PULUHAN pelajar dan guru muda diajak menyambangi dunia literasi masa silam zaman kerajaan. Caranya lewat mengukir rangkaian aksara Sunda dengan ujung pisau pada daun lontar.
“Praktik seperti ini menjadi cara masuk untuk mengenalkan budaya dan menjadi pengalaman baru bagi generasi muda,” kata dosen Sastra Sunda Universitas Padjadjaran Rahmat Sopian.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Kegiatan menulis aksara Sunda pada daun lontar itu berlangsung dalam gelaran Museum Sri Baduga Bandung, Kamis, 18 Juni 2026. Seorang guru muda, Sonya Putri, 27 tahun, tertarik ikut karena menyukai budaya Sunda. Di sela waktu liburan anak sekolah, ia menjajal pengalaman baru menulis aksara Sunda di atas daun lontar. “Susah banget karena hasil tulisannya tidak bisa langsung terlihat jadi enggak rapi,” katanya.
Kalishia, pelajar SMAN 27 Bandung, juga mengalami kesulitan yang sama. Saat mengukir dengan menggunakan tangan di bagian pegangan pisau berbahan kayu, torehan hurufnya dinilai belum berhasil. Agar hasilnya maksimal, peserta memegang langsung pada bagian ujung pisau.
Daun lontar yang dipakai didatangkan dari Bali dengan bentuk persegi panjang seperti mistar atau penggaris. Penulisannya menggunakan ujung pisau untuk menorehkan huruf pada daun. Hasil tulisan baru bisa terlihat ketika digosok dengan minyak dari kemiri yang dibakar sehingga muncul warna hitam pada hasil torehan.
Menurut Rahmat aktivitas serupa telah dilakukan masyarakat zaman dulu untuk beberapa keperluan. Dari artefak yang ditemukan, salah satunya naskah pada daun lontar di Kabuyutan Ciburuy, Desa Pamalayan Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut, Jawa Barat, berumur sekitar 300 tahun.
Menurut Rahmat, berdasarkan siklusnya penulisan, naskah pada daun lontar harus ditulis ulang setelah 200 tahun atau dua abad karena faktor bahan yang rusak. Di Kabuyutan Ciburuy diketahui ada 20 naskah daun lontar yang ditulis dengan aksara Sunda Kuno, dan lima naskah ditulis dengan aksara Budha. “Isinya beragam ada cerita, ajaran agama, adaptasi cerita India, dan yang ilmiah seperti jenis padi dan hewan,” katanya.
Berdasarkan data sejarah, di Jawa Barat telah digunakan tujuh jenis aksara yaitu Pallawa, Pranagari, Sunda Kuno, Jawa atau Carakan, kemudian Arab alias Pegon, Cacarakan, serta Latin. Penggunaan aksara dimulai sejak abad ke-5 Masehi pada masa Kerajaan Tarumanagara yang diketahui dari temuan prasasti. Menurut Rahmat, jenis aksara yang dipakai di Tatar Sunda tergolong lengkap dan sampai sekarang masih bisa mengikuti perkembangan zaman. “Aksara Sunda sekarang mengikuti alfabet yang berjumlah 26 huruf,” ujarnya.
Sejak 1997, menurutnya, ada aksara Sunda terbaru yang menghilangkan beberapa huruf dan menambah karakter seperti f, v, x, dan z. Menurut Rahmat adopsi huruf itu dari bahasa lain sah dilakukan. “Ada tambahan huruf yang modern dan bentuk hurufnya dibuat baru,” kata dia.































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5495647/original/074499000_1770385031-barba.jpeg)














:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5414491/original/012054700_1763287155-530668458_18471777553074306_380593477510268437_n__1_.jpg)


