Karhutla Ancam Papua Tengah, BMKG Deteksi 279 Titik Panas di Nabire

3 hours ago 3
Karhutla Ancam Papua Tengah, BMKG Deteksi 279 Titik Panas di Nabire Sebaran titik panas di Papua Tengah.(Dok. BMKG)

BADAN Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Nabire melaporkan lonjakan signifikan jumlah titik panas di wilayah Papua Tengah. Pada periode 20-21 Agustus 2026, tercatat sebanyak 279 titik panas muncul di Kabupaten Nabire, menjadikannya wilayah dengan konsentrasi titik panas terbanyak di provinsi tersebut.

Prakirawan BMKG Nabire, Eusebio A., mengungkapkan bahwa secara keseluruhan terdapat 512 titik panas yang terdeteksi di Papua Tengah. Dari jumlah tersebut, 94 titik masuk kategori tingkat kepercayaan rendah, 409 titik kategori sedang, dan sembilan titik kategori tinggi.

“Dengan ditemukannya 512 titik panas di Papua Tengah dan 279 di antaranya berada di Nabire, kewaspadaan masyarakat menjadi salah satu faktor penting dalam mencegah kebakaran meluas,” ujar Eusebio di Nabire, Jumat (21/8).

Data BMKG menunjukkan Nabire menyumbang sekitar 54,5 persen dari total titik panas di Papua Tengah. Sebaran titik panas lainnya tercatat di Kabupaten Dogiyai sebanyak 72 titik, Paniai 54 titik, Puncak 45 titik, dan Intan Jaya 44 titik. Sementara itu, Kabupaten Deiyai mencatat 11 titik dan Puncak Jaya tujuh titik. Kabupaten Mimika menjadi satu-satunya wilayah yang nihil titik panas dalam periode pemantauan ini.

Secara akumulatif, jumlah titik panas di Papua Tengah mengalami kenaikan drastis sebesar 108,1 persen atau meningkat 266 titik dibandingkan pemantauan sebelumnya yang hanya mencatat 246 titik. Kenaikan paling tajam terjadi di Nabire, yang melonjak dari 113 menjadi 279 titik panas.

Eusebio memperingatkan bahwa peningkatan titik panas ini merupakan indikator awal potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama jika didukung kondisi cuaca yang memicu penyebaran api. BMKG mengimbau masyarakat untuk menghentikan aktivitas pembakaran lahan, pembersihan kebun dengan api, maupun pembakaran sampah sembarangan.

Selain risiko kebakaran, BMKG juga menyoroti potensi gangguan jarak pandang akibat asap yang dapat mengarah ke permukiman, fasilitas umum, hingga Bandara Douw Aturure. Hal ini dikhawatirkan dapat mengganggu keselamatan dan kelancaran operasional penerbangan.

Masyarakat diminta segera melaporkan temuan asap atau titik api kepada pihak berwenang. Bagi warga yang beraktivitas di luar ruangan, disarankan menggunakan masker dan membatasi durasi kegiatan jika kualitas udara mulai memburuk akibat kabut asap. (Ant/H-3)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |