TIM peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan bahwa penggunaan pupuk berbasis silika (Si) mampu meningkatkan pertumbuhan dan produktivitas bawang merah asal true shallot seed (TSS) secara signifikan. Peningkatan produktivitas ini tercatat mencapai 30 hingga 70 persen.
Peneliti Pusat Riset Tanaman Pangan (PRTP) BRIN, Arlyna Budi Pustika, menyebut kebutuhan bawang merah di Indonesia terus meningkat setiap tahun. Namun, tantangan utamanya adalah ketergantungan petani yang tinggi pada penggunaan umbi sebagai bahan tanam.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Dalam riset ini, tim peneliti menguji tiga varietas bawang merah asal TSS, yaitu Sanren, Lokananta, dan Merdeka. Masing-masing varietas diberi perlakuan pupuk silika dengan dosis 0, 5, dan 10 mL per liter.
Pengujian dilakukan untuk mengetahui pengaruhnya terhadap penyerapan silika, struktur daun, pertumbuhan tanaman, kandungan unsur hara, hingga produktivitas hasil panen.
Hasil penelitian menunjukkan varietas Sanren memberikan respons yang paling baik. Pada pemberian dosis silika 10 mL per liter, kandungan silika di dalam daun varietas ini meningkat hingga 5,39 persen. Selain itu, ketebalan lapisan kutikula daunnya bertambah sekitar 121 persen dibandingkan tanaman tanpa perlakuan.
“Kondisi ini membuat tanaman lebih kuat menghadapi serangan patogen sekaligus meningkatkan efisiensi fotosintesis,” kata Arlyna melalui keterangan tertulisnya Selasa, 30 Juni 2026.
Peningkatan kondisi fisiologis tersebut berdampak langsung pada karakteristik fisik tanaman. Jumlah daun meningkat lebih dari dua kali lipat, jumlah anakan bertambah dari 3,38 menjadi 4,94 per tanaman, dan jumlah umbi naik dari 4,50 menjadi 7,38 umbi per tanaman. Diameter umbi pun ikut membesar dari 2,31 sentimeter menjadi 2,86 sentimeter.
Secara keseluruhan, produktivitas varietas Sanren melonjak sekitar 30–70 persen dibandingkan dengan tanaman tanpa aplikasi silika. Sebaliknya, varietas Merdeka menunjukkan respons yang sedang, sementara Lokananta relatif kurang responsif terhadap pupuk silika.
Peneliti PRTP BRIN lainnya, Kristamtini, menambahkan temuan menarik lain dari riset ini. Menurut dia, penyerapan silika yang tinggi berkorelasi dengan menurunnya kandungan logam berat berbahaya pada daun, seperti timbal (Pb), tembaga (Cu), dan kadmium (Cd).
“Temuan ini membuka peluang penggunaan pupuk silika tidak hanya untuk meningkatkan produktivitas, tetapi juga mendukung kualitas dan keamanan hasil pertanian. Meski demikian, penelitian lanjutan terhadap kandungan logam berat pada umbi masih diperlukan,” ujar Kristamtini.
Sebagai informasi, riset ini merupakan kerja sama kolaboratif, antara tim peneliti BRIN, Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta, dan The University of Queensland. Hasil penelitian tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal internasional bereputasi, Chileian Journal of Agricultural Research, dengan judul Use of Si-based Fertilizer Significantly Improves the Performance of 'Sanren' Botanical Seed-derived Shallot”.





























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5414491/original/012054700_1763287155-530668458_18471777553074306_380593477510268437_n__1_.jpg)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5495647/original/074499000_1770385031-barba.jpeg)












:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5469567/original/092858600_1768130667-4.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5400184/original/044015200_1762068222-InShot_20251102_134540718.jpg)