memulai pembahasan soal gaji itu justru lebih sedikit.
Berdasarkan laporan tersebut, 49 persen Gen Z merasa gajinya sudah layak. Selain itu, 60 persen Gen Z sudah memulai diskusi tentang gaji. Sementara itu, hanya 41 persen Gen X yang merasa gajinya sudah layak, namun angka yang sudah memulai diskusi terkait gaji lebih sedikit, yaitu di angka 37 persen.
Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) Mei 2025, Generasi Z bersama sebagian generasi milenial menjadi kelompok dengan tingkat pengangguran tertinggi di Indonesia. Tingkat pengangguran di kalangan Gen Z tercatat mencapai 16 persen.
"Kalau kita bicara soal Gen Z, sebenarnya ada dua kelompok, yaitu mereka yang sudah bekerja dan mereka yang masih mencari pekerjaan," ucap Wisnu Dharmawan saat ditanya mengenai hubungan antara ketatnya persaingan lapangan pekerjaan di kalangan Gen Z dengan tingginya keberanian Gen Z dalam menegosiasikan gaji.
"Kalau Gen Z yang sudah bekerja, karena punya pengalaman, jadi punya competitive advantage. Jadi experience-nya kan juga ada value-nya sehingga mungkin mereka memang berani untuk inisiatif diskusi," lanjut Wisnu Dharmawan.
Laporan Workplace Happiness Index oleh Jobstreet menyebutkan bahwa Gen Z menempatkan kesejahteraan diri, keseimbangan antara kehidupan dan pekerjaan (work-life balance), serta hubungan dengan rekan kerja sebagai faktor penting yang menentukan kepuasan mereka dalam bekerja.
Dengan demikian, bagi Generasi Z, kebahagiaan di tempat kerja tidak hanya ditentukan oleh jenis pekerjaan yang dijalani, tetapi juga oleh sejauh mana pekerjaan tersebut memberikan makna, keseimbangan hidup, dan rasa memiliki dalam lingkungan kerja sehari-hari.





























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5414491/original/012054700_1763287155-530668458_18471777553074306_380593477510268437_n__1_.jpg)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5495647/original/074499000_1770385031-barba.jpeg)












:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5469567/original/092858600_1768130667-4.jpg)



