Kebakaran Savana di TN Tambora Terus Meluas, Upaya Pemadaman Masih Dilakukan

3 hours ago 2
Kebakaran Savana di TN Tambora Terus Meluas, Upaya Pemadaman Masih Dilakukan Upaya pemadaman kebakaran savana TN Tambora.(Dok. Kemenhut)

KEMENTERIAN Kehutanan (Kemenhut) terus melakukan upaya intensif untuk mengendalikan kebakaran lahan yang melanda sekitar 1.956 hektare kawasan savana di Taman Nasional (TN) Tambora. Kebakaran savana TN Tambora ini tidak hanya mengancam habitat satwa liar dan kawasan konservasi bernilai tinggi, tetapi juga berpotensi mengganggu kualitas udara serta aktivitas wisata alam yang menjadi penopang ekonomi masyarakat sekitar.

Operasi pemadaman dilakukan secara terpadu oleh Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara (Balai Dalkarhut Jabalnusra), Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan, Balai TN Tambora, serta Masyarakat Peduli Api (MPA).

Dampak Terhadap Ekosistem dan Masyarakat

Taman Nasional Tambora merupakan kawasan pelestarian alam seluas 71.645,64 hektare yang telah ditetapkan UNESCO sebagai Cagar Biosfer Dunia. Kawasan ini menjadi habitat penting bagi satwa dilindungi seperti Kakatua Kecil Jambul Kuning, Nuri Kepala Merah, Kirik-kirik Australia, dan Rusa Timor.

Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan, Dwi Januanto Nugroho, menegaskan bahwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) adalah persoalan kepentingan publik. "Ketika hutan terbakar, masyarakat sekitar menjadi pihak yang pertama merasakan dampaknya, mulai dari kualitas udara hingga aktivitas ekonomi. Pengendalian kebakaran membutuhkan kolaborasi seluruh pihak agar pencegahan menjadi budaya bersama," tegas Januanto, Jumat (10/7).

Ia juga menambahkan bahwa setiap pelanggaran hukum yang terbukti menyebabkan kebakaran akan ditindak tegas sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Kronologi dan Kendala Lapangan

Kebakaran pertama kali terdeteksi pada Minggu (5/7) pukul 13.30 WITA di Resort Piong. Api cepat meluas akibat kombinasi beberapa faktor alam, antara lain:

  • Kondisi cuaca yang sangat kering.
  • Vegetasi savana yang mudah terbakar.
  • Hembusan angin kencang dan topografi pegunungan yang terjal.
  • Keterbatasan sumber air di lokasi kebakaran.

Menanggapi situasi tersebut, Kemenhut menurunkan satu regu Manggala Agni dari Seksi Wilayah III Mataram untuk memperkuat personel di Kabupaten Bima. Sinergi antara petugas balai, Manggala Agni, dan MPA menjadi kunci dalam mempercepat respons lapangan guna melindungi kawasan yang masih dapat diselamatkan.

Strategi Pemadaman dan Pemulihan

Kepala Balai Dalkarhut Jabalnusra, Bambang Setyo Antoko, menjelaskan bahwa strategi pemadaman terus disesuaikan dengan karakteristik medan Tambora. "Karakteristik savana membuat api menjalar cepat. Kami fokus menekan laju penyebaran dengan mengutamakan keselamatan personel dan perlindungan kawasan inti," jelasnya.

Sementara itu, Kepala Balai TN Tambora, Abdul Azis Bakry, memastikan bahwa upaya perlindungan akan berlanjut hingga tahap pemulihan. "Setelah api terkendali, kami akan melakukan pemulihan kawasan secara bertahap, penguatan patroli, serta deteksi dini dengan melibatkan masyarakat agar fungsi ekologis Tambora tetap terjaga jangka panjang," pungkasnya. (H-3)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |