Perkuat Fondasi Demi Pertumbuhan 8%

3 days ago 2
Perkuat Fondasi Demi Pertumbuhan 8% Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berbicara kepada pers seusai mengikuti rapat di Istana Kepresidenan, Jakarta. Purbaya menyatakan pergerakan ekonomi nasional menuju pertumbuhan 8% mulai terlihat.(ANTARA/GALIH PRADIPTA)

MENTERI Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pergerakan ekonomi nasional menuju pertumbuhan 8% mulai terlihat. Ia meyakini target tersebut dapat dicapai dalam dua hingga tiga tahun ke depan, seiring dengan upaya pemerintah memperkuat fondasi perekonomian, menghidupkan sektor swasta, serta memperbaiki iklim investasi.

"Pertumbuhan 8% mungkin orang-orang bilang terlalu tinggi. Tapi kalau untuk saya, sudah hampir kelihatan," katanya.

Menurutnya, perekonomian Indonesia sebenarnya sudah memiliki modal untuk tumbuh lebih tinggi. Ia melihat ekonomi nasional dapat mencapai pertumbuhan sekitar 6% hanya dengan menghidupkan kembali aktivitas sektor swasta dan pemerintah, tanpa harus melakukan reformasi industri yang signifikan.

Kondisi tersebut, ungkap Purbaya, menjadi modal awal untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi hingga mencapai 8%. Pemerintah saat ini berfokus menyiapkan fondasi perekonomian yang kuat agar pertumbuhan dapat terus meningkat secara berkelanjutan.

"Nanti dua tahun atau tiga tahun lagi, Anda sudah melihat angka 8% sudah menyundul ke atas," ujarnya meyakinkan.

Optimisme tersebut sejalan dengan kinerja ekonomi terkini. Purbaya menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,29% pada triwulan II 2026 masih tergolong solid, meski perekonomian nasional menghadapi tekanan global, terutama akibat tingginya harga minyak dunia dan pelemahan sektor eksternal yang turut berdampak pada kinerja ekspor.
"Pertumbuhan 5,29% sudah cukup baik di tengah tekanan global," ujar Purbaya.

Ia meyakini pertumbuhan ekonomi akan meningkat pada triwulan III dan IV 2026. 

Mesin pertumbuhan
Untuk mendorong akselerasi tersebut, pemerintah akan mengoptimalkan seluruh mesin pertumbuhan, termasuk meningkatkan likuiditas dalam perekonomian dan mendorong penurunan suku bunga agar perbankan dapat menyalurkan kredit dengan bunga yang lebih rendah. Dengan demikian, aktivitas dunia usaha dan konsumsi masyarakat diharapkan semakin terdorong.

"Kami akan memaksimalkan seluruh engine (mesin) pertumbuhan ekonomi. Ke depan, saya yakin di triwulan III dan IV 2026 akan mendorong ekonomi ke arah lebih cepat, high round menuju 6%," ucapnya optimistis.

Tekanan dunia usaha
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani mengungkapkan pelaku usaha hingga saat ini masih menghadapi sejumlah tekanan. Tekanan itu mulai dari kenaikan biaya produksi, pelemahan nilai tukar rupiah, perlambatan permintaan ekspor, hingga melemahnya daya beli domestik dinilai membatasi ruang ekspansi dunia usaha.

Ia mengatakan, aktivitas ekonomi di sektor riil sepanjang kuartal II 2026 belum berjalan optimal karena dunia usaha harus menghadapi tekanan dari sisi biaya maupun permintaan. Menurutnya, lonjakan harga energi akibat konflik di Selat Hormuz, pelemahan nilai tukar rupiah yang meningkatkan biaya bahan baku impor, serta perlambatan permintaan dari negara-negara mitra dagang menjadi tantangan utama bagi pelaku usaha.

"Jadi, aktivitas ekonomi di sektor riil yang dialami pelaku usaha sepanjang kuartal II 2026 cukup berat," ujar Shinta.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2026 masih tergolong rapuh sehingga perlu dijaga momentumnya agar semakin kuat. Dengan demikian, dunia usaha diharapkan dapat kembali melakukan ekspansi dan keluar dari tren industri yang masih bersifat defensif.

"Sehingga membalikkan tren industri yang sifatnya lebih defensif atau masih mengalami tekanan terhadap kondisi yang ada," ujarnya. (E-1)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |