Tren Tokenomics: Perusahaan Global Mulai Tinggalkan Model AI Mahal

7 hours ago 2
 Perusahaan Global Mulai Tinggalkan Model AI Mahal Ilustrasi.(Magnific)

DUNIA korporasi global kini tengah menghadapi pergeseran radikal dalam penggunaan kecerdasan buatan (AI). Setelah sempat terjebak dalam tren penggunaan model AI paling canggih dengan biaya selangit, banyak perusahaan kini mulai menyadari bahwa mereka tidak perlu menguras anggaran demi teknologi tersebut.

Fenomena yang disebut sebagai tokenomics ini muncul akibat kejenuhan perusahaan terhadap biaya operasional AI yang terus membengkak. Sebagai solusinya, perusahaan besar maupun kecil mulai mengadopsi model AI dengan harga lebih terjangkau, termasuk model open-weight yang dikembangkan oleh perusahaan rintisan asal Tiongkok.

Analogi Lamborghini dan Susu

Mike Saeks, Field Chief Technology Officer di Cursor sebagai startup yang tengah dalam proses akuisisi oleh SpaceX senilai Rp930 triliun ($60 miliar), menjelaskan bahwa penggunaan model AI paling kuat untuk tugas-tugas rutin merupakan pemborosan.

"Ini seperti mengendarai Lamborghini hanya untuk pergi ke toko kelontong membeli susu, padahal mobil itu dirancang untuk dipacu di lintasan balap," ujar Saeks. Ia kini bertugas menasihati perusahaan tentang cara mengukur dan meningkatkan laba atas investasi (ROI) dari pengeluaran AI mereka.

Perubahan pola pikir ini sangat drastis. Jika beberapa bulan lalu perusahaan membanggakan tingginya penggunaan token AI (tokenmaxxing), kini mereka beralih ke strategi penghematan maksimal (thrift-maxxing).

Persaingan Geopolitik dan Model Terbuka

Pergeseran anggaran ini bukan sekadar masalah finansial, melainkan juga isu geopolitik. Model AI ternama asal AS seperti OpenAI dan Anthropic umumnya bersifat tertutup (closed models) dan dikendalikan ketat. Sebaliknya, Tiongkok dikenal dengan model open-weight yang lebih murah dan dapat dikustomisasi.

Beberapa startup Tiongkok yang mulai banyak digunakan di AS antara lain DeepSeek, MiniMax, dan Moonshot AI. Meski demikian, penggunaan model ini memicu ketegangan. OpenAI dan Anthropic menuduh pengembang Tiongkok meniru teknologi mereka, sementara pejabat pemerintah AS mulai menyuarakan kekhawatiran terkait risiko keamanan data.

Di sisi lain, raksasa teknologi seperti Nvidia, Microsoft, dan Palantir justru menandatangani surat dukungan untuk model terbuka, mendesak pembuat kebijakan agar berhati-hati dalam menerapkan pembatasan yang dapat menghambat kompetisi.

Strategi Campuran: Rahasia Efisiensi

Banyak perusahaan kini menerapkan strategi a la carte, yakni mencampur penggunaan berbagai model AI sesuai kebutuhan tugas. Cursor, misalnya, melakukan eksperimen membangun peramban web dari nol.

Jika menggunakan GPT-5.5 secara penuh, biayanya mencapai lebih dari Rp155 juta (US$10.000). Namun, dengan mengombinasikan model internal mereka dan Anthropic Opus 4.8, biayanya terpangkas menjadi hanya sekitar Rp20,7 juta (US$1.339).

Beberapa strategi penghematan yang mulai umum diterapkan meliputi:

  • Membatasi akses model premium hanya untuk tugas perencanaan strategis.
  • Menggunakan model murah atau open-source untuk eksekusi tugas rutin.
  • Menerapkan sistem tiga orang biasa setara satu jenius, yaitu beberapa model murah dikombinasikan untuk menyamai performa satu model canggih.

Respons Raksasa AI

Menghadapi ancaman terhadap valuasi mereka, OpenAI dan Anthropic mulai bereaksi. OpenAI memperkenalkan model GPT 5.6 Sol yang diklaim lebih efisien dalam penggunaan token. Sementara itu, Anthropic merilis model bertenaga tinggi dengan biaya lebih rendah untuk mempertahankan pelanggan.

Marty Kausas, CEO Pylon, menyebut situasi saat ini sebagai pertumpahan darah bagi loyalitas pelanggan. Perusahaannya bahkan menerima insentif berupa token gratis senilai lebih dari Rp24,8 miliar (US$1,6 juta) dari vendor AI yang berusaha keras agar pelanggan tidak berpindah ke model pesaing yang lebih murah.

Dengan semakin banyaknya pilihan model yang tersedia, era AI murah tampaknya akan terus bertahan. Ini memaksa para pemimpin industri untuk tidak lagi sekadar mengejar kecanggihan, tetapi juga efisiensi biaya yang nyata. (The Wall Street Journal/I-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |