Ilustrasi(Magnific)
KEMAJUAN teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mulai mengubah cara akademisi menyusun karya ilmiah. Kini, berbagai platform AI mampu membantu menyusun kalimat, memperbaiki tata bahasa, hingga merangkum referensi hanya dalam hitungan detik. Namun, kemudahan tersebut bukan berarti AI boleh mengambil alih proses berpikir seorang penulis, terutama saat menyusun artikel ilmiah untuk jurnal bereputasi, seperti SINTA 2.
Sebuah tinjauan yang dipublikasikan dalam Journal of Korean Medical Science yang tersedia melalui PubMed Central menegaskan AI generatif dapat menjadi alat bantu yang bermanfaat dalam penulisan ilmiah. Meski demikian, penulis tetap memegang tanggung jawab penuh atas isi naskah, mulai dari keakuratan data, analisis, interpretasi hasil, hingga kesimpulan penelitian. AI tidak dapat menggantikan peran tersebut.
AI Efektif untuk Membantu, Bukan Menggantikan
Teknologi AI dapat dimanfaatkan untuk berbagai pekerjaan teknis, seperti memperbaiki struktur kalimat, menyempurnakan tata bahasa, menerjemahkan naskah, atau membantu menyusun kerangka tulisan. Dengan begitu, penulis dapat menghemat waktu dalam proses penyuntingan.
Namun, artikel ilmiah tidak hanya dinilai dari bahasa yang rapi. Kualitas sebuah publikasi bergantung pada kemampuan penulis dalam merumuskan masalah penelitian, mengkritisi literatur, menyusun metodologi, menganalisis data, hingga menarik kesimpulan berdasarkan bukti ilmiah. Seluruh proses tersebut membutuhkan pemikiran kritis yang tidak dimiliki AI.
Integritas Akademik Tetap Menjadi Prioritas
Kajian tersebut juga mengulas bahwa berbagai penerbit ilmiah internasional memiliki pandangan serupa. AI tidak boleh dicantumkan sebagai penulis (author) karena tidak mampu bertanggung jawab atas isi publikasi. Sebaliknya, penulis manusialah yang wajib memastikan seluruh informasi telah diverifikasi dan bebas dari kesalahan maupun bias yang mungkin dihasilkan AI.
Selain itu, penggunaan AI sebaiknya dilakukan secara transparan apabila memang diminta oleh kebijakan jurnal. Transparansi ini penting untuk menjaga integritas akademik sekaligus membangun kepercayaan terhadap hasil penelitian.
Peneliti Tetap Menjadi Aktor Utama
Bagi penulis yang menargetkan publikasi di jurnal SINTA 2, AI sebaiknya diposisikan sebagai asisten, bukan sebagai pengganti peneliti. Teknologi dapat mempercepat proses menulis, tetapi kualitas sebuah artikel tetap ditentukan oleh kemampuan penulis dalam berpikir kritis, menyusun argumen yang logis, dan menghasilkan temuan yang orisinal.
Dengan kata lain, AI boleh membantu menyusun kalimat, tetapi ide, analisis, serta tanggung jawab ilmiah tetap harus berasal dari manusia. Inilah yang menjadi fondasi utama agar karya ilmiah tetap memiliki nilai akademik dan kredibilitas yang tinggi. (PubMed Central (PMC)/Z-2)

















































