Lukisan Jan Brueghel Abad ke-17 Rekam Perilaku Langka Kelelawar Pemangsa Burung

3 hours ago 2
Lukisan Jan Brueghel Abad ke-17 Rekam Perilaku Langka Kelelawar Pemangsa Burung Lukisan karya Jan Brueghel the Elder pada 1611 menampilkan seekor kelelawar malam besar (Nyctalus Lasiopterus) terbang sambil mengapit burung di mulutnya.(Dok: Wikimedia Commons)

SEBUAH studi terbaru mengungkap detail tersembunyi dalam lukisan abad ke-17 berjudul Air (Udara) karya Jan Brueghel the Elder yang merekam perilaku langka kelelawar raksasa memangsa burung saat terbang. Temuan pada karya seni tahun 1611 ini mengejutkan dunia sains karena perilaku ekstrem tersebut baru resmi didokumentasikan secara ilmiah pada tahun 2025.

Detail unik ini pertama kali diidentifikasi oleh ekolog Pedro Romero-Vidal. Dalam lukisan alegoris tersebut, ia menemukan sosok kelelawar di sudut kanan atas yang tampak terbang sambil mengapit seekor burung di mulutnya.

Berdasarkan analisis anatomi dan akurasi satwa di sekitarnya, peneliti meyakini spesies tersebut adalah kelelawar malam besar (greater noctule bat).

Penemuan ini menjadi signifikan karena spesies yang digambarkan Brueghel identik dengan subjek dalam jurnal ilmiah tahun 2025 yang mengungkap perilaku serupa.

Hal ini membuktikan bahwa seni visual mampu merekam fenomena sejarah alam yang sering kali luput dari pengamatan sains selama berabad-abad.

Jan Brueghel the Elder memang dikenal sebagai pelukis yang sangat presisi dalam menggambarkan fauna. Selain spesies Eropa, lukisan tersebut menampilkan burung paruh betet Afrika hingga cenderawasih Raggiana dari Asia Tenggara.

Keberagaman spesies ini sekaligus mencerminkan luasnya jaringan perdagangan global pada awal abad ke-17.

Namun, para peneliti memberikan catatan kritis terkait aspek teknis perilaku tersebut. Miguel Clavero, peneliti dari Estacion Biologica de Donana, menyebutkan adanya unsur kebebasan artistik dalam penggambaran tersebut. Secara biologis, kelelawar sulit terbang jika mulutnya terhalang mangsa karena mereka membutuhkan mulut yang terbuka untuk melakukan ekolokasi.

"Pelukis tidak mungkin mengamati langsung seekor kelelawar membawa burung di mulutnya saat terbang karena kendala ekolokasi tersebut," ujar Clavero. Meski demikian, akurasi Brueghel dalam memilih spesies tetap dianggap luar biasa.

Para peneliti menduga Brueghel mendapatkan informasi ini bukan dari pengamatan langsung di udara, melainkan dari cerita lisan atau temuan sisa-sisa bulu burung di lantai gua saat ia melakukan perjalanan ke Italia. Informasi tersebut kemudian diintegrasikan ke dalam karyanya dengan tingkat ketelitian yang melampaui zamannya. (IFLScience/Z-10)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |