Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono melepas pengiriman 50 ton bantuan kemanusiaan untuk korban gempa NTT.(Dok. Kementerian KKP)
MENTERI Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono melepas pengiriman bantuan kemanusiaan sebanyak 50 ton untuk masyarakat terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Bantuan tersebut diangkut menggunakan Kapal Pengawas PSDKP Orca 06 dari Pelabuhan Perikanan Samudera Kendari, Sulawesi Tenggara, pada Senin (17/8).
Pengiriman bantuan ini merupakan hasil kolaborasi antara Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara. Kapal Orca 06 dijadwalkan menempuh perjalanan selama dua hari menuju Labuan Bajo untuk mendistribusikan logistik darurat.
Menteri Trenggono menyatakan bahwa aksi kemanusiaan ini bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan RI, yang harus dimaknai dengan semangat gotong royong. Ia juga menyampaikan duka cita mendalam atas bencana gempa bermagnitudo 7,7 yang mengguncang NTT pada Sabtu (15/8) lalu.
“Di tengah kita memperingati hari kemerdekaan, saudara-saudara di NTT sedang menghadapi musibah. Karena itu, kemerdekaan juga harus kita maknai dengan hadir dan bergotong royong membantu saudara kita yang membutuhkan,” ujar Menteri Trenggono dalam keterangannya.
Bantuan tahap awal ini terdiri dari bahan makanan, obat-obatan, dan kebutuhan pokok lainnya. KKP juga telah membentuk satuan tugas dan posko tanggap bencana sejak hari pertama musibah terjadi untuk menghimpun donasi serta melakukan koordinasi pemulihan.
Selain pengiriman dari Kendari, KKP tengah menyiapkan penyaluran bantuan lanjutan dari Jakarta berupa makanan cepat saji, pakaian, selimut, hingga mesin genset. Saat ini, tim di lapangan juga sedang mengidentifikasi dampak bencana terhadap masyarakat kelautan dan perikanan di wilayah terdampak.
Langkah penggunaan kapal pengawas perikanan untuk misi kemanusiaan ini bukan pertama kalinya dilakukan. Sebelumnya, KKP juga mengerahkan armada serupa untuk membantu penyaluran bantuan saat bencana melanda wilayah Sumatra.
“Ini adalah bentuk solidaritas kita sebagai satu bangsa, bahwa ketika ada saudara kita yang membutuhkan, kita hadir dan saling menguatkan,” pungkas Trenggono. (RO/Z-10)


















































