Prefektir Miyazaki memperkenalkan wagyu halal di Indonesia.(Indosps Bogatama)
Pemerintah Prefektur Miyazaki, Jepang, menerapkan sistem pengolahan khusus untuk memastikan Wagyu yang diekspor ke Indonesia memenuhi standar kualitas sekaligus ketentuan halal. Seluruh tahapan pengolahan daging dilakukan di Jepang, sehingga produk yang tiba di Indonesia telah melalui proses penyembelihan, pemotongan, hingga pengemasan sesuai standar yang dipersyaratkan.
Untuk mendukung ekspor tersebut, Pemerintah Prefektur Miyazaki membangun fasilitas pengolahan khusus di Kota Saito. Fasilitas tersebut dioperasikan SE Meat, perusahaan lokal yang menangani proses pengolahan daging sebelum produk dikirim ke Indonesia. Upaya memperoleh sertifikasi halal menjadi bagian penting dari persiapan Miyazaki memasuki pasar Indonesia. Fasilitas pengolahan tersebut mendapatkan sertifikasi halal pada Februari 2026 setelah melalui proses persiapan selama beberapa bulan dan memenuhi berbagai persyaratan yang ditetapkan otoritas Indonesia.
Wakil Gubernur Prefektur Miyazaki, Toshiro Hinokuma, mengatakan seluruh dokumen dan sertifikasi yang diperlukan untuk ekspor telah dipersiapkan.
“Kami sudah mengantongi sertifikat dan berkas-berkas yang diperlukan untuk mulai ekspor ke Indonesia,” ujar Hinokuma di Jakarta.
Kegiatan tersebut didukung PT Indosps Bogatama Sukses dan dihadiri sejumlah pelaku usaha sektor makanan dan minuman (F&B) di Indonesia.
Menurut Hinokuma, penerapan standar halal menjadi perhatian utama dalam setiap proses pengolahan. Pemerintah Prefektur Miyazaki memastikan prosedur yang dijalankan sesuai dengan ketentuan syariat sekaligus tetap mempertahankan karakteristik Wagyu sebagai produk daging premium.
“Karena itu kami mengolah daging ini dengan benar sesuai tata cara halal,” tuturnya.
Setelah proses penyembelihan, daging dipotong dan dikemas dalam ukuran per porsi di Jepang. Produk yang telah dikemas tersebut kemudian dikirim ke Indonesia dalam kondisi siap dipasarkan dan dikonsumsi.
Wagyu Miyazaki selama ini dikenal sebagai salah satu produk daging sapi premium Jepang. Namun, belum tersedianya sertifikasi halal sebelumnya membuat produk tersebut belum dapat menjangkau konsumen Muslim secara luas. Kondisi tersebut mendorong Pemerintah Prefektur Miyazaki mengambil langkah untuk memperoleh sertifikasi halal sekaligus membuka peluang pasar baru, termasuk Indonesia yang memiliki populasi Muslim besar.
Dalam proses pengolahan, karakteristik Wagyu tetap dijaga agar kualitas daging tidak berubah. Marbling, serat lemak, serta tekstur daging dipertahankan melalui proses penyembelihan dan pengolahan yang memenuhi ketentuan halal.
Pemerintah Prefektur Miyazaki menilai perpaduan antara kualitas premium dan sertifikasi halal tersebut masih relatif jarang ditemukan di pasar daging internasional. Produk dengan tingkat marbling tinggi yang sekaligus memenuhi standar halal dinilai memiliki peluang untuk menjangkau konsumen yang lebih luas. Hinokuma berharap kehadiran Wagyu Miyazaki halal dapat membuka kesempatan bagi konsumen di negara-negara mayoritas Muslim untuk menikmati produk daging premium asal Jepang.
“Harapan kami, orang-orang di negeri Muslim pada akhirnya bisa menikmati daging Miyazaki,” tandasnya.
Pengawasan dari Jepang hingga Indonesia
Untuk menjaga kepatuhan terhadap standar halal, Miyazaki menerapkan pengawasan pada seluruh rantai pengolahan dan distribusi. Proses tersebut dimulai sejak penyembelihan, dilanjutkan dengan pemotongan dan pengemasan, hingga produk ditempatkan dalam kontainer untuk dikirim ke Indonesia.
Dengan skema tersebut, tidak terdapat proses pengolahan daging yang dilakukan setelah produk tiba di Indonesia. Konsumen di Tanah Air menerima Wagyu yang seluruh proses pengolahannya telah diselesaikan di Jepang. Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari strategi Miyazaki untuk memberikan kepastian kepada konsumen dan pelaku usaha mengenai asal-usul serta proses pengolahan produk.
Untuk memperkenalkan Wagyu halal tersebut kepada pasar Indonesia, Pemerintah Prefektur Miyazaki mulai melakukan promosi melalui sejumlah restoran di Jakarta. Kegiatan tersebut menjadi tahap awal sebelum promosi diperluas ke berbagai lokasi lainnya. Selain memperkuat penetrasi melalui sektor restoran dan F&B, Miyazaki juga mulai mempertimbangkan jalur penjualan ritel sebagai bagian dari pengembangan pasar Wagyu halal di Indonesia pada tahap berikutnya. (E-3)


















































