Prabowo: Jika Trump Undang ke AS, Berani Saya Tak Datang?

3 hours ago 1

PRESIDEN Prabowo Subianto mengaku dapat banyak undangan untuk berkunjung ke luar negeri dari pemimpin negara-negara sahabat. Prabowo bercerita, undangan di antaranya ia terima saat prosesi penyerahan kredensial duta besar negara sahabat pada 8-9 Juni 2026. Ketika itu ada 18 duta besar yang hadir di Istana Kepresidenan Jakarta.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

"Hampir semuanya menyampaikan undangan dari presiden dan perdana menteri masing-masing, 'Kami berharap Presiden Indonesia dapat berkunjung ke negara kami'. Bayangkan, 18 negara. Terbangnya sudah klenger aku," kata Prabowo saat berpidato di Lampung, Rabu, 10 Juni 2026 seperti disiarkan Sekretariat Presiden.

Menurut Ketua Umum Partai Gerindra ini, Indonesia adalah negara nonblok yang berhubungan baik dengan berbagai negara. Indonesia, kata dia, saat ini disukai dan dicari-cari negara lain karena dikenal tidak mau punya musuh.

Maka dari itu, ia menilai, wajar jika presiden mendapat banyak undangan ke luar negeri. "Inilah risiko negara yang sahabatnya banyak," ucap Prabowo.

Ia berujar Indonesia juga merupakan anggota banyak organisasi internasional, seperti APEC, OKI, BRICS, hingga G20. Karena itu, ia merasa harus memenuhi undangan kepala negara lain untuk memelihara hubungan baik.

Presiden Prabowo mengklaim setiap lawatan ke luar negeri adalah untuk membela kepentingan rakyat Indonesia. Ia pun menyinggung orang-orang yang kerap mempermasalahkan frekuensi kunjungannya ke luar negeri. Prabowo menyebut mereka sebagai orang yang "sok lebih pintar dari segala-galanya".

Mantan Menteri Pertahanan ini menyampaikan, ada undangan-undangan yang tak bisa ia tolak. Contohnya apabila pemimpin negara adidaya, seperti Presiden Amerika Serikat Donald Trump, mengundangnya berkunjung.

"Sekarang kalau ada negara superpower, katakanlah Presiden Trump, mengundang saya ke Amerika. Berani saya enggak datang? Hah? Kalau Presiden AS mengundang dan Presiden Indonesia enggak hadir, hah? Coba saja," ucap Prabowo.

Jika sudah memenuhi undangan Amerika Serikat, ia menyampaikan, otomatis dirinya juga harus memenuhi ajakan berkunjung ke negara-negara kuat lainnya. "Sudah Presiden Amerika mengundang, Presiden Rusia mengundang juga. Gue nongol di Washington, tapi gue enggak nongol di Moskow? Enggak bisa saudara-saudara," tuturnya.

"Sehabis itu diundang lagi oleh Presiden (Cina) Xi Jin Ping, ya gue hadir. Boleh enggak? Diundang lagi oleh India. India populasinya 1,4 miliar orang, pasarnya besar, teknologinya hebat. Brasil juga sama," ucap Prabowo.

Intensitas kunjungan Prabowo ke luar negeri sebelumnya disorot berbagai pihak. Salah satunya pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal, yang menyampaikan saran kepada Presiden Prabowo untuk mengurangi bepergian ke luar negeri.

Mantan Wakil Menteri Luar Negeri ini mencatat selama menjabat presiden, Prabowo menghabiskan 1 dari total 6 harinya di luar negeri. Sehingga ia tak heran kalau ada yang menyebut perjalanan dinas luar negeri ini tidak lazim.


Eka Yudha Saputra berkontribusi dalam penulisan artikel ini
Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |