Perusahaan riset dan penyedia layanan rekrutmen (headhunter), Robert Walters, mengungkapkan pekerja generasi Z (Gen Z) di Indonesia cenderung menahan diri menduduki posisi manajer tingkat menengah karena ekspektasi kompensasi yang dianggap tidak sebanding.
“Gen Z ingin memimpin, tetapi mereka melihat tekanan yang dihadapi oleh para manajer tingkat menengah saat ini,” kata Country Head Robert Walters Indonesia, Eric Mary, dalam keterangan tertulis, Kamis, 18 Juni 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Eric Mary menjelaskan, generasi Z ragu melangkah maju kecuali jika imbalan finansial yang diberikan sebanding dengan tanggung jawab. Menurutnya, perusahaan tidak bisa menyelesaikan masalah kecemasan finansial atau beban kerja hanya dengan sertifikat pelatihan.
Survei Robert Walters Indonesia mengidentifikasi kesenjangan spesifik antara kebutuhan Gen Z untuk mengambil tanggung jawab manajemen dan prioritas mayoritas perusahaan. Di antara responden profesional Gen Z yang ragu terhadap posisi manajemen, 64 persen menyebutkan kompensasi yang lebih tinggi sebagai satu-satunya faktor terpenting yang akan membuat mereka lebih terbuka menerima peran tersebut.
Faktor kedua adalah otoritas pengambilan keputusan yang lebih jelas, diikuti oleh keseimbangan kehidupan kerja yang lebih baik sebesar 24 persen responden.
Sebaliknya, hanya 38 persen perusahaan di Indonesia yang menyatakan sedang meninjau ulang paket gaji dan insentif. Mayoritas atau 69 persen perusahaan justru lebih memilih memprioritaskan jalur promosi yang lebih jelas dan program pengembangan kepemimpinan.
Survei ini juga menemukan 46 persen pekerja Gen Z hanya akan menerima promosi manajemen jika dapat menegosiasikan ketentuannya terlebih dahulu. Di sisi lain, 54 persen dari mereka khawatir menghindari posisi manajemen dapat membatasi potensi pendapatan jangka panjang mereka.
Associate Director Robert Walters Indonesia, Michelle Tanjung, tidak heran jika pekerja Gen Z mengurungkan niat menjadi manajer karena melihat peran atasan mereka yang memikul beban berlebih. Ia pun mendorong perusahaan meninjau kembali struktur kompensasi dan memastikan peran manajer tingkat menengah diberdayakan dengan otonomi yang nyata.
Berkaca dari kondisi saat ini, riset Robert Walters Indonesia mencatat sebanyak 64 persen perusahaan menjadikan perencanaan suksesi yang lebih baik untuk posisi senior sebagai prioritas utama.
Sementara itu, 36 persen lainnya menyatakan saat ini tidak mengambil tindakan apa pun untuk mengatasi kesenjangan pipeline manajer tingkat menengah, meskipun mayoritas mengakui bahwa tantangan tersebut nyata adanya atau sedang mendekat.
Berkaca dari situasi yang ada, Robert Walters Indonesia mengidentifikasi tiga area yang harus ditindaklanjuti. Pertama adalah pemberian kompensasi sebagai aktor pendorong paling utama mengubah keputusan Gen Z.
Kedua adalah pembenahan peran. Responden Gen Z mengidentifikasi otoritas pengambilan keputusan yang terbatas hingga tekanan dalam mengelola tuntutan yang tumpang tindih dari kepemimpinan senior dan staf junior sebagai kekhawatiran yang paling sering diamati pada manajer saat ini.
Terakhir, adalah dengan berinvestasi pada visibilitas dan pengakuan terhadap manajer tingkat menengah saat ini. Sebab secara tidak langsung, kesan manajer ikut membentuk persepsi generasi berikutnya dalam memandang peran tersebut.
































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5495647/original/074499000_1770385031-barba.jpeg)
















