KEMENTERIAN Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kemenekraf/Ekraf) menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Coda untuk memperkuat ekosistem industri game nasional dan mendorong pengembang lokal memperluas jangkauan ke pasar global.
Kerja sama tersebut ditujukan untuk mengakselerasi pertumbuhan industri game Indonesia melalui penguatan berbagai aspek ekosistem, mulai dari pengembangan sumber daya manusia, distribusi, promosi, hingga sistem pembayaran dan transaksi digital. Kolaborasi ini juga menjadi upaya bersama untuk meningkatkan daya saing internasional pengembang game Tanah Air sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat kreativitas digital.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Deputi Bidang Kreativitas Digital dan Teknologi Kemenkraf Neil El Himam mengatakan penandatanganan MoU tersebut merupakan kelanjutan dari berbagai kolaborasi yang telah dijalankan kedua pihak selama beberapa tahun terakhir.
“Kerja sama ini sebetulnya lebih kepada memformalkan yang selama ini sudah kami lakukan antara Kementerian Ekraf dengan Coda, dan akhirnya dilakukan (penandatanganan),” kata dia usai MoU di Jakarta, Kamis, 25 Juni 2026.
Menurut Neil, sebelum penandatanganan nota kesepahaman, Coda dan pemerintah telah menjalankan sejumlah program bersama, termasuk meningkatkan kapasitas lebih dari 70 pengembang game lokal melalui ajang Global Game Jam Pre-Workshop, serta kampanye keamanan di sektor game dan pembayaran digital.
“Kalau bicara ekosistem itu bukan sekadar sumber daya manusia, game-nya itu sendiri, tapi secara keseluruhan, termasuk sistem pembayarannya, transaksinya, dari Coda mungkin, distribusi, dan juga promosinya,” tuturnya. “Nah, di sini kami lihat Coda menjadi bagian dari ekosistem yang perlu kita gandeng untuk memajukan industri game di Indonesia.”
Kedua pihak juga akan melanjutkan upaya peningkatan literasi digital dan keamanan ruang bermain daring. Salah satunya melalui kampanye Guard Your Game yang bertujuan mengedukasi pemain agar mampu mengenali dan menghindari berbagai bentuk penipuan online.
CEO Coda Shane Happach mengatakan Indonesia memiliki posisi strategis bagi perusahaan sejak pertama kali berdiri pada 2011. Saat ini, Indonesia menyumbang sekitar 20 persen dari total pendapatan global Coda. “Lewat kolaborasi ini, Coda juga berkomitmen membawa infrastruktur komersialnya agar studio lokal kita di Indonesia bisa memaksimalkan tren monetisasi luar aplikasi yang kini melonjak hingga 38 persen di Asia Tenggara,” ucapnya.
Berdasarkan data Niko Partners, industri game Indonesia membukukan pendapatan lebih dari US$1,1 miliar pada 2025 dan diperkirakan meningkat menjadi US$1,5 miliar pada 2030. Prospek tersebut menjadi salah satu alasan penguatan kolaborasi antara pemerintah dan pelaku industri untuk memperbesar peluang game buatan Indonesia di pasar internasional.






























:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5495647/original/074499000_1770385031-barba.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5414491/original/012054700_1763287155-530668458_18471777553074306_380593477510268437_n__1_.jpg)















:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5469567/original/092858600_1768130667-4.jpg)
