Prediksi Analis soal Nilai Tukar Rupiah Esok Hari

2 hours ago 2

DIREKTUR PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memprediksi nilai tukar rupiah masih di level sekitar Rp 17.500 per dolar Amerika Serikat pada esok hari. Nilai tersebut masih bertahan setelah hari ini mencetak level terlemah.

“Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.520 – 17.580 per dolar,” katanya dalam keterangan tertulis pada Selasa, 12 Mei 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Sejumlah faktor dari dalam dan luar negeri memengaruhi pelemahan nilai tukar. Dari dalam negeri, dia melihat pertumbuhan ekonomi kuartal I sebesar 5,61 persen bukan karena ekonomi tiba-tiba maju pesat, namun karena diperbandingkan dengan level yang sedang rendah.

Pemerintah pun mengklaim pencapaian ini tertinggi dibandingkan negara anggota G20. Menurut Ibrahim, pertumbuhan ekonomi kuartal I tak bisa serta-merta dikatakan sehat, karena ada variabel yang perlu dicermati dan diwaspadai.

Pelemahan rupiah, kata Ibrahim, bisa diakibatkan oleh Purchasing Managers' Index (PMI) sektor manufaktur Indonesia yang turun menjadi 49,1 pada April 2026, dari 50,1 pada bulan sebelumnya. “Karena melemahnya permintaan pasca-liburan dan meningkatnya tekanan produksi akibat guncangan geopolitik dan pasokan,” ucapnya.

Kemudian terdapat ketidakpastian arah kebijakan pengenaan royalti hasil tambang, serta belum jelasnya arah penambahan pendapatan negara di tengah belanja jumbo pemerintah yang membuat pasar khawatir dengan kondisi fiskal. Lalu pasar juga menunggu pengumuman MSCI soal potensi penurunan bobot Indonesia, karena penilaian Morgan Stanley Capital International (MSCI) sempat membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok pada akhir Januari lalu.

Sementara faktor luar negeri, kata Ibrahim, adalah negosiasi antara Amerika Serikat dengan Iran yang masih rapuh untuk mengakhiri perang. Kemudian ada sanksi terhadap tiga individu dan sembilan perusahaan yang berbasis di Hong kong, Uni Emirat Arab, dan Oman, karena memfasilitasi pengiriman minyak Iran ke Cina.

Ibrahim juga melihat pasar menunggu data Indeks Harga Konsumen (CPI) Amerika Serikat yang akan dirilis malam ini, yang dapat memengaruhi ekspektasi terhadap jalur kebijakan moneter Federal Reserve atau bank sentral Amerika Serikat. “CPI utama diperkirakan akan naik 0,6 persen MoM (Month-on-Month) pada bulan April, melambat dari kenaikan 0,9 persen pada bulan Maret,” ujarnya.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |