Ilustrasi - Sup krim brokoli.(Antara)
INDONESIA masih menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan diabetes tipe 2 yang mendominasi sekitar 90% kasus diabetes di Tanah Air. Di tengah tingginya jumlah penyandang diabetes, para praktisi kesehatan menilai pendekatan yang mengintegrasikan layanan medis, nutrisi, dan pemantauan berkelanjutan menjadi kunci untuk meningkatkan peluang pasien mencapai remisi.
Remisi diabetes kini dinilai bukan lagi sekadar konsep medis, melainkan target terapi yang dapat dicapai pada sebagian pasien melalui penanganan yang komprehensif. Tantangannya, layanan diabetes di Indonesia masih berjalan secara terfragmentasi, mulai dari pengobatan, pendampingan nutrisi, hingga pemantauan perubahan gaya hidup.
Berdasarkan International Diabetes Federation (IDF) Atlas 2025, sekitar 90% penyandang diabetes di Indonesia merupakan penderita Diabetes Mellitus Tipe 2 (DMT2), penyakit metabolik yang sangat dipengaruhi pola makan dan gaya hidup. Namun, keberhasilan pengelolaan jangka panjang masih rendah karena belum terintegrasinya layanan kesehatan bagi penyandang diabetes.
Praktisi kesehatan dr. Kelvin Candiago mengatakan penanganan diabetes seharusnya tidak hanya berfokus pada pemberian obat, tetapi juga mencakup intervensi nutrisi dan pendampingan berkelanjutan agar pasien mampu mempertahankan perubahan gaya hidup.
"Pasien membutuhkan ekosistem yang mendampingi mereka sejak diagnosis, memperbaiki kondisi metabolik, hingga mempertahankan hasilnya. Karena itu kami mengembangkan pendekatan yang mengintegrasikan medikasi, nutrisi, dan monitoring dalam tiga tahap, yaitu Rescue, Reverse, dan Remission," kata Kelvin di Jakarta, Rabu (8/7/2026).
Pendekatan tersebut diterapkan melalui ekosistem yang dikembangkan mGanik, yang menggabungkan layanan nutrisi, klinik spesialistik diabetes, serta komunitas pendampingan pasien. Menurut Kelvin, ketiga komponen itu saling melengkapi untuk membantu penyandang diabetes menjalani perubahan gaya hidup secara berkelanjutan.
Perjalanan pengembangan ekosistem itu dimulai pada 2020 melalui layanan nutrisi berbasis konsep food as medicine. Selanjutnya, pada 2023 dibentuk klinik spesialistik diabetes mGanik Care yang berfokus pada perbaikan metabolik dan pencapaian remisi diabetes.
Hingga kuartal pertama 2026, lebih dari 1.500 penyandang diabetes telah mendapatkan pendampingan melalui mGanik Care. Dari jumlah tersebut, sekitar 15–20 pasien setiap bulan mencapai tahap reverse, sedangkan sekitar 7–10% memenuhi kriteria klinis remisi diabetes.
Sebagai pendukung keberlanjutan terapi, mGanik juga membangun Komunitas Revolusi Diabetes yang kini beranggotakan hampir 2.000 orang. Komunitas tersebut menjadi wadah berbagi pengalaman, edukasi, dan saling mendukung dalam menjalankan pola hidup sehat.
"Remisi diabetes bukan sesuatu yang mustahil jika pasien mendapatkan pendampingan secara menyeluruh dan berkesinambungan," ujar Kelvin.
Atas inovasi tersebut, mGanik memperoleh Top Innovation Choice Award 2026 dari INFOBRAND.ID. Penghargaan itu diberikan atas pengembangan ekosistem penanganan diabetes yang mengintegrasikan layanan medis, nutrisi, dan pendampingan pasien.
“Dengan ekosistem yang terintegrasi, kami percaya bahwa remisi diabetes bukan sesuatu yang mustahil. Kami ingin menumbuhkan komunitas agar penderita diabetes merasa tidak sendirian dalam perjuangan ini,” tutup dr. Kelvin. (I-1)































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5414491/original/012054700_1763287155-530668458_18471777553074306_380593477510268437_n__1_.jpg)





:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/6007179/original/011565500_1778899711-20260512BL_Portrait_John_Herdman_24.jpg)












