Icha Riyani Bagikan 7 Strategi Buat Konten Review Skincare Tembus Jutaan Penonton

2 hours ago 1
Icha Riyani Bagikan 7 Strategi Buat Konten Review Skincare Tembus Jutaan Penonton Ilustrasi(Dok Istimewa)

KONTEN review skincare kini tidak hanya menjadi cara untuk berbagi pengalaman menggunakan produk. Jika dikemas dengan tepat, konten tersebut juga bisa menarik perhatian jutaan pengguna media sosial. Hal itu pula yang ditekuni Icha Riyani, kreator konten yang kini memiliki sekitar 5,6 juta pengikut di TikTok.

Icha Riyani atau Ica Suryani dikenal melalui konten daily vlog, review produk, hingga ulasan skincare dan bodycare. Perempuan kelahiran 2 Maret 1997 itu mengawali perjalanan sebagai kreator sejak 2019, ketika dirinya mencoba membuat video slowmo karena iseng.

Kini, kontennya telah berkembang jauh. Dari sekadar video hiburan, Icha mulai aktif membuat konten review yang mengandalkan pengalaman pribadi dan dikemas dengan gaya yang dekat dengan keseharian. “Saya awalnya tidak pernah berpikir akan menjadi kreator konten. Dulu cuma iseng bikin video. Setelah mulai mendapatkan respons dari penonton, saya belajar bagaimana membuat konten yang lebih menarik dan akhirnya banyak membuat konten review,” ujar Icha.

Bagi Icha, membuat konten review skincare tidak cukup hanya dengan menunjukkan produk kepada kamera. Ada sejumlah hal yang menurutnya perlu diperhatikan agar sebuah video mampu membuat pengguna berhenti scrolling dan tertarik menonton hingga selesai.

Berikut tujuh strategi yang dapat menjadi perhatian dalam membuat konten review skincare ala Icha Riyani.

1. Mulai dengan Masalah yang Dekat dengan Penonton

Menurut Icha, salah satu hal yang penting dalam membuat konten review adalah memahami masalah yang sedang dialami audiens. Alih-alih langsung menunjukkan kemasan produk, pembukaan video dapat dimulai dengan persoalan yang familiar, seperti kulit mudah berminyak, muncul jerawat, bekas jerawat, kulit terasa kering atau bingung memilih produk tertentu.

Cara tersebut membuat penonton merasa konten yang muncul di layar berkaitan dengan kebutuhan mereka.

“Menurut saya, orang akan lebih tertarik kalau dari awal merasa, ‘Ini masalah saya juga’. Jadi sebelum membahas produknya, kita harus tahu dulu apa yang biasanya menjadi masalah penonton,” jelas Icha. Dengan pendekatan tersebut, review tidak sekadar menjadi promosi produk. Konten terasa seperti memberikan solusi atas persoalan yang memang sering dialami audiens.

2. Jangan Bertele-tele di Awal Video

Persaingan mendapatkan perhatian pengguna TikTok membuat beberapa detik pertama menjadi bagian penting dalam sebuah konten. Icha menilai pembukaan yang terlalu panjang berisiko membuat penonton langsung melewati video. Karena itu, inti persoalan sebaiknya segera disampaikan.

“Kalau di awal terlalu panjang, orang bisa langsung skip. Saya biasanya berusaha langsung masuk ke poin yang ingin dibahas supaya orang tahu video ini tentang apa,” kata Icha.

Misalnya, daripada memulai dengan perkenalan panjang, kreator dapat langsung menyampaikan pengalaman atau pertanyaan yang membuat penonton penasaran. Setelah perhatian penonton berhasil didapat, informasi mengenai produk bisa dijelaskan secara bertahap.

3. Tampilkan Produk Secara Jelas

Konten review tentu tidak bisa dipisahkan dari produk yang sedang dibahas. Karena itu, Icha menilai tampilan produk juga perlu diperhatikan.

Kemasan, tekstur, cara penggunaan hingga detail tertentu yang relevan dapat diperlihatkan dengan jelas sehingga penonton mendapatkan gambaran lebih nyata.

“Kalau review produk, saya berusaha supaya produknya terlihat jelas. Orang yang menonton kan biasanya ingin tahu kemasannya seperti apa, teksturnya bagaimana, dan cara pakainya seperti apa,” ungkap Icha.
Visual yang jelas juga membuat informasi lebih mudah dipahami, terutama ketika video membahas produk skincare yang memiliki tekstur atau cara penggunaan tertentu.

4. Sampaikan Pengalaman, Bukan Sekadar Membaca Klaim Produk

Salah satu hal yang berusaha dipertahankan Icha dalam membuat konten review adalah memberikan pengalaman yang terasa personal.
Menurutnya, audiens tidak hanya membutuhkan informasi yang terdapat pada kemasan. Mereka juga ingin mengetahui bagaimana pengalaman seseorang ketika menggunakan produk tersebut.

“Saya lebih suka menceritakan pengalaman menggunakan produknya. Jadi bukan cuma membaca klaim yang ada di kemasan, tetapi menjelaskan apa yang saya rasakan selama mencoba,” tuturnya.

Pendekatan tersebut juga dapat membuat konten terasa lebih natural. Kreator tidak sekadar bertindak sebagai penyampai informasi, tetapi menjadi seseorang yang membagikan pengalaman kepada audiens.

5. Buat Review yang Informatif tetapi Tetap Ringan

Membahas skincare terkadang membutuhkan penjelasan mengenai kandungan, manfaat, tekstur atau cara penggunaan. Namun, terlalu banyak istilah teknis dapat membuat penonton awam kesulitan mengikuti isi video.
Icha memilih pendekatan yang lebih sederhana agar informasi mengenai produk dapat diterima berbagai kalangan.

“Kalau terlalu banyak istilah yang sulit, orang mungkin tidak mengerti. Jadi saya berusaha menjelaskan dengan bahasa sehari-hari supaya review-nya tetap informatif tetapi tidak terasa seperti sedang belajar,” ujar Icha.

Dengan bahasa yang lebih ringan, konten review dapat menjangkau audiens yang lebih luas.

6. Jaga Kejujuran dalam Membuat Review

Bagi kreator yang bekerja sama dengan brand, menjaga kepercayaan audiens menjadi tantangan tersendiri. Icha menyadari bahwa penonton akan terus mengikuti kreator apabila merasa informasi yang diberikan dapat dipercaya.

Karena itu, menurut Icha, review sebaiknya tetap disampaikan berdasarkan pengalaman dan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Kalau membuat review, menurut saya kejujuran tetap penting. Apalagi kalau sudah banyak orang yang mengikuti kita. Jangan sampai hanya karena ingin produknya terlihat bagus, informasi yang diberikan justru tidak sesuai,” jelasnya.

Kepercayaan audiens menjadi modal penting bagi kreator, terutama ketika konten review berkembang menjadi bagian dari pekerjaan profesional.

7. Konsisten dan Terus Membaca Respons Audiens

Strategi terakhir yang dianggap penting adalah konsistensi. Satu video yang berhasil mendapatkan banyak penonton belum tentu langsung membuat sebuah akun berkembang dalam jangka panjang.

Icha sendiri mengaku terus belajar dari respons yang diberikan audiens. Komentar, pertanyaan dan jenis konten yang mendapat perhatian dapat menjadi bahan evaluasi untuk membuat konten berikutnya.
“Jangan hanya melihat satu video yang ramai. Kita harus melihat apa yang disukai penonton dan terus belajar dari situ. Kalau ada komentar atau pertanyaan yang banyak muncul, itu juga bisa menjadi ide untuk konten berikutnya,” kata Icha.

Konsistensi tersebut menjadi bagian dari perjalanan Icha membangun audiens di TikTok. Akun @ichariyani_ kini telah memiliki sekitar 5,6 juta pengikut. Selain TikTok, Icha memiliki sekitar 327 ribu followers di Instagram melalui akun @icha.riyani. Ia juga aktif bersama keluarga melalui kanal YouTube Rival Icha Family yang telah memiliki sekitar 87 ribu subscriber. (H-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |