CEIC Sebut  Sinyal Pelemahan Ekonomi Indonesia Menguat

19 hours ago 1
CEIC Sebut  Sinyal Pelemahan Ekonomi Indonesia Menguat : Pekerja menyelesaikan produksi pakaian di Perkampungan Industri Kecil (PIK) Penggilingan, Jakarta, Kamis (6/8/2026). Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sebesar 5,29 persen (yoy) pada triwulan II 2026 ditopang terutama oleh( ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/wsj.)

COMPOSITE Leading Indicator (CLI) milik Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) serta Leading Economic Indicator (LEI) yang diterbitkan China Economic Information Center (CEIC) mengindikasikan adanya potensi perlambatan ekonomi nasional.

CEIC sebelumnya dikenal sebagai penyedia data ekonomi Tiongkok yang kini menjadi lembaga penyedia data sekaligus analisis makroekonomi global, dalam kajian terbarunya yang berjudul Waspadai Sinyal Ekonomi Indonesia, NEXT Indonesia Center mencatat CLI OECD mengalami penurunan dari 100,73 pada Desember 2025 menjadi 99,81 pada Juni 2026. Pada periode yang hampir sama, LEI CEIC juga melemah cukup dalam, dari 102,33 pada November 2025 menjadi 92,41 pada Juni 2026. Angka tersebut menunjukkan penurunan sebesar 9,69%.

Kepala Riset NEXT Indonesia Center Ade Holis menilai pergerakan kedua indikator tersebut layak menjadi perhatian karena berlangsung bersamaan dengan pelemahan sejumlah indikator ekonomi riil.

"Pertumbuhan ekonomi Indonesia memang masih terjaga, tetapi sejumlah indikator mulai menunjukkan kehilangan tenaga. Penurunan indikator pendahulu (CLI), melemahnya keyakinan konsumen, kontraksi penjualan eceran, dan penurunan investasi domestik perlu dibaca sebagai sinyal awal yang tidak boleh diabaikan," ujar Ade dikutip pada Minggu (16/8). 

Menurut Ade, penurunan CLI dan LEI belum cukup untuk menyimpulkan bahwa Indonesia sedang menuju resesi. Meski demikian, kecenderungan penurunan pada kedua indikator tersebut memperlihatkan adanya perubahan momentum perekonomian yang mulai terjadi sejak akhir 2025.

Kajian NEXT Indonesia Center juga menemukan tekanan pada konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi. Pada semester I-2026, konsumsi rumah tangga memiliki porsi 53,82% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). 

Namun, daya dorong sektor itu mulai terlihat melemah. Berdasarkan survei Bank Indonesia, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) turun dari 123,0 pada April 2026 menjadi 117,8 pada Juni 2026.

Pelemahan kepercayaan konsumen turut tercermin dalam kinerja perdagangan eceran. Indeks Penjualan Riil (IPR) mencatat kontraksi tahunan sebesar 3,87% pada Mei 2026 dan diperkirakan kembali melemah hingga 4,44% pada Juni 2026. 

Penurunan tersebut terjadi pada beberapa kelompok komoditas, seperti makanan, minuman dan tembakau, bahan bakar kendaraan, barang budaya serta rekreasi, hingga peralatan informasi dan komunikasi.

"Ketika masyarakat mulai menahan konsumsi dan pelaku usaha domestik mengurangi ekspansi, dampaknya dapat menjalar ke produksi, pendapatan, hingga penciptaan lapangan kerja. Karena itu, menjaga daya beli dan kepercayaan dunia usaha menjadi penting untuk mencegah pelemahan berlanjut," tutur Ade.

Dari sektor investasi, kinerja Indonesia masih menunjukkan pertumbuhan. Nilai investasi sepanjang semester I 2026 mencapai Rp1.010,6 triliun, atau meningkat 7,18% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Namun, kenaikan tersebut lebih banyak ditopang oleh Penanaman Modal Asing (PMA). Nilainya bertambah 17,36%, dari Rp432,5 triliun menjadi Rp507,6 triliun. Di sisi lain, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) justru mengalami penurunan 1,45%, dari Rp510,3 triliun menjadi Rp502,9 triliun.

Perubahan tersebut turut menggeser porsi kontribusi investasi. PMA kini menyumbang 50,23% dari total investasi pada semester I-2026, naik dari 45,88% pada semester I-2025. Sementara itu, porsi PMDN menyusut dari 54,12% menjadi 49,77%.

"Investasi secara agregat memang masih ekspansif, tetapi melemahnya PMDN perlu diawasi dan tidak boleh dipandang sebagai persoalan investor semata. Ketika dunia usaha menunda pembangunan pabrik, pembelian mesin, atau pembukaan cabang baru, maka kesempatan kerja dan permintaan terhadap berbagai barang dan jasa ikut tertahan apalagi jika berlangsung lama, dampaknya akan menjalar ke konsumsi rumah tangga dan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan," ungkap Ade.

Ade juga menyoroti mulai berkurangnya dukungan dari sektor eksternal. Ekspor pada semester I-2026 masih tumbuh 3,99% menjadi US$140,8 miliar. Namun, impor tumbuh jauh lebih tinggi, mencapai 18,37% menjadi US$137,2 miliar.

Perbedaan laju pertumbuhan tersebut membuat surplus perdagangan tergerus hingga 81,64%, dari US$19,5 miliar menjadi hanya US$3,6 miliar pada Juni 2026.

Tekanan juga terlihat dari neraca perdagangan yang mengalami defisit US$1,6 miliar pada Mei 2026 dan kembali mencatat defisit US$0,5 miliar pada Juni 2026. Defisit pada Mei sekaligus menghentikan tren surplus perdagangan yang sebelumnya bertahan selama 72 bulan berturut-turut.

Melihat berbagai perkembangan tersebut, Ade menilai pemerintah perlu mengambil langkah antisipatif sebelum pelemahan berbagai indikator mulai memberikan dampak lebih besar terhadap pertumbuhan PDB.

"Ini belum waktunya berbicara soal krisis atau resesi. Namun, sinyal perlambatan sudah cukup jelas untuk menjadi dasar respons kebijakan. Pemerintah perlu menjaga daya beli, mempercepat belanja produktif, menciptakan lapangan kerja, dan memberikan kepastian regulasi agar dunia usaha domestik kembali berani melakukan ekspansi," ungkap Ade.

NEXT Indonesia Center menyimpulkan bahwa kondisi perekonomian nasional belum masuk kategori zona merah. Kendati demikian, tanda peringatan mulai semakin terlihat. Pelemahan indikator pendahulu, berkurangnya kekuatan konsumsi, penurunan PMDN, serta menyusutnya surplus perdagangan menjadi sejumlah sinyal yang perlu mendapat perhatian serius memasuki semester II 2026. (H-4)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |