Militer Iran.(Al Jazeera)
SETELAH Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Iran pada pertengahan Juni lalu, para pejabat pemerintah AS segera bergerak untuk membangun dukungan bagi kesepakatan yang diharapkan dapat membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri perang. Namun, para pemimpin garis keras Iran di Teheran justru menyusun rencana yang sangat berbeda.
Menurut pejabat Iran dan Arab, Teheran memandang pakta tersebut hanyalah upaya Amerika Serikat dan Israel untuk meredakan tekanan pada ekonomi global sekaligus mengulur waktu demi serangan yang lebih besar di masa depan. Alih-alih menaruh kepercayaan pada meja perundingan, Iran menggunakan dua bulan terakhir untuk bersiap menghadapi pertempuran yang lebih luas.
Konsolidasi Militer dan Kendali Garda Revolusi
Upaya persiapan Iran mencakup pemberian kendali lebih besar kepada Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) atas tentara reguler negara tersebut. Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei juga menunjuk veteran perang Irak dan tokoh-tokoh penumpasan internal untuk menduduki posisi kunci, memperluas operasi kontra-intelijen domestik, serta menggenjot produksi rudal dan drone.
Langkah itu segera diikuti dengan aksi nyata di lapangan. Iran menyerang kapal-kapal untuk memperketat cengkeramannya di Selat Hormuz dan memperluas medan tempur hingga ke Laut Merah, jalur yang selama ini digunakan Arab Saudi untuk menghindari blokade Iran di Teluk Persia.
Data Konflik Terkini:
- 9 Agustus: Serangan pemberontak Houthi yang didukung Iran di Kota Moktah, Yaman, menewaskan sedikitnya 11 orang dan merusak pelabuhan kota.
- Agustus: Iran menyerang enam kapal Emirat Arab dalam dua minggu terakhir saat mencoba melintasi Selat Hormuz.
- Juli: Iran menembakkan lima rudal balistik ke Yordania, mengejutkan AS di tengah masa jeda konflik.
Visi Salami-Slicing Teheran
Mohammad Hassan Sangtarash, analis pertahanan yang dekat dengan pemerintah Iran, menyatakan ada pandangan luas di Teheran bahwa perang utama belum dimulai. Yang terjadi saat ini diinterpretasikan sebagai taktik salami-slicing, eskalasi bertahap yang dirancang untuk melemahkan kemampuan musuh sebelum konfrontasi besar terjadi.
Persiapan itu menunjukkan jurang persepsi yang sangat dalam antara Washington dan Teheran. Ketidakpercayaan ini membuat para pemimpin Iran enggan menutup kesepakatan permanen, sikap yang membuat Trump frustrasi hingga menyebut mereka gila dan pembohong.
Reorganisasi Keamanan dan Ancaman Regional
Di balik layar, Khamenei memosisikan tujuh pemimpin keamanan utama untuk menjalankan institusi militer yang dirombak. Beberapa penunjukan kunci meliputi:
- Mohsen Rezaei: Mantan komandan IRGC era 1980-an, kini menjabat Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi.
- Hossein Taeb: Veteran yang dikenal keras, dikembalikan untuk memimpin Basij guna membentuk jaringan intelijen populer.
- Ahmad Vahidi: Panglima baru IRGC yang ditugaskan untuk melakukan operasi ofensif yang kuat terhadap musuh.
Intelijen Arab menemukan bukti bahwa IRGC mengirim komandan ke wilayah Houthi di Yaman untuk merencanakan konfrontasi dengan Arab Saudi, termasuk daftar target fasilitas energi dan pelabuhan. Bahkan, muncul kekhawatiran akan operasi darat di Kuwait setelah pasukan keamanan setempat mencegat enam personel IRGC di pulau dekat perbatasan Irak pada Mei lalu.
Diplomasi yang Terhambat
Meskipun Presiden Masoud Pezeshkian yang lebih pragmatis memperingatkan risiko keruntuhan ekonomi jika sanksi tidak dicabut, faksi militer tetap memegang kendali. Upaya mediator melalui Oman untuk membuka rute di Hormuz diblokade oleh Garda Revolusi yang justru kembali menyerang kapal-kapal komersial.
Kini, dengan perundingan yang buntu, Trump memilih untuk kembali menekan melalui sanksi ekonomi dan blokade angkatan laut. Namun, Teheran tampaknya bersiap untuk ekonomi bertahan hidup.
Mehdi Mohammadi, penasihat strategis tim perunding Iran, menyebut situasi saat ini sebagai ketenangan sebelum badai. Ia menegaskan bahwa dorongan konflik ini juga dipicu oleh proyek balas dendam darah atas kematian Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei (ayah Mojtaba) pada awal perang.
"Bangsa Iran masih memiliki banyak urusan yang belum selesai dengan Trump," tegasnya. (The Wall Street Journal/I-2)


















































