PENELITI Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Widodo Setiyo Pranowo, mengatakan sinyal awal upwelling telah muncul di perairan selatan Indonesia. Fenomena pengangkatan massa air bawah laut ke permukaan itu, menurutnya, sering kali berkontribusi terhadap peningkatan produktivitas perairan dan potensi sumber daya perikanan.
Dari hasil kajiannya berdasarkan prediksi parameter oseanografi periode 1-7 Juni 2026, upwelling mulai terlihat di beberapa wilayah perairan Indonesia dengan intensitas pada kategori lemah hingga sedang dan belum merata. Indikasi upwelling itu di wilayah selatan Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Laut Sawu, dan Laut Timor.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Menurut Widodo, prediksi upwelling berdasarkan data dari model global yang menggunakan hasil data satelit serta pengukuran langsung di laut oleh instrumen robotic autonomous float yang tersebar di Samudra Hindia dan Pasifik, serta stasiun pasang surut regional yang tersebar di pantai beberapa negara.
Widodo mengatakan proses upwelling ditandai oleh arus vertikal yang menuju ke atas dari kedalaman tertentu di laut sambil membawa massa air bersuhu lebih dingin. “Di dalamnya (arus) terkandung nutrien seperti fosfat, nitrat, silikat, dan besi terlarut,” ujarnya kepada Tempo, Rabu, 10 Juni 2026.
Nutrien itu kemudian digunakan oleh fitoplankton untuk memproduksi biomassa menjadi lebih banyak. Caranya dengan menggunakan klorofil yang terkandung di fitoplankton dibantu oleh energi sinar matahari.
Selain biomassa, dihasilkan pula oksigen terlarut. Fitoplankton kemudian dimangsa oleh zooplankton. Lalu zooplankton dimangsa ikan kecil hingga dimakan ikan besar. “Dunia usaha perikanan termasuk nelayan berpotensi mendapat manfaat pertama dari upwelling,” katanya.
Saat ini, menurut Widodo, awal terjadinya upwelling tergolong dalam waktu yang normal. Masa puncak upwelling lazimnya terjadi pada Juli hingga Agustus. Kondisinya masih perlu terus dipantau apakah pertumbuhan fitoplankton akan lebih cepat atau lebih luas. “Dengan adanya El Nino, bisa saja waktunya bisa bertambah hingga September atau Oktober,” ujarnya. Di sisi lain ada potensi dampak buruk yang harus diwaspadai ketika yang tumbuh berkembang pesat adalah fitoplankton beracun karena berisiko pada ikan.
Dari laman BRIN, fenomena upwelling ditandai oleh penurunan suhu permukaan laut, peningkatan salinitas, keberadaan arus vertikal ke atas, serta kenaikan konsentrasi klorofil. Kombinasi faktor-faktor tersebut menunjukkan mulai terangkatnya massa air kaya nutrien dari lapisan dalam ke permukaan yang mendapat paparan sinar matahari.
Fenomena upwelling merupakan proses alami yang memainkan peran penting dalam ekosistem laut. Ketika massa air dari kedalaman laut naik ke permukaan, nutrien yang terbawa akan merangsang pertumbuhan fitoplankton sebagai fondasi rantai makanan laut.
Selain di perairan selatan Indonesia, BRIN juga menemukan indikasi peningkatan produktivitas perairan di sejumlah wilayah lain, antara lain Laut Banda bagian selatan-tenggara, Laut Arafura, perairan barat Sumatera hingga Laut Andaman, serta kawasan selatan Selat Makassar menuju Laut Flores. Menurut Widodo, peningkatan produktivitas di Laut Arafura kemungkinan dipengaruhi oleh proses pencampuran massa air akibat angin dan pasang surut di wilayah paparan dangkal.
Sementara itu beberapa wilayah perairan Indonesia masih belum menunjukkan tanda-tanda upwelling yang signifikan. Wilayah seperti Selat Malaka, Selat Karimata, Laut Jawa, bagian selatan Laut China Selatan, Laut Halmahera, Laut Sulawesi, serta perairan Pasifik barat di utara Papua hingga timur Filipina masih didominasi perairan yang relatif hangat dengan konsentrasi klorofil laut lepas yang rendah hingga sedang.


































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5495647/original/074499000_1770385031-barba.jpeg)











