Wabah Ebola Kini paling Mematikan di Kongo, Korban Jiwa Lampaui 2.300

2 hours ago 2
Wabah Ebola Kini paling Mematikan di Kongo, Korban Jiwa Lampaui 2.300 Ilustrasi.(Magnific)

WABAH ebola yang menyebar cepat di Republik Demokratik Kongo (RD Kongo) kini menjadi yang paling mematikan dalam sejarah negara tersebut. Data terbaru pemerintah yang dirilis pada Senin (17/8) menunjukkan jumlah korban tewas telah melampaui 2.300 orang hanya dalam waktu tiga bulan.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut wabah ini sebagai pertumbuhan tercepat yang pernah tercatat, dengan rata-rata satu korban jiwa setiap 30 menit di RD Kongo. Hingga saat ini, belum ada vaksin atau pengobatan spesifik untuk galur (strain) Bundibugyo yang memicu lonjakan kasus kali ini.

Diumumkan secara resmi pada 15 Mei, wabah ke-17 di RD Kongo ini diperkirakan menyebar beberapa minggu sebelum terdeteksi. Penyakit ini menghantam wilayah utara dan timur, area kehadiran negara sangat lemah, infrastruktur kesehatan minim, dan kelompok bersenjata beroperasi selama puluhan tahun.

Melampaui Rekor Kematian 2018

Berdasarkan data otoritas Kongo, jumlah korban tewas saat ini mencapai 2.325 orang dari 4.945 kasus yang terkonfirmasi. Angka ini melampaui rekor wabah paling mematikan sebelumnya di negara itu pada periode 2018-2020 yang menewaskan 2.299 orang dari 3.381 kasus terkonfirmasi menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Sebagai perbandingan global, wabah ebola paling mematikan sepanjang sejarah terjadi di Afrika Barat pada 2013-2016, yang menewaskan lebih dari 11.300 orang, terutama di Liberia, Sierra Leone, dan Guinea. Meski situasi saat ini kritis, WHO menyatakan harapannya untuk membalikkan keadaan dan menghentikan penyebaran di RD Kongo dalam waktu tiga bulan ke depan.

Melawan Ketidakpercayaan Masyarakat

Wabah terbaru ini bermula di Provinsi Ituri yang dilanda konflik dan menyebar ke lima provinsi lain. Di Bunia, ibu kota Ituri, upaya pencegahan masih sangat minim. Meskipun pemerintah kota memerintahkan pemasangan fasilitas cuci tangan, banyak warga yang mengabaikan protokol kesehatan di pasar-pasar tradisional.

"Keterlibatan masyarakat dalam respons ini masih terlalu lemah," ujar Mohamed Janabi, Direktur Regional WHO untuk Afrika. Ia menambahkan bahwa lebih dari 70 persen kematian terjadi di lingkungan komunitas, bukan di pusat kesehatan.

Jean-Paul Malo Lotsima, seorang pejabat masyarakat sipil di Djugu, menjelaskan bahwa banyak warga lebih memilih dirawat di rumah karena menganggap gejala ebola sebagai akibat keracunan atau penyakit lain. Ketakutan terhadap Pusat Perawatan Ebola (ETC) juga tinggi karena persepsi bahwa banyak orang meninggal setelah dibawa ke sana.

Tantangan Keamanan dan Tenaga Medis

Selain faktor sosial, akses ke komunitas yang terdampak terhambat oleh aktivitas kelompok bersenjata. Wilayah Kivu Utara dan Kivu Selatan saat ini terbelah oleh garis depan pertempuran antara tentara Kongo dan kelompok pemberontak M23 yang didukung Rwanda.

Di sisi lain, respons medis menghadapi kritik karena dianggap lambat dan tidak terorganisasi. Staf medis lokal, termasuk perawat dan petugas pemakaman, sempat melakukan aksi mogok kerja di beberapa rumah sakit di Ituri untuk menuntut pembayaran bonus.

Dewan Perawat Internasional mendesak otoritas RD Kongo untuk memberikan upah yang layak dan perlindungan bagi petugas kesehatan di garis depan. Saat ini, beberapa vaksin sedang dalam tahap pengujian untuk melawan galur Ebola yang tengah mewabah tersebut. (AFP/I-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |