Jalur ini masuk dalam daftar Warisan Dunia UNESCO karena pencapaian teknik sipilnya yang luar biasa dan keharmonisan arsitekturnya dengan alam sekitar.(Dok Istimewa)
Di berbagai belahan dunia, ada sejumlah jalur kereta api yang masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia UNESCO. Indonesia punya salah satunya! Jalur ini terletak di Sumatra Barat. Infrastruktur perkeretaapian ini memiliki jalur rel bergerigi dengan hamparan pemandangan eksotis yang memanjakan mata. Rel bergerigi atau rack railway diterapkan karena elevasi kemiringan wilayahnya mencapai 6%, terbilang lebih curam dibandingkan rel biasa yang elevasi kemiringannya sekitar 1%.
Gerigi tersebut memungkinkan lokomotif uap mengangkut kereta api melalui lereng yang curam dan menahan agar tidak mengalami kesulitan saat menanjaki jalur rel di pegunungan. Sayangnya, kini jalur rel kereta api tersebut sudah nonaktif. Para pelancong dapat menyimak kisahnya di Museum Kereta Api Sawahlunto, Kota Sawahlunto, Sumatra Barat, termasuk melihat sosok Mak Itam, sang kereta legendaris.
Jalur kereta lainnya yang juga mendapat pengakuan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO berlokasi di Iran. Berawal dari ibu kota Iran, Teheran, jalur ini terhubung dengan Teluk Persia dan Laut Kaspia, hingga melewati empat wilayah dengan iklim yang juga berbeda.
Berikutnya, ada jalur Bernina Express yang kini menjadi salah satu favorit pelancong asal Indonesia saat berwisata ke Eropa dan memasukkan Swiss dalam daftar kunjungannya. Jalur Bernina masuk dalam daftar Warisan Dunia UNESCO sejak 2008 karena melewati sejumlah infrastruktur perkeretaapian bersejarah, termasuk terowongan spiral dan jembatan ikonik.
Panjang rutenya 122 kilometer, sarat panorama alam serta kisah sejarah dari berbagai bangunan yang dilewati dan digunakan. Jalur ini masuk dalam daftar Warisan Dunia UNESCO karena pencapaian teknik sipilnya yang luar biasa dan keharmonisan arsitekturnya dengan alam sekitar. Kereta merah ikonik ini akan melintasi 55 terowongan dan 196 jembatan.
Beberapa spot terbaik yang paling dinantikan meliputi Landwasser Viaduct, jembatan melengkung setinggi 65 meter yang langsung masuk ke dalam terowongan di tebing batu; Ospizio Bernina, titik tertinggi dari jalur ini yang berada di ketinggian 2.253 meter di atas permukaan laut, yang menyuguhkan pemandangan gletser dan Danau Lago Bianco; serta Brusio Circular Viaduct, jembatan spiral terbuka 360 derajat yang dirancang agar kereta bisa turun ke lembah yang curam tanpa bantuan roda gigi tambahan.
Operator yang bisa dipilih untuk melintasi jalur ini adalah Rhaetian Railway atau Rhätische Bahn, perusahaan perkeretaapian lokal yang juga menggunakan armada yang diproduksi di Swiss. Rutenya membentang dari kawasan utara Swiss hingga Tirano di Italia Utara yang tentunya bisa dilewati cukup bermodal visa Schengen.
Panorama yang terhampar meliputi pegunungan Alpen, gletser, danau, lembah, hingga lanskap khas kawasan selatan Swiss yang semakin mendekati nuansa Mediterania.
Istimewanya, kini tersedia Bernina Express Pullman Class yang mengusung konsep perjalanan kereta mewah bergaya era 1930-an. Gerbong dirancang dengan interior kayu, gaya art deco, dan kursi berlengan untuk menghadirkan suasana perjalanan kereta klasik. Namun, yang paling istimewa adalah fitur jendela tembus pandang hingga ke atap.
"Tiket yang dikenakan, jika dikonversi ke rupiah, mencapai Rp13,5 jutaan untuk perjalanan selama empat jam. Hanya ada 32 penumpang dalam setiap perjalanan yang dilengkapi layanan kuliner serta para staf yang di Indonesia disebut prama dan prami," kata Market Manager Asia Pacific Rhaetian Railway Patrick Miescher di Jakarta, Jumat (14/8).
Miescher menjelaskan, di Indonesia, pemasaran wisata ini dilakukan mayoritas melalui biro perjalanan yang saat ini lazim menjual paket perjalanan mulai 11 hari dengan harga Rp30 jutaan ke atas. Kendati begitu, para pelancong yang tidak menggunakan jasa biro perjalanan juga bisa memesan melalui situs Rhaetian Railway.
"Orang Indonesia umumnya menggunakan jasa biro untuk wisata ke Eropa untuk perjalanan pertamanya, baru berikutnya, jika ingin pergi kembali, mereka cukup percaya diri pergi sendiri," kata Perwakilan Rhaetian Railway untuk Indonesia, Fabian Sukrisman.
Rute Bernina Express, kata Fabian, akan melintasi 55 terowongan dan 196 jembatan serta jalur dengan elevasi yang beragam. Salah satu titik tertinggi perjalanan berada di Ospizio Bernina, pada ketinggian 2.253 meter di atas permukaan laut. Dari kawasan tersebut, wisatawan dapat menikmati pemandangan Lago Bianco dan lanskap Pegunungan Bernina sebelum kereta melanjutkan perjalanan menuju kawasan Poschiavo dan Tirano.
Perjalanan kemudian berlanjut menuju Alp Grüm, salah satu titik panorama paling mengesankan di sepanjang rute. Dari sini, wisatawan dapat melihat Gletser Palü, Lembah Poschiavo, hingga kawasan Italia.
Tersedia pula kompartemen untuk menyimpan koper karena titik keberangkatan dan kepulangan berada di wilayah berbeda. "Ada pula pemberitahuan di setiap lokasi penting dan bersejarah sehingga para penumpang bukan cuma menikmati panorama, tetapi juga mendapatkan pengetahuan. Bulan yang kami rekomendasikan adalah Desember hingga April," kata Miescher. (X-6)


















































