CANTIKA.COM, Jakarta - Sebanyak 16 perempuan muda berbakat dari berbagai wilayah di Indonesia mendapat kesempatan langka mengintip dapur kepemimpinan level puncak. Melalui program "CEO for a Day Indonesia: Women Shaping Tomorrow", mereka membayangi (shadowing) langsung para pimpinan perempuan dan eksekutif senior dari entitas PBB, perusahaan multinasional, hingga organisasi hukum.
Inisiatif yang digagas PBB di Indonesia bersama AmCham Indonesia Women Network dan UN Global Compact Network Indonesia (IGCN) ini ditutup lewat forum kepemimpinan bertepatan dengan momen International Youth Day setiap 12 Agustus. Program ini hadir sebagai jawaban atas masih minimnya keterwakilan perempuan di posisi strategis dan pengambil keputusan.
Akses Mentoring dan Akselerasi Potensi Perempuan Muda
Kepala Perwakilan PBB di Indonesia, Gita Sabharwal, menegaskan bahwa pemberdayaan perempuan muda merupakan pilar utama dalam mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dan mendorong inklusivitas.
"Perjalanan seorang pemimpin selalu dimulai dari sebuah proses. Melalui kesempatan belajar langsung dari pimpinan perempuan, generasi muda diharapkan memperoleh perspektif dan pengalaman nyata untuk menciptakan perubahan positif," ujar Gita di Jakarta.
Peserta berusia 18–25 tahun ini dipilih berdasarkan komitmen mereka pada isu sosial, mulai dari aksi iklim, kewirausahaan, hingga advokasi komunitas. Selama program, mereka diajak menghadiri rapat penting, mengamati pengambilan keputusan strategis, hingga berdiskusi mendalam seputar budaya organisasi dan tantangan karier profesional.
Juliana Cen, Managing Director HP Indonesia, Dwi Faiz Yulianti, Head of Programme UN Women Indonesia, dan Nurmaria Sarosa, Founder PT Selaras Logistik Indonesia, berfoto bersama para peserta yang mengikuti kegiatan shadowing bersama mereka dalam program CEO for a Day Indonesia: Women Shaping Tomorrow. Foto: Dok. UN
Mentoring Lintas Generasi: Dobrak Imposter Syndrome
Salah satu mentor, Elim Sritaba (Wakil Ketua Umum Bidang dan Tata Kelola Berkelanjutan APP Group), soroti pentingnya ekosistem pendukung untuk membantu perempuan keluar dari zona nyaman. Menurutnya, keraguan terhadap kemampuan diri sendiri (imposter syndrome) kerap menjadi hambatan utama perempuan di Asia Tenggara saat menghadapi tantangan baru.
“Saat keluar dari comfort zone, kita sering ragu apakah mampu atau tidak. Di situlah kita butuh support system yang meyakinkan bahwa kita pasti bisa,” ungkap Elim.
Bagi Elim, mentoring adalah ruang belajar dua arah. Selain membagikan pengalaman melewati krisis karier, ia juga memetik pelajaran dari pola pikir kritis generasi muda saat ini.
Salah satu momen berkesan baginya adalah saat berdiskusi dengan mentee yang menjadi generasi pertama di keluarganya untuk meraih pendidikan tinggi. Hal ini membuktikan pentingnya keberanian anak muda mendobrak batasan sosial demi membuka jalan bagi lingkungan sekitarnya.
Komitmen Dunia Usaha Dorong Kesetaraan Gender
Dukungan nyata dari sektor swasta dan organisasi global menjadi kunci sukses terselenggaranya program ini. Berbagai institusi papan atas turut meluncurkan kepemimpinan inklusif ini, antara lain:
- Sektor Hukum & Bisnis: HHP Law Firm, AmCham Indonesia, Kiroyan Partners.
- Korporasi & Teknologi: HP Indonesia, Dynapack Asia, APP Group, TBS Energi Utama, Selaras Logistik Indonesia, AHANA, Bee Well Indonesia.
- Badan PBB: ILO, UNESCO, UNHCR, UN Women, serta Kantor Kepala Perwakilan PBB Indonesia.
Managing Director AmCham Indonesia, Donna Priadi, menuturkan bahwa kepemimpinan tidak cukup hanya dipelajari lewat teori di kelas, melainkan butuh jam terbang, rasa ingin tahu, dan keberanian mengambil risiko secara nyata.
Senada dengan Donna, Presiden UN Global Compact Network Indonesia, Y. W. Junardy, menambahkan bahwa sektor swasta memegang peranan krusial dalam menciptakan jalur karier yang setara. Lingkungan kerja yang inklusif serta program mentoring berkelanjutan adalah investasi jangka panjang untuk melahirkan generasi pemimpin perempuan Indonesia berikutnya.
Program CEO for a Day Indonesia sendiri diluncurkan pada Juni 2026 silam dan ditujukan bagi perempuan muda berusia 18–25 tahun yang aktif berkontribusi terhadap SDGs. Latar belakang kontribusi peserta beragam, mulai dari kegiatan sukarelawan, pendidikan, aksi iklim, kewirausahaan, advokasi, inovasi, hingga pengembangan komunitas.
Pilihan Editor: Bicara soal Pemilihan Presiden, Cinta Laura: Kita Harus Pilih Pemimpin yang Tepat
ECKA PRAMITA
Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.

















































