Trump Kritik Serangan Israel di Jalur Gaza

13 hours ago 1
Trump Kritik Serangan Israel di Jalur Gaza Warga Gaza.(Al Jazeera)

PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Israel seharusnya tidak lagi melakukan serangan terhadap target-target di Jalur Gaza, Palestina. Pernyataan ini muncul saat utusan khususnya, Jared Kushner, bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Senin (17/8/2026) waktu setempat, guna menyelamatkan rencana perdamaian yang mulai goyah untuk melucuti senjata Hamas dan mengakhiri perang di wilayah kantong Palestina tersebut.

Dalam keretakan publik yang jarang terjadi di antara kedua sekutu dekat tersebut, Netanyahu pekan lalu menolak rencana Trump untuk pelucutan senjata bertahap oleh Hamas. Setelah jeda singkat, Israel melanjutkan serangan hampir setiap hari terhadap milisi Palestina, termasuk beberapa target yang menurut Israel terlibat dalam serangan 7 Oktober 2023.

Klaim Trump terkait Kesediaan Hamas

Berbicara kepada Fox News pada Senin, Trump menegaskan bahwa Israel tidak seharusnya melanjutkan serangan tersebut karena ia mengeklaim Hamas setuju untuk meletakkan senjata. "Pada akhirnya, mereka menyerahkan senjata," ujar Trump sebagaimana dilaporkan koresponden luar negeri Fox, Trey Yingst.

Trump sebelumnya menyatakan pada akhir Juli bahwa Hamas menyetujui peta jalan 15 poin. Rencana tersebut mencakup penyerahan senjata Hamas kepada otoritas Palestina dengan imbalan penarikan pasukan Israel secara bertahap dari Jalur Gaza. Namun, kedua belah pihak berselisih mengenai pihak yang harus memulai langkah pertama karena Israel menolak mundur sebelum Hamas sepenuhnya dilucuti.

Misi Diplomatik Jared Kushner

Kunjungan Kushner, menantu sekaligus penasihat utama Trump, menandakan meningkatnya rasa frustrasi presiden atas stagnasi rencana tersebut. Sebelum bertemu Netanyahu, Kushner dilaporkan bertemu dengan pejabat Hamas pada hari Minggu di kota El Alamein, Mesir, untuk pembicaraan langsung yang juga dihadiri oleh pemimpin Hamas, Khalil Al-Hayya.

Dalam pertemuan selama tiga jam dengan Netanyahu dan pejabat Board of Peace, disepakati bahwa militer Israel tidak akan menarik diri dari Gaza sampai Hamas menyerahkan senjatanya. Israel juga tetap memegang hak untuk merespons ancaman di masa depan.

Pernyataan Jared Kushner:
"Bagi Israel, kami pikir ini adalah situasi saling menguntungkan (win-win). Jika Hamas benar-benar menyerahkan senjata dan terowongan secara sukarela dalam 60 hingga 90 hari ke depan, itu akan menghilangkan ancaman keamanan besar bagi Israel. Jika mereka tidak menepati janji, Israel akan mendapat lebih banyak dukungan dari AS dan pihak lain untuk menyelesaikan tugas tersebut."

Kondisi Gaza dan Tekanan Politik

Rencana perdamaian Trump awalnya dimulai dengan gencatan senjata pada Oktober yang berhasil menukar sandera dengan hampir 2.000 warga Palestina di penjara Israel. Namun, kemajuan terhenti saat Hamas menolak pelucutan senjata total dan Israel melanjutkan operasi militernya.

Saat ini, sekitar dua juta warga Gaza berada dalam ketidakpastian, sebagian besar mengungsi di kamp-kamp darurat dan sangat bergantung pada bantuan kemanusiaan. Di sisi lain, Netanyahu menghadapi tekanan politik domestik menjelang pemilu Oktober mendatang, dengan jajak pendapat menunjukkan penurunan dukungan terhadap partainya.

Delegasi yang dipimpin Kushner dalam misi ini juga melibatkan tokoh-tokoh kunci seperti utusan Board of Peace, Nickolay Mladenov, dan mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair, dalam upaya terakhir untuk mendorong transfer kekuasaan kepada badan sipil Palestina yang baru dan memulai rekonstruksi Gaza. (The Wall Street Journal/I-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |