Mantan Penasihat Trump Mengaku Bersalah dalam Kasus Dokumen Rahasia

3 hours ago 1

MANTAN Penasihat Keamanan Nasional Amerika Serikat John Bolton mengaku bersalah dalam kasus penyimpanan dokumen rahasia pemerintah secara melawan hukum. Pengakuan mantan pembantu Donald Trump itu disampaikan dalam sidang di Pengadilan Distrik Amerika Serikat untuk Maryland pada Jumat, 26 Juni 2026.

Bolton, yang pernah menjabat sebagai penasihat keamanan nasional pada masa pemerintahan pertama Presiden Donald Trump, didakwa menyimpan dan membagikan dokumen rahasia kepada dua anggota keluarganya. Dokumen tersebut diduga akan digunakan sebagai bahan penulisan memoarnya, termasuk catatan pengarahan intelijen serta pertemuan dengan pejabat tinggi pemerintah dan pemimpin negara asing.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Dalam persidangan, Bolton menyampaikan penyesalannya atas perbuatannya. "I'm sorry for it," atau "Saya menyesal atas hal itu," kata Bolton di hadapan Hakim Distrik AS Theodore D. Chuang.

Sebelumnya, pada tahun lalu Bolton menyatakan tidak bersalah atas 18 dakwaan pidana dalam perkara tersebut. Namun, berdasarkan kesepakatan dengan jaksa federal, ia kemudian mengubah pengakuannya menjadi bersalah.

Mengutip Reuters dan dilansir Al Jazeera, kesepakatan itu memungkinkan Bolton memperoleh hukuman mulai dari tanpa penjara hingga maksimal lima tahun penjara. Ia dijadwalkan menjalani sidang pembacaan vonis pada Oktober 2026.

Selain itu, Bolton dilaporkan sepakat membayar denda sebesar US$ 2,25 juta dan menjalani 100 jam kerja sosial. Jaksa menuduh ia menyerahkan informasi sensitif kepada dua anggota keluarganya, termasuk catatan pengarahan intelijen dan hasil pertemuan dengan para pemimpin asing, yang diduga akan digunakan dalam memoar mengenai pengalamannya bekerja di Gedung Putih pada masa pemerintahan pertama Trump.

Memoar berjudul The Room Where It Happened tersebut berisi kritik terhadap Trump. Dalam buku itu, Bolton menilai Trump tidak layak menjabat sebagai presiden Amerika Serikat.

Hubungan Bolton dan Trump memburuk setelah Bolton meninggalkan pemerintahan pada 2019. Trump kemudian beberapa kali melontarkan kritik kepada mantan pembantunya itu. Ia bahkan menyebut Bolton sebagai "orang gila" yang terobsesi dengan perang dan mengatakan Bolton akan membawa Amerika Serikat ke "Perang Dunia Keenam" apabila keinginannya diikuti.

Bolton menjadi salah satu tokoh politik yang pernah berseberangan dengan Trump dan menghadapi proses hukum dari Departemen Kehakiman AS. Namun, berbeda dengan sejumlah perkara lain yang melibatkan pengkritik Trump, penyelidikan terhadap Bolton telah dimulai sebelum Trump kembali menjabat sebagai presiden pada 2025 dan ditangani oleh jaksa karier di pemerintah federal.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |