Kepala KPwBI Tegal, Bimala (baju hitam) panen padi bersama pejabat terkait Pemkot Pekalongan.(MI/Supardji Rasban)
KANTOR Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Tegal bersama Pemerintah Kota Pekalongan, Jawa Tengah, mengembangkan budidaya padi biosalin di lahan bekas rob Kelurahan Degayu. Program tersebut diarahkan untuk mengembalikan produktivitas lahan terdampak salinitas sekaligus mendukung ketahanan pangan.
Program itu ditandai dengan panen Demfarm Smart Farming Padi Biosalin dan penyerahan wakaf produktif untuk kemandirian pangan benih padi unggulan di Kelurahan Degayu, Pekalongan, Rabu (12/8).
Kegiatan dihadiri Wali Kota Pekalongan Achmad Afzan Arslan Djunaid, Wakil Wali Kota Balgis Diab, unsur Forkopimda, lembaga daerah, Masyarakat Ekonomi Syariah Pekalongan, Dompet Dhuafa Jawa Tengah, serta kelompok tani.
Kepala KPwBI Tegal Bimala mengatakan program yang sebelumnya melibatkan satu kelompok tani kini berkembang menjadi empat kelompok. Perluasan tersebut meningkatkan jumlah petani yang terlibat sekaligus memperluas lahan pengembangan padi biosalin.
“Yang tadinya satu kelompok, sekarang menjadi empat kelompok. Jadi anggotanya lebih dari 70 dan luas lahannya sudah berkembang menjadi 56 hektare,” ujar Bimala.
Menurut dia, produktivitas padi biosalin yang dikembangkan melalui program tersebut telah melampaui rata-rata produktivitas padi nasional. Dari panen awal, produktivitas mencapai sekitar 6,6 ton per hektare.
“Kami sangat senang sekali karena produktivitasnya luar biasa. Sudah di atas rata-rata nasional, 6,6 ton per hektare, sementara rata-rata nasional sekitar 5,3 ton,” katanya.
Program Demfarm 2026 memperluas areal percontohan menjadi 3,5 hektare dengan menerapkan teknologi Climate-Smart Agriculture (CSA). Teknologi tersebut diterapkan secara terintegrasi untuk meningkatkan produktivitas lahan sekaligus menyesuaikan budidaya pertanian dengan dampak perubahan iklim.
Perbaikan lahan diawali melalui proses remediasi tanah menggunakan campuran biochar, dekomposer, dan pupuk kompos kotoran hewan. Metode tersebut ditujukan untuk memulihkan kesuburan tanah yang terdampak rob dan salinitas.
Pengembangan padi biosalin dinilai penting bagi wilayah pesisir utara Jawa yang menghadapi persoalan rob dan meningkatnya salinitas lahan. Pemanfaatan kembali lahan bekas rob menjadi sawah produktif diharapkan dapat memperluas areal produksi pangan.
Bimala juga mengapresiasi rencana Pemkot Pekalongan membangun pusat pembenihan di kawasan tersebut. Menurut dia, pusat pembenihan dapat mendukung pengembangan lahan eks-rob di sepanjang wilayah Pantai Utara Jawa.
“Rencana Pak Wali untuk membuat pusat pembenihan di sini luar biasa karena bisa mendukung lahan eks-rob yang sepanjang Pantura,” ujarnya.
Program tersebut tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi padi, tetapi juga diarahkan membangun ekosistem pertanian yang berkelanjutan. Keterlibatan kelompok tani, pemerintah daerah, lembaga sosial, dan Bank Indonesia menjadi bagian dari upaya memperkuat kemandirian pangan di daerah.
Pengembangan lahan biosalin juga diharapkan menjadi model pemanfaatan lahan terdampak rob yang dapat diterapkan di wilayah pesisir lainnya. Dengan penerapan teknologi pertanian adaptif, lahan yang sebelumnya sulit ditanami dapat kembali dimanfaatkan untuk produksi pangan.
Kegiatan panen dan penyerahan wakaf produktif tersebut sekaligus memperkuat kolaborasi antara pemerintah, lembaga keuangan, dan masyarakat dalam mendukung swasembada beras nasional. Pemanfaatan benih unggulan dan pengembangan pusat pembenihan diharapkan dapat memperluas dampak program ke kawasan pesisir Pantura. (E-2)


















































