Direktur Utama PAM Jaya, Arief Nasruddin (kiri) saat wawancara dengan jurnalis Media Indonesia, Golda Eksa (tengah) dan Farhan Zhuhri di Jakarta, Senin (11/8/2026).(MI/Usman Iskandar)
AKSELERASI untuk mengejar target cakupan pelayanan air perpipaan hingga 100% di Jakarta dikebut. Hingga saat ini, cakupan layanan PT Air Minum Jaya/PAM JAYA (Perseroda) telah mencapai 82,6% seiring dengan bertambahnya jumlah pelanggan secara signifikan.
Pencapaian tersebut menjadi pijakan penting untuk mempercepat penyambungan bagi warga yang selama ini belum terlayani. Strategi perluasan jaringan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pembangunan pipa utama hingga sambungan langsung ke rumah-rumah pelanggan.
“Dari yang 900 ribu (pelanggan), sekarang sudah 1,2 juta yang menikmati air bersih dari PAM,” ungkap Direktur Utama PAM JAYA Arief Nasrudin saat berbincang dengan Media Indonesia di Kantor PAM JAYA, Jakarta Pusat, Selasa (11/8).
Ekspansi jaringan saat ini berlangsung paling agresif di Jakarta Timur dan Jakarta Utara. Sejumlah kawasan yang sebelumnya belum tersentuh layanan, seperti Marunda, Cilincing, Kebon Kosong, hingga Rusun Marunda, kini mulai terhubung dengan jaringan perpipaan air bersih.
Guna memperkuat pasokan, PAM JAYA mengandalkan suplai air baku dari Waduk Jatiluhur, Jawa Barat, dan Instalasi Pengolahan Air (IPA) Buaran 3. Langkah ini difokuskan untuk memperkuat keandalan pasokan, khususnya di wilayah timur dan utara Jakarta. Nantinya juga akan dibangun reservoir komunal untuk meningkatkan cakupan air bersih.
Sebaliknya, kawasan Jakarta Barat masih menghadapi tantangan tersendiri. Pembangunan infrastruktur pendukung dari Bendungan Karian, Banten, menuju Jakarta yang belum rampung membuat percepatan layanan di wilayah tersebut belum selaju kawasan timur dan utara.
Arief menekankan, pemenuhan target layanan 100% tidak sebatas menambah jaringan sambungan baru. PAM JAYA pun harus memastikan pemerataan tekanan air agar seluruh pelanggan mendapatkan pelayanan yang optimal.
PAM JAYA juga dihadapkan pada tantangan membenahi jaringan perpipaan yang berusia uzur. Dari total sekitar 13 ribu kilometer jaringan pipa yang ada, beberapa segmen di antaranya telah berumur hingga 104 tahun.
Program rehabilitasi jaringan pun telah disiapkan. Kendati demikian, PAM JAYA memilih mendahulukan perluasan sambungan baru guna menghindari tumpang-tindih antara proyek pembangunan jaringan baru dan penggantian pipa lama.
Mengingat besarnya cakupan pekerjaan, PAM JAYA berupaya menerapkan teknologi mutakhir yang memungkinkan proses pembangunan dan rehabilitasi jaringan berjalan dengan efek gangguan minimal terhadap aktivitas warga. Pasalnya, bentangan pipa PAM berada di bawah akses jalan vital serta kawasan permukiman padat.
Langkah ini sekaligus ditujukan untuk menekan ketergantungan masyarakat terhadap air tanah. Perluasan cakupan perpipaan dipandang krusial dalam meredam eksploitasi air tanah yang menjadi salah satu pemicu utama penurunan muka tanah (land subsidence) di Jakarta.
Untuk mengikis sisa 17,4% demi mencapai cakupan 100%, Arief mengakui dibutuhkan pembangunan infrastruktur berskala masif, koordinasi erat antarutilitas, serta kesabaran dari masyarakat.
“Memang tantangan menyelesaikan 100% pelayanan ini tidak mudah. Tapi ketika kita selesai semua itu akan kemudian semua bahagia. Karena air menjadi kebutuhan dasar yang tidak bisa disubstitusi,” tukas Arief.
Fluktuasi Air Baku
Di sisi lain, PAM JAYA kini bersiap merespons ancaman penurunan ketersediaan air baku akibat berfluktuasinya muka air Waduk Jatiluhur. Arief mengungkapkan, muka air Waduk Jatiluhur saat ini berada pada posisi 99 meter di atas permukaan laut (mdpl), menyusut dari kondisi rata-rata normal di level 110 mdpl.
"Walaupun itu masih garis aman. Alert-nya ketika di 85 mdpl,” terang Arief.
Sebagai antisipasi darurat apabila suplai air baku utama tertekan, PAM JAYA menyiagakan teknologi pengolahan air bergerak atau mobile water treatment plant (WTP). Teknologi ini memfasilitasi pengambilan air dari sumber-sumber alternatif yang tersedia untuk kemudian diolah seketika menjadi air siap minum.
Proses pengolahan dengan mobile WTP tergolong singkat, berkisar antara 30 menit hingga maksimal dua jam. Unit ini sebelumnya juga teruji membantu krisis air bersih saat penanggulangan bencana di luar daerah. Arief memastikan distribusi air bersih untuk warga Jakarta sejauh ini tetap berjalan normal tanpa adanya kondisi kekeringan yang mengharuskan pengerahan armada mobil tangki secara rutin.
Sementara itu, peneliti Jakarta Public Service (JPS) Rahmat Hidayat, menilai transformasi layanan PAM JAYA merupakan fondasi kokoh untuk menghadirkan akses air minum perpipaan yang modern, profesional, dan berorientasi pada publik.
“Pemenuhan layanan air bersih adalah salah satu pemenuhan kebutuhan dasar, tentu ini harus didukung bersama.”
Ia menilai pembenahan komprehensif mulai dari percepatan penanganan kebocoran, digitalisasi layanan, pembangunan infrastruktur baru, hingga penguatan tata kelola perusahaan (good corporate governance) menjadi modal utama pemenuhan layanan yang merata.
Selain mematok target layanan 100% pada 2029, PAM JAYA juga tengah menyiapkan langkah strategis menuju penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) pada 2027 guna memperkuat struktur pendanaan ekspansi. Kita melihat bagaimana perusahaan ini tidak hanya fokus memperluas jaringan perpipaan, tetapi juga serius membenahi persoalan mendasar seperti kebocoran jaringan yang selama bertahun-tahun menjadi tantangan besar," tutup Rahmat. (Ant/P-2)


















































