Trauma Gempa Flores, 50 KK di Selayar masih Bertahan di Perbukitan

2 hours ago 2
Trauma Gempa Flores, 50 KK di Selayar masih Bertahan di Perbukitan Masyarakat menjadi korban gempa Flores.(Antara)

Sekitar 50 Kepala Keluarga (KK) di Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, masih memilih bertahan di lokasi pengungsian wilayah perbukitan. Langkah ini diambil warga akibat rasa trauma mendalam terhadap dampak gempa bumi dahsyat yang melanda wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang getarannya terasa kuat hingga ke wilayah mereka.

"Mereka masih trauma dengan kejadian serupa pada 2021 sehingga 50-an KK di Kecamatan Pasimarannu masih memilih tinggal di lokasi perbukitan," ujar Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Kepulauan Selayar, Muhammad Ikbal, saat dikonfirmasi dari Makassar, Minggu (17/8/2026).

Ikbal menjelaskan bahwa keputusan warga untuk tetap berada di pengungsian sangat dipengaruhi oleh pengalaman buruk saat gempa magnitudo 7,4 melanda pada 14 Desember 2021. Kala itu, gempa yang berpusat di Flores mengakibatkan kerusakan parah di Selayar, khususnya di Kecamatan Pasilambena dan Pasimarannu, di mana sejumlah rumah warga roboh dan rata dengan tanah.

Pola Pengungsian Mandiri

Saat gempa terbaru berkekuatan M7,0 kembali terjadi, warga di dua kecamatan tersebut secara mandiri menyelamatkan diri menuju kawasan perbukitan. Data BPBD mencatat, di Kecamatan Pasimarannu terdapat sekitar 278 KK yang mengungsi, sementara di Pasilambena tercatat sekitar 130 KK.

Meski warga di Pasilambena kini telah berangsur kembali ke rumah masing-masing, kondisi berbeda terlihat di Pasimarannu. Sekitar 20 persen dari total pengungsi atau kurang lebih 50 KK masih bertahan di perbukitan.

Ikbal menambahkan, sebagian warga sebenarnya sudah kembali ke rumah pada siang hari untuk beraktivitas. Namun, saat sore menjelang, mereka kembali ke lokasi pengungsian yang berjarak sekitar tujuh kilometer dari permukiman demi menghindari risiko gempa susulan pada malam hari.

Tantangan Logistik: BPBD Selayar harus menempuh jalur laut selama kurang lebih 12 jam untuk mengakses wilayah terdampak dan menyalurkan bantuan. Saat ini, kebutuhan pengungsi masih dipenuhi secara mandiri oleh warga.

Dampak Kerusakan Bangunan

Selain memicu pengungsian, gempa M7,0 Flores tersebut juga berdampak pada infrastruktur di Selayar. Berdasarkan catatan BPBD, terdapat 13 rumah yang mengalami kerusakan, dengan rincian sembilan rumah rusak ringan dan empat rumah rusak sedang.

Di Kecamatan Pasilambena, beberapa rumah warga sempat terdampak hempasan air laut yang masuk ke area permukiman sesaat setelah getaran gempa. Selain bangunan, sejumlah perahu nelayan dilaporkan mengalami kerusakan atau terseret hingga ke daratan.

Kendati menimbulkan kerusakan material, BPBD memastikan tidak ada laporan mengenai rumah yang ambruk total maupun adanya korban luka dan jiwa di wilayah Kabupaten Kepulauan Selayar akibat peristiwa ini. (Ant/E-3)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |