Ilustrasi Selat Hormuz.(Dok. Google Maps)
PERDANA Menteri Jepang Sanae Takaichi mendesak Presiden Iran Masoud Pezeshkian untuk menjamin pelayaran yang bebas dan aman di Selat Hormuz tanpa adanya pungutan biaya tambahan. Desakan ini disampaikan di tengah upaya internasional meredakan ketegangan di jalur perdagangan energi paling strategis di dunia tersebut.
Dalam pembicaraan melalui telepon pada Rabu (12/8), PM Takaichi menekankan pentingnya de-eskalasi militer. Menurut pernyataan resmi Takaichi melalui media sosial X, Jepang berharap Iran terus melanjutkan dialog dengan negara-negara terkait untuk memastikan Selat Hormuz tetap terbuka bagi komunitas internasional.
Dorong Perundingan AS-Iran
Selain isu navigasi, PM Takaichi mendorong agar Amerika Serikat dan Iran kembali ke meja perundingan. Ia menyarankan agar kedua belah pihak menggunakan Memorandum Islamabad sebagai acuan untuk mencapai kesepakatan akhir sesegera mungkin, termasuk penyelesaian isu nuklir yang telah lama tertunda.
“Selat Hormuz harus terus terbuka untuk pelayaran yang bebas dan aman tanpa biaya tambahan,” tegas Takaichi. Ia juga menyerukan agar diskusi mengenai hal ini melibatkan komunitas internasional, terutama negara-negara pengguna jalur tersebut.
Kekhawatiran di Selat Bab Al-Mandeb
Jepang juga menaruh perhatian serius pada situasi di Selat Bab Al-Mandeb, pintu masuk menuju Laut Merah. Takaichi mendesak Iran untuk menggunakan pengaruhnya guna mendorong kelompok Houthi di Yaman agar menahan diri dari tindakan yang mengganggu stabilitas kawasan.
Menanggapi hal tersebut, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menjelaskan status dialog yang sedang berlangsung dengan Oman terkait Selat Hormuz. Mengenai isu di Bab Al-Mandeb, Pezeshkian memastikan bahwa langkah-langkah penyelesaian melalui dialog telah diambil, termasuk komunikasi dengan Arab Saudi.
Konteks Ketegangan Regional
Hubungan AS dan Iran sempat menunjukkan titik terang saat penandatanganan nota kesepahaman perdamaian pada 17 Juni lalu. Namun, perundingan tersebut menemui jalan buntu akibat perselisihan mengenai jaminan keamanan navigasi di Selat Hormuz.
Situasi sempat memanas pada periode 8 hingga 24 Juli 2026, di mana terjadi aksi saling serang antara Washington dan Teheran. AS melancarkan serangan ke wilayah Iran, yang kemudian dibalas dengan serangan terhadap aset militer AS di Yordania, Bahrain, dan Kuwait.
Di samping isu geopolitik, PM Takaichi juga menyelipkan permintaan khusus agar Iran segera menyelesaikan kasus hukum seorang warga negara Jepang yang telah dibebaskan dengan jaminan pada April lalu. (Ant/H-3)


















































