Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat.(Dok. MPR R)
SIDANG Tahunan MPR RI dinilai memiliki makna strategis yang mendalam bagi keberlangsungan serta pencapaian berbagai target pembangunan bangsa. Forum ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan instrumen penting dalam menjaga arah kebijakan nasional.
"Sidang Tahunan MPR RI bukan sekadar seremonial tahunan, melainkan tolok ukur kesinambungan pembangunan dan ruang pertanggungjawaban publik," ujar Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat dalam keterangan tertulisnya, Jumat (14/8).
Lestari, yang akrab disapa Rerie, menegaskan bahwa forum ini merupakan episentrum pemikiran kebangsaan. Tujuannya adalah memastikan pembangunan nasional dapat menjangkau seluruh wilayah Indonesia secara merata dan tetap berpihak pada kepentingan rakyat banyak.
Pembangunan yang Menjawab Kebutuhan Rakyat
Sebagai Anggota Komisi X DPR RI, Rerie menambahkan bahwa indikator keberhasilan pembangunan nasional harus dilihat dari kemampuannya dalam menjawab kebutuhan masyarakat. Ia menekankan bahwa kebijakan yang diambil pemerintah harus memiliki dampak langsung terhadap kualitas hidup warga.
"Pidato kenegaraan dan Nota Keuangan harus mencerminkan komitmen pemerintah dalam mengatasi ketimpangan, memperkuat ketahanan pangan dan energi, serta mendorong hilirisasi industri. Ini semua harus bermuara pada peningkatan kesejahteraan rakyat," jelas Rerie.
Politikus Partai NasDem ini juga menyoroti pentingnya pemerataan pembangunan agar tidak hanya terpusat di Pulau Jawa. Menurutnya, aspirasi dari berbagai daerah harus menjadi arus utama dalam pengambilan kebijakan di tingkat nasional.
Orkestrasi Pusat dan Daerah
Mengingat bentang geografis Indonesia yang luas dengan basis ekonomi yang sangat beragam, Rerie berpendapat bahwa pendekatan pembangunan tidak boleh diseragamkan. Setiap daerah memiliki karakteristik unik yang memerlukan penanganan berbeda.
"Indonesia memiliki bentang geografis dan basis ekonomi yang beragam. Karena itu, pendekatan pembangunan tidak bisa seragam dari satu daerah ke daerah lain," katanya.
Melalui momentum Sidang Tahunan ini, Rerie berharap adanya sinergi yang lebih kuat antar-elemen bangsa dalam menjalankan agenda pembangunan. Fokus utama ke depan adalah mengubah posisi Indonesia dari sekadar penyedia bahan mentah menjadi produsen yang memiliki nilai tambah tinggi.
"Kita ingin Indonesia tidak hanya menjadi sumber bahan mentah dan pasar, tetapi menjadi produsen dan pencipta nilai tambah. Kepentingan nasional harus menjadi kompas, dan itu hanya bisa terwujud jika ada orkestrasi yang baik antara pusat dan daerah," pungkasnya.


















































