Ilustrasi(Dok BPBD Manggarai)
BADAN Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mencatat sebanyak 19.297 unit rumah mengalami kerusakan akibat gempa yang mengguncang wilayah Flores pada Sabtu (15/8).
Data tersebut merupakan hasil pendataan sementara hingga Selasa (18/8) pukul 09.00 Wita. Kerusakan tersebar di delapan kabupaten, yakni Manggarai, Manggarai Barat, Manggarai Timur, Ende, Sikka, Ngada, Nagekeo, dan Sumba Timur.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi NTT, Mahadin Sibarani, mengatakan jumlah kerusakan tersebut masih dapat berubah karena proses verifikasi di lapangan masih berlangsung.
“Data kerusakan rumah ini merupakan hasil pendataan sementara dan masih dapat berubah sesuai hasil verifikasi di lapangan,” kata Mahadin.
Berdasarkan tingkat kerusakan, BPBD NTT mencatat 6.463 rumah rusak berat, 2.481 rumah rusak sedang, dan 12.006 rumah rusak ringan.
Manggarai Timur menjadi daerah dengan jumlah rumah terdampak paling banyak, mencapai 7.480 unit. Dalam data BPBD, angka tersebut tercatat sebagai total kerusakan rumah, sementara rincian berdasarkan kategori rusak berat, sedang, dan ringan belum tersedia secara terpisah.
Di Manggarai Barat, sebanyak 3.493 rumah mengalami kerusakan. Jumlah itu terdiri dari 1.410 rumah rusak berat, 635 rusak sedang, dan 1.448 rusak ringan.
Sementara itu, Kabupaten Manggarai mencatat 1.983 rumah terdampak. Sebanyak 1.597 rumah masuk kategori rusak berat, 263 rusak sedang, dan 123 rusak ringan.
Kerusakan juga terjadi di Nagekeo dengan total 2.862 rumah. Dari jumlah tersebut, 1.373 rumah rusak berat, 260 rusak sedang, dan 1.229 rusak ringan.
Di Ngada, BPBD mencatat 2.296 rumah terdampak. Rinciannya adalah 698 rumah rusak berat, 465 rusak sedang, dan 1.133 rusak ringan.
Selanjutnya, Ende mencatat 951 rumah rusak, yang terdiri atas 285 rumah rusak berat, 149 rusak sedang, dan 537 rusak ringan.
Adapun di Sikka, terdapat 227 rumah terdampak. Sebanyak 158 rumah mengalami rusak berat, 18 rusak sedang, dan 51 rusak ringan.
Sementara Sumba Timur menjadi daerah dengan jumlah kerusakan paling sedikit, yakni lima rumah. Seluruh rumah yang terdampak di wilayah tersebut masuk kategori rusak ringan.
Pendataan Jadi Dasar Penanganan Pascagempa
Mahadin menegaskan, pendataan kerusakan rumah menjadi salah satu aspek penting dalam penanganan pascabencana. Data tersebut diperlukan untuk menentukan kebutuhan bantuan, memperbaiki rumah warga, hingga memulihkan fasilitas pelayanan publik yang terdampak.
BPBD NTT bersama pemerintah kabupaten terus memperbarui data kerusakan dan dampak gempa. Pemutakhiran dilakukan agar bantuan serta proses pemulihan dapat disesuaikan dengan kondisi masyarakat di masing-masing wilayah.
“Yang paling penting adalah memastikan kebutuhan masyarakat terdampak terdata dengan baik sehingga proses penanganan dan pemulihan dapat dilakukan sesuai kondisi di lapangan,” ujar Mahadin. (Ant/E-4)


















































