Latihan Menembak bagi Calon Manajer Koperasi Kini Ditiadakan

7 hours ago 2

KEMENTERIAN Pertahanan menghapus latihan menembak bagi peserta program sarjana penggerak pembangunan Indonesia (SPPI) setelah kematian calon manajer Koperasi Desa Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih. Mereka tengah mengikuti program latihan dasar militer atau latsarmil.

Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan Brigadir Jenderal TNI Rico Ricardo Sirait, mengatakan penghapusan latihan menembak diputuskan setelah adanya evaluasi.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Rico membenarkan video latihan menembak peserta program SPPI yang beredar di media sosial. Namun dokumentasi tersebut diadakan sebelum adanya evaluasi. 

“Dokumentasi atau liputan terkait rencana kegiatan menembak tersebut merupakan kegiatan yang dilaksanakan pada minggu lalu, sebelum adanya evaluasi terbaru terhadap pelaksanaan program,” kata Rico kepada Tempo, Senin, 29 Juni 2026.

Sebagai tindak lanjut evaluasi bersama, kata Rico, Kemenhan melakukan penyesuaian pendekatan kegiatan. Salah satunya mengubah Latsarmil menjadi Latihan Pembekalan Bela Negara dan Manajerial. Perubahan istilah diikuti penyesuaian materi. Rico mengatakan kegiatan yang bersifat taktis dan teknis militer dikurangi.

“Termasuk kegiatan menembak tidak lagi menjadi bagian dari pelaksanaan latihan saat ini. Intensitas kegiatan fisik juga dikurangi dan disesuaikan dengan latar belakang peserta sebagai warga sipil,” ujar Rico. 

Rico mengatakan fokus kegiatan program SPPI kini diarahkan pada pembentukan disiplin, karakter, kepemimpinan, kerja sama, tanggung jawab, wawasan kebangsaan, serta kesiapan manajerial peserta sebagai calon pengelola Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih.

Gelombang pertama program pelatihan ini berlangsung pada 17 Juni hingga 31 Juli 2026 dengan total 35.476 peserta. Mereka terdiri atas 30 ribu calon pengelola Kopdes Merah Putih dan 5.476 calon pengelola Kampung Nelayan Merah Putih.

Namun lima peserta meninggal selama kurun waktu sepuluh hari pelaksanaan. Mereka adalah Nola Dya Sari, Novia Rahmadhani Sihotang, Anisa Muyassaroh, Yonanda Muhammad Taufiq, dan Muhammad Rifki Renaldi Gunawan.

Nola Dya Sari yang mengikuti pelatihan di Satuan Pendidikan Bela Negara Kalimantan meninggal pada 26 Juni 2026 setelah mengeluhkan sesak napas dan demam. Pada hari yang sama, Muhammad Rifki Renaldi Gunawan, peserta di Satuan Pendidikan Batalyon Para Komando (Yonko) 465 Jakarta Timur, juga meninggal setelah mengalami keluhan serupa. Rifki diketahui memiliki riwayat hipertensi dan obesitas.

Sementara itu, peserta di Pusat Bahasa Komando Pembinaan Doktrin, Pendidikan, dan Latihan TNI Angkatan Udara, Jakarta, Novia Rahmadhani Sihotang, meninggal pada 23 Juni 2026 akibat tuberkulosis (TBC) aktif.

Selanjutnya, Anisa Muyassaroh meninggal sehari setelah pelatihan dimulai, yakni pada 18 Juni 2026, akibat heat stroke saat mengikuti latihan di Satuan Pendidikan Resimen Induk Kodam Mulawarman, Balikpapan, Kalimantan Timur. Adapun Yonanda Muhammad Taufiq meninggal pada hari pertama pelatihan, 17 Juni 2026, akibat cardiac arrest atau henti jantung.

Dian Rahma Fika Alnina dan Dede Leni Mardianti berkontribusi dalam penulisan artikel ini.
Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |