Bonnie Triyana Ajak Gen Z Hidupkan Ruang Diskusi Lewat Bedah Buku Marhaenisme

3 hours ago 3
Bonnie Triyana Ajak Gen Z Hidupkan Ruang Diskusi Lewat Bedah Buku Marhaenisme Bonnie Triyana Ajak Gen Z Hidupkan Ruang(Istimewa)

ANGGOTA Komisi X DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Bonnie Triyana, mengajak generasi muda untuk kembali menghidupkan ruang diskusi publik. Hal itu disampaikannya dalam acara bedah buku Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen-Z karya Airlangga Pribadi dan Rocky Gerung di Museum Multatuli, Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Sabtu (11/7).

Bonnie mengatakan buku tersebut menghadirkan tafsir baru terhadap Marhaenisme yang digagas Presiden pertama RI Soekarno sehingga tetap relevan untuk menjawab tantangan sosial, ekonomi, dan politik pada era saat ini.

"Sering kali kalau kita bicara Marhaenisme referensinya adalah petani kecil yang memiliki alat produksi sederhana. Buku ini menjadi menarik karena menghadirkan tafsir baru sehingga kita bisa merejuvenasi dan menyegarkan kembali pikiran Bung Karno agar relevan dengan keadaan hari ini," kata Bonnie.

Bonnie menilai Museum Multatuli menjadi tempat yang tepat untuk membahas Marhaenisme karena memiliki keterkaitan dengan kisah Saijah dan Adinda dalam novel Max Havelaar yang menggambarkan rakyat kecil sebagai korban penindasan kolonial dan feodalisme.

Bonnie juga mengajak peserta, khususnya generasi muda, untuk membaca dan mendiskusikan buku tersebut agar kemampuan berpikir kritis terus berkembang.

"Buku ini penting dibaca teman-teman muda. Setelah diskusi nanti beli bukunya, baca, lalu diskusikan lagi dengan kawan-kawan untuk mengasah daya kritis kita terhadap keadaan hari ini," ujarnya.

Salah satu penulis buku, Airlangga Pribadi, mengatakan Marhaenisme perlu dipahami bukan sekadar sebagai warisan sejarah, tetapi sebagai metode berpikir untuk membaca persoalan-persoalan kontemporer, mulai dari kapitalisme digital, krisis ekologis hingga ketimpangan sosial.

Menurutnya, berbagai persoalan yang dihadapi generasi muda saat ini kerap dipersepsikan sebagai kegagalan individu, padahal berakar pada persoalan sistemik dan struktural.

"Semua persoalan yang dihadapi Gen Z tidak bisa diperjuangkan hanya sebagai persoalan personal. Bung Karno sejak awal mengajarkan bahwa ini adalah problem sistemik dan struktural yang harus diperjuangkan melalui jalan politik," ujar Airlangga.

Airlangga mencontohkan pekerja ekonomi digital yang memiliki telepon genggam, sepeda motor, maupun aplikasi sebagai alat produksi, tetapi tetap hidup dalam ketidakpastian kerja. Airlangga juga menilai eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan telah melahirkan krisis ekologis yang sesungguhnya telah diperingatkan Soekarno melalui kritik terhadap kapitalisme ekstraktif.

"Yang terjadi hari ini bukan sekadar bencana alam, tetapi bencana yang didorong oleh keserakahan manusia dalam mengakumulasi kekayaan sehingga menghancurkan bumi dan manusia itu sendiri," katanya.

Guru Besar Hubungan Internasional Connie Rahakundini Bakrie mengatakan bentuk penindasan terhadap rakyat kini jauh lebih kompleks dibanding masa kolonial. Jika dahulu yang diperebutkan adalah tanah dan sumber daya alam, kini yang menjadi objek perebutan adalah data, algoritma, informasi, hingga cara berpikir manusia.

"Dulu yang diperebutkan tanah, sekarang yang diperebutkan pikiran manusia. Ketika pikiran sudah berhasil dikuasai, bangsa itu tidak perlu lagi dijajah secara fisik," kata Connie.

Connie mengingatkan generasi muda agar mampu membedakan fakta dan propaganda, terutama menjelang dinamika politik nasional.

"Kita harus bisa membedakan mana fakta dan mana propaganda, mana informasi dan mana manipulasi. Kalau kehilangan kemampuan berpikir merdeka, itu lebih berbahaya," ujarnya.

Sementara itu, penulis buku, Rocky Gerung mengatakan buku tersebut ditulis sebagai upaya merawat tradisi berpikir kritis agar tidak hilang ditelan pragmatisme dan konsumerisme. Connie mencontohkan pengalamannya di Rusia, ketika generasi muda tidak lagi mengenal Vladimir Lenin sebagai tokoh penting dalam sejarah negaranya.

"Diskursus ideologi itu bila tidak dirawat akan dimakan oleh pragmatisme dan konsumerisme. Buku ini ingin merawat bagian itu," kata Rocky.

Rocky juga mengungkapkan naskah buku tersebut sempat tersimpan selama hampir tiga dekade sebelum akhirnya diterbitkan. Menurutnya, penyimpanan itu berkaitan dengan dinamika politik yang dialami PDI menjelang peristiwa Kerusuhan 27 Juli 1996 atau Kudatuli.

"Buku dan isinya pernah selama 30 tahun disimpan di berangkas PDI baru. Yang membuka berangkas itu bukan polisi, tetapi politisi, namanya Bonnie Triyana," ujarnya.

Menurut Rocky, diterbitkannya kembali buku tersebut merupakan upaya menghidupkan kembali gagasan Marhaenisme agar dapat dibaca dan diperdebatkan oleh generasi muda sesuai tantangan zaman.

Rocky juga menekankan pentingnya hak warga negara untuk mengawasi penyelenggara negara melalui pertanyaan dan kritik.

"Inti pertama pendidikan adalah memastikan warga negara berhak mengajukan pertanyaan. Seluruh peralatan negara wajib dipertanggungjawabkan kepada warga negara," kata Rocky.

Rocky mencontohkan polemik dugaan ijazah Presiden ke-7 RI Joko Widodo sebagai bentuk pertanyaan warga negara kepada kepala negara yang menurutnya harus dijawab dalam kerangka demokrasi.

"Bertanya adalah hak murid kepada profesor. Bertanya adalah hak warga negara kepada kepala negara," ujar Rocky.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |