Kualitas udara di Pekanbaru Riau akibat karhutla(MI/Rudy Kurniawansyah)
KUALITAS udara di Pekanbaru, Riau, terus memburuk hingga mencapai level berbahaya akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi udara berada pada posisi tingkat polusi pencemaran partikulat matter PM2.5 sebesar 318.0 mikrogram per meter kubik (µg/m³) atau berbahaya sejak pukul 20.00 WIB, Senin (24/8).
Hal itu berdasarkan grafik riwayat partikulat matter PM2.5 yang dilansir dari situs resmi BMKG. Adapun sepanjang hari, kualitas udara di Kota Pekanbaru juga telah memburuk atau berada pada level Sangat Tidak Sehat.
"Malam ini Pekanbaru sangat mengerikan. Suasananya mencekam sekali penuh dengan kabut asap tebal dari Karhutla. Kita terasa tercekik sulit bernafas karena semua (di dalam dan di luar) sudah bau asap," kata Yola, warga Pekanbaru, Senin (24/8) malam.
Kondisi jalanan Kota Pekanbaru yang biasanya ramai pada malam hari berubah menjadi sedikit sepi. Sebagian besar warga memilih berada di dalam rumah daripada beraktivitas di luar rumah. Namun para pedagang makanan malam masih tetap berjualan seperti biasa.
Koordinator Jaringan Kerja Penyelamat Hutan (Jikalahari) Riau Okto Yugo Setiyo mengatakan Presiden Prabowo Subianto seharusnya mengecek masyarakat langsung.
“ Mestinya mengecek kinerja bawahannya dan tak buru-buru mempercayai laporannya begitu saja. Faktanya seminggu terakhir justru Hotspot meningkat” kata Okto.
Mengacu pada situs IQAir selama dua minggu terakhir, 10-24 Agustus 2026 ISPU di Riau berada pada level tidak sehat hingga sangat tidak sehat akibat polusi asap. Pada 24 Agustus 2026 ISPU berada pada angka 256 dalam kategori sangat tidak sehat.
“Plt. Gubernur belum melakukan apa-apa untuk menjamin keselamatan korban, padahal warga yang terdampak polusi asap dan menderita ISPA terus bertambah mencapai 376 kasus di Agustus 2026 saja” kata Okto.
Buruknya kualitas udara sejalan dengan tingginya hotspot dan temuan Jikalahari di lapangan. Analisis Jikalahari menggunakan citra satelit Suomi NPP–VIIRS periode Januari–Agustus 2026 mendeteksi terdapat 4.492 hotspot di Riau dan pada periode Agustus saja, hotspot mencapai 1.083. Dari total tersebut, sebanyak 3.330 titik atau 74 persen berada di lahan gambut. Sebanyak 875 hotspot atau 19,4 persen berada dalam kawasan konsesi perusahaan, terdiri dari 214 hotspot di konsesi HTI dan 661 hotspot di perkebunan kelapa sawit.
Temuan lapangan Jikalahari pada 1–24 Agustus 2026 menunjukkan lahan bekas terbakar diduga berada di lima konsesi, yaitu PT Arara Abadi, PT RAPP Blok Mandau, PT Tani Subur Makmur, PT Sari Lembah Subur, dan PT Teguh Karsa Wana Lestari dengan total luas sekitar 583 hektare.
“ Sayang sekali jika Presiden hanya datang sebatas rapat mendengarkan laporan. Tinjauan langsung ke lapangan seharusnya menjadi langkah penting yang dilakukan,” pungkas dia. (H-4)

















































