81 Tahun Indonesia Merdeka, Senyum di Pelosok Masih Menjadi Kemewahan

15 hours ago 3
81 Tahun Indonesia Merdeka, Senyum di Pelosok Masih Menjadi Kemewahan Pemutaran perdana film dokumenter "Negeri Susah Senyum” yang merekam perjalanan para dokter gigi.(Dok. FDC Dental Clinic)

Delapan puluh satu tahun sudah  Indonesia merdeka, namun akses terhadap layanan kesehatan gigi dan mulut ternyata masih menjadi kemewahan bagi sebagian masyarakat di pelosok negeri. Jarak yang jauh dari fasilitas kesehatan, minimnya tenaga medis, hingga kuatnya stigma terhadap dokter gigi  membuat persoalan kesehatan gigi tidak sekadar menjadi masalah medis. Di sejumlah daerah, keterbatasan akses bahkan turut menyuburkan mitos dan praktik pengobatan alternatif yang belum tentu aman.

Realitas tersebut tergambar dalam film dokumenterNegeri Susah Senyum”, yang merekam perjalanan para dokter gigi saat melakukan riset sekaligus pelayanan kesehatan dasar di Kasepuhan Ciptagelar, Kabupaten Sukabumi Jawa Barat (Jabar). Film ini tidak hanya memperlihatkan kondisi kesehatan gigi masyarakat adat, tetapi juga menggambarkan perubahan pola hidup yang mulai berdampak pada kesehatan generasi muda.

Drg. Ahmad Syahrul Mubarok dari FDC Dental Clinic, salah satu dokter gigi yang terlibat dalam kegiatan tersebut, menemukan sebuah paradoks menarik. Masyarakat generasi sepuh di Kasepuhan Ciptagelar justru memiliki kondisi gigi yang relatif jauh lebih baik dibandingkan generasi anak-anak.

“Generasi sepuh di Ciptagelar memiliki gigi yang jauh lebih kuat karena asupan makanan yang natural dan rendah gula. Keluhan utama mereka rata-rata hanyalah atrisi atau keausan gigi akibat konsumsi makanan bertekstur keras,” ungkapnya saat peluncuran film Negeri Susah Senyum di FDC Dental Clinic Kota Bandung pada Senin (17/8).

Namun lanjut Ahmad, kondisi berbeda ditemukan pada anak-anak di Kasepuhan Ciptagelar yang  justru menghadapi persoalan karies, yang cukup memprihatinkan. Bahkan, pada usia sekitar tujuh tahun, gigi susu sebagian anak sudah mengalami kerusakan berat akibat karies rampan. Perubahan pola konsumsi menjadi salah satu pemicunya. Makanan modern dengan kandungan gula tinggi dan makanan olahan mulai masuk ke lingkungan kasepuhan dan perlahan menggantikan pola konsumsi masyarakat yang sebelumnya lebih banyak mengandalkan bahan pangan alami.

"Di tengah perubahan tersebut, persoalan semakin rumit karena keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan gigi. Ketiadaan dokter gigi dan minimnya fasilitas kesehatan membuat masyarakat tidak memiliki banyak pilihan ketika mengalami sakit gigi," tuturnya.

Ahmad bahkan menemukan tenaga kesehatan di tingkat lokal harus mengambil tindakan di luar kewenangan idealnya, karena tidak adanya tenaga medis yang lebih lengkap dan untuk mendapatkan layanan kesehatan yang lebih memadai, masyarakat harus menuju fasilitas kesehatan di wilayah Pelabuhanratu. Perjalanan darat bisa memakan waktu sekitar empat jam dengan kondisi jalan yang tidak mudah dilalui. Jarak tersebut bukan sekadar persoalan geografis. 

"Bagi masyarakat yang sedang mengalami sakit gigi, perjalanan berjam-jam untuk mendapatkan pengobatan dapat menjadi hambatan besar. Kondisi inilah yang kemudian membuka ruang bagi berkembangnya mitos maupun pengobatan alternatif yang tidak selalu dilakukan secara higienis," tandasnya 

Ahmad menambahkan, stigma bahwa ke dokter gigi  menakutkan, lama dan mahal, juga masih sangat melekat. Oleh karena itu, pendekatan yang dilakukan sangat personal dengan memberikan edukasi dasar serta penanganan darurat, seperti penambalan dan pencabutan gigi. 

"Untuk diketahui, karies gigi masih menjadi salah satu persoalan kesehatan gigi paling dominan di Indonesia. Bahkan sekitar 80 persen masyarakat mengalami karies gigi, sementara pemerintah menargetkan Indonesia dapat bebas karies pada 2035," tuturnya.

Membuka Mata Generasi Muda

Pesan tentang ketimpangan akses kesehatan gigi tersebut tidak hanya disampaikan kepada masyarakat umum. Penayangan perdana Negeri Susah Senyum juga mengajak para finalis Mojang Jajaka Jabar 2026 untuk menyaksikan langsung film dokumenter tersebut.

Para finalis tidak sekadar menjadi penonton. Mereka juga diajak berdiskusi dan mengupas berbagai persoalan yang diangkat dalam film bersama para narasumber yang terlibat dalam proses produksi maupun kegiatan lapangan.
Kehadiran para finalis Mojang Jajaka Jabar 2026, diharapkan dapat membuka perspektif baru mengenai persoalan kesehatan gigi yang masih dihadapi masyarakat di berbagai pelosok Jabar.

Salah satu finalis asal Kabupaten Sukabumi, Djemima Shireen Ferdinand, mengaku apa yang digambarkan dalam film tersebut bukan sesuatu yang asing baginya. Sebagai putri daerah, Djemima tumbuh dan besar di kawasan pesisir Sukabumi. Meski wilayah tempat tinggalnya cukup jauh dari lokasi pengambilan gambar film di Kasepuhan Ciptagelar, tapi realitas mengenai keterbatasan akses dan edukasi kesehatan yang digambarkan dalam film terasa dekat, dengan kehidupan masyarakat di daerahnya.

"Film tersebut memperlihatkan kondisi yang memang terjadi di lapangan dan bukan sekadar cerita yang dibangun untuk kepentingan film. Bagi saya pengalaman tersebut menjadi tantangan sekaligus tanggung jawab sebagai putri daerah untuk ikut menyuarakan pentingnya kesehatan gigi dan mulut kepada masyarakat, khususnya generasi muda," sambungnya.

Membawa Pesan “Senyum” Lebih Jauh

Founder FDC Dental Clinic, drg. Ita Lestari, menjabarkan, Film Negeri Susah Senyum sengaja dibuat untuk membuka mata masyarakat bahwa akses terhadap kesehatan gigi di Indonesia masih belum merata. Persoalannya bukan hanya ketersediaan dokter dan fasilitas kesehatan, tetapi juga stigma yang telanjur melekat di tengah masyarakat.

“Pemutaran film dokumenter Negeri Susah Senyum baru pertama kali dilakukan. Kami akan menggiatkan pemutaran film ini karena ada misi sosial, yaitu menyebarkan senyum ke semua orang,” katanya.

Film yang merupakan produksi dari Anatman Pictures tersebut, pada akhirnya tidak hanya bercerita tentang gigi yang sakit atau fasilitas kesehatan yang jauh. Film juga  bercerita tentang jarak antara masyarakat pelosok dengan dokter gigi, antara pengetahuan medis dengan mitos, dan antara pola hidup tradisional dengan perubahan konsumsi yang semakin modern.

Di usia Indonesia yang menginjak 81 tahun, persoalan tersebut menjadi pengingat bahwa kemerdekaan belum sepenuhnya terasa ketika mendapatkan layanan kesehatan dasar masih menjadi perjuangan bagi sebagian masyarakat.
Sebab, senyum seharusnya bukan kemewahan.(Z-10)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |