Seperti halnya sampel pertama teknologi energi baru lainnya, menara CSP skala penuh pertama dengan penyimpanan energi termal mengalami awal yang kurang mulus.(©2015 Jamey Stillings)
TRANSISI global menuju energi bersih terus mendorong para ilmuwan untuk mengeksplorasi berbagai teknologi penyimpanan energi baru. Tantangan utama dari sumber energi terbarukan, seperti angin dan matahari, adalah sifatnya yang fluktuatif atau tidak selalu tersedia sepanjang waktu. Untuk mengatasi persoalan tersebut, para peneliti kini menguji berbagai inovasi baterai yang unik, mulai dari penggunaan garam cair hingga pemanfaatan keringat manusia.
Teknologi penyimpanan skala besar menjadi kunci penting agar pasokan listrik dari sumber energi terbarukan tetap stabil saat cuaca tidak mendukung atau ketika permintaan energi melonjak.
Keunggulan Teknologi Baterai Garam Cair
Salah satu teknologi yang menarik perhatian adalah baterai garam cair (molten salt battery). Sistem ini bekerja dengan cara memanaskan garam hingga mencair pada suhu tinggi, sehingga mampu menyimpan energi dalam bentuk panas. Energi termal yang tersimpan tersebut nantinya dapat dikonversi kembali menjadi listrik ketika dibutuhkan oleh jaringan daya.
Baterai berbasis garam cair dinilai memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan baterai lithium-ion konvensional, antara lain:
- Bahan Baku Melimpah: Menggunakan material garam yang relatif mudah diperoleh dan harganya terjangkau.
- Tahan Lama: Mampu bertahan dalam rentang waktu penyimpanan yang lebih panjang tanpa penurunan performa yang drastis.
- Risiko Kebakaran Rendah: Memiliki tingkat keamanan kimia yang lebih tinggi dibandingkan baterai lithium.
Inovasi ini dinilai sangat potensial untuk diterapkan pada pusat penyimpanan energi skala industri (grid-scale energy storage), membantu menjaga keseimbangan pasokan listrik di tengah meningkatnya penggunaan energi surya dan angin.
Pemanfaatan Keringat Manusia untuk Perangkat Kecil
Selain teknologi penyimpanan skala besar, para ilmuwan juga mengembangkan inovasi baterai berukuran mikro berbasis biologis. Salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah memanfaatkan cairan tubuh, seperti keringat manusia, untuk menghasilkan daya listrik.
Baterai mikro ini memanfaatkan enzim khusus untuk memecah senyawa dalam keringat, seperti asam laktat, guna memicu reaksi kimia yang menghasilkan arus listrik rendah. Teknologi ini dirancang khusus untuk mengisi daya perangkat portabel berdaya rendah, seperti sensor kesehatan yang menempel di kulit, pemantau kebugaran, hingga perangkat medis mikro.
Meskipun kapasitas daya yang dihasilkan relatif kecil dan hanya diperuntukkan bagi perangkat fleksibel, inovasi ini menjadi bukti nyata bagaimana prinsip kimia biologis dapat dimanfaatkan sebagai alternatif sumber energi mandiri tanpa bergantung pada baterai kimia tradisional.
Menuju Ekosistem Energi yang Lebih Berkelanjutan
Eksplorasi terhadap berbagai jenis baterai unik ini menunjukkan masa depan penyimpanan energi tidak hanya bertumpu pada satu jenis teknologi saja. Kombinasi antara penyimpanan skala besar seperti garam cair dan inovasi biologis skala kecil diharapkan dapat mempercepat ketercapaian ekosistem energi yang ramah lingkungan, efisien, dan berkelanjutan. (The Guardian/Z-2)

















































