Masa Depan Energi Bersih, Gas Bumi Invasi Jogja dan Sekitarnya

3 days ago 1
Masa Depan Energi Bersih, Gas Bumi Invasi Jogja dan Sekitarnya Petugas dari Gagas mengecek instalasi gas di RM Padang Payakumbuah Yogyakarta, Kamis (13/8/2026).(MI/Ardi Teristi)

DERETAN tabung compressed natural gas (CNG) berjajar rapi di sebuah sebuah Rumah Makan (RM) Padang Payakumbuah di Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Pipa-pipa gas terpasang presisi, menjulur kokoh dari tabung menuju deretan kompor-kompor di dapur siap mengalirkan energi untuk memasak aneka makanan bagi para pelanggan.

Dengan pengunjung yang selalu ramai setiap harinya, rumah makan ini membutuhkan pasokan gas dengan pembakaran yang lebih bersih, memiliki pasokan yang andal, serta lebih ekonomis.

RM Padang Payakumbuah menjadi salah satu titik distribusi gas bumi dalam bentuk CNG Cylinder (Cicil) atau Gaslink milik PT Gagas Energi Indonesia, anak perusahaan PT PGN Tbk, subholding gas Pertamina.

Perwakilan RM Padang Payakumbuah Adi Saputro menceritakan, pihaknya menggunakan gas dari Gaslink sejak November 2024. "Kalau dari pengalaman menggunakan Gaslink dari PGN, ini luar biasa ya. Jadi banyak benefit-nya, ya," ungkap di kepada Media Indonesia, Kamis (13/8) siang.

Ia pun masih mengenang saat awal-awal rumah makan Padang ini belum menggunakan CNG. Saat itu, memasaknya menggunakan gas elpiji dengan tabung super besar 

"Kalau sebelumnya kita dari buka belum menggunakan itu. Dari hasil pemakaian tiap bulannya dengan dikonversikan dengan gas (elpiji), lebih efisien menggunakan Gaslink," ujar dia mengenang awal-awal Payakumbuah merintis usaha.

Penggunaan CNG dinilai sangat efisien bagi usahanya sehingga bisa menghemat biaya operasional, khususnya untuk memasak. Ia mencontohkan, biaya operasional yang dikeluarkan untuk gas CNG hanya sekitar Rp20 juta per bulan, sedangkan jika menggunakan gas elpiji, biayanya bisa mencapai sekitar Rp35 juta hingga Rp40-an juta per bulan.

"Kami lebih hemat kira-kira 30%," ungkap dia.

Selain efisiensi biaya, faktor keandalan pasokan menjadi pertimbangan utama. Kepastian pasokan tanpa terpengaruh libur nasional atau hari besar keagamaan menjadi poin krusial bagi bisnis kuliner yang beroperasi penuh tanpa libur ini. 

Dukungan teknis dari PT Gagas Energi Indonesia, anak usaha PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), rutin dilakukan untuk memastikan keamanan instalasi dan mengecek potensi kebocoran gas. 

"Petugas mengedukasi terkait dengan keamanan gasnya. Tim mereka juga sangat rutin mengecek ada atau tidak gas yang bocor," ungkap dia.

Area Head PT Gagas Energi Indonesia untuk wilayah Yogyakarta Miranti Dian Pramesti menerangkan, satu sampai dua hari sekali pihaknya melakukan pengisian CNG di RM Padang Payakumbuah. 

"Truk akan parkir di depan, lalu menyuntikkan (inject) gas ke tabung-tabung penyimpanan di lokasi ini," terang dia menceritakan kronologi pendistribusian CNG ke rumah makan tersebut.

Tekanan gas dari truk yang mencapai 200 bar disuntikkan ke tabung penyimpanan. Selanjutnya, tekanan diturunkan sesuai kebutuhan dapur pelanggan, sekitar 0,5 bar untuk skala retail.

Terkait pembayaran, lanjut dia, meski menggunakan tabung, sistem pembayarannya tidak dihitung berdasarkan jumlah wadah seperti gas elpiji. Hitungan pembayaran menggunakan meteran (metering) sesuai gas yang CNG yang digunakan.

Pelanggan hanya membayar sesuai angka penggunaan yang tertera pada meteran setiap bulannya. Biaya tersebut sudah mencakup biaya gas dan pengantarannya.

"Untuk skala retail dengan kapasitas penggunaan sekitar 5.000 meter kubik per bulan, kami menggunakan tabung-tabung seperti ini. Minimal kebutuhan pelanggan sekitar 500 sampai 1.000 meter kubik per bulan," imbuh Miranti kepada awak media.

Ia menjelaskan, gas yang diantar langsung menggunakan armada truk berukuran 10 feet ini untuk menyiasati konsumen yang lokasi usahanya belum terjangkau oleh jaringan distribusi pipa gas.

Di wilayah Yogyakarta, Solo, hingga Magelang, tercatat sekitar 30 pelanggan dari sektor rumah makan, hotel, hingga industri yang telah memanfaatkan layanan Gaslink.

Terkait penggunaan gas bumi nonpipa ini, ia menjelaskan, karakteristik kompor dan kalori gas bumi berbeda dengan gas elpiji. Lubang pengapian pada kompor perlu penyesuaian atau diperbesar agar pembakaran optimal. 

"Selain itu, tabung Gaslink ini sangat berat sehingga tidak bisa dipindahkan sembarangan, makanya kami gunakan sistem injeksi langsung di tempat," terang Miranti.

Terus Menginvasi

Miranti menjelaskan, akses energi bersih dan ramah lingkungan gas bumi terus menginvasi Jogja dan sekitarnya. Berdasarkan data, jaringan distribusi gas setempat, infrastruktur pipa DTM (Diameter 180 mm dan 90 mm) yang terpasang mencapai 15,9 km, sedangkan pipa DTR (Diameter 63 mm) mencapai 125,5 km.

Di samping itu, untuk mendukung keandalan pasokan gas dari moda Gas Transportation Module (GTM) hingga ke konsumen akhir, sejumlah sarana pendukung juga telah dioperasikan, yaitu 1 Unit Pressure Regulating Station (PRS Sleman) dan 5 Unit Regulating Station (RS) yang tersebar di beberapa titik sektor jaringan.

Jaringan infrastruktur ini telah mencakup sejumlah wilayah strategis di Kabupaten Sleman, seperti Kalurahan Caturtunggal dan Kalurahan Condongcatur. Fasilitas publik dan pelanggan komersial besar yang terhubung di antaranya RSUP Dr. Sardjito, RS Sleman-2, Rumah Sakit JIH, Loman Park Hotel, hingga pelaku usaha kuliner seperti Giorno's Pizzeria.

Hingga saat ini, total manfaat penyaluran gas telah menjangkau 4.545 Sambungan Rumah Tangga (SRT), 6 Pelanggan Kecil (PK), serta 4 Pelanggan Komersial dan Industri (KI)

Pengembangan jaringan gas bumi ini diharapkan dapat terus memberikan kemudahan, keamanan, serta efisiensi biaya energi bagi masyarakat dan pelaku usaha di wilayah Sleman dan sekitarnya.

Ditambah lagi, PT Gagas Energi Indonesia terus memperluas jangkauan layanan energi bersih dan efisien di wilayah Jawa Tengah bagian selatan melalui skema Compressed Natural Gas (CNG) Point to Point

Berdasarkan data operasional terbaru, skema penyaluran CNG Point to Point di wilayah Jawa Tengah Bagian Selatan telah melayani sebanyak 20 pelanggan dengan total volume penyaluran mencapai 74.000 m³ per bulan.

Skema CNG Point to Point ini menjadi solusi efektif dari PGN dan PT Gagas Energi Indonesia untuk memasok energi fosil yang ramah lingkungan ke wilayah-wilayah yang belum terjangkau oleh jaringan pipa gas konvensional.

Dengan memanfaatkan transportasi moda khusus (Gas Transport Module/GTM), PGN mampu menyalurkan gas bumi langsung ke titik-titik konsumen komersial seperti industri makanan (Bakpia Tugu Jogja, Payakumbuah), sektor perhotelan (Aston Hotel Solo, Platinum Hotel), kawasan pariwisata (PGN Balkondes), serta titik-titik SPPG pendukung operasional setempat.

Melalui perluasan program ini, PGN berkomitmen mendorong percepatan transisi energi bersih serta mendukung efisiensi operasional bagi para pelaku usaha di wilayah Jawa Tengah dan DI Yogyakarta.

Layanan CNG Point to Point ini memasok gas bumi terkompresi ke berbagai sektor komersial, perhotelan, kuliner, hingga fasilitas pendukung di beberapa wilayah utama. Di wilayah Sukoharjo dan Surakarta, Jawa Tengah, layanan ini telah dimanfaatkan oleh Bening Big Tree dengan kapasitas 3.000 m³ per bulan, 12 Titik SPPG dengan 12.000 m³ per bulan, Aston Hotel Solo dengan 1.500 m³ per bulan.

Untuk DI Yogyakarta, layanan ini telah dimanfaatkan oleh Bakpia Tugu Jogja dengan 50.000 M³ per bulan, Payakumbuah Jogja dengan 2.000 M³ per bulan, dan Platinum Hotel 1.500 M³ per bulan.

Di Magelang, Jawa Tengah, layanan ini telah dimanfaatkan oleh du titik SPPG dengan 2.000 m³ per bulan dan PGN Balkondes dengan 2.000 m³ per bulan. (AT/E-4)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |