im Brigade Karhutla UPTD KPHP Bongan bersama Regu MPA Kampung Deraya melaksanakan ground check dan pemadaman Karhutla di Kampung Lemper, Kecamatan Bongan, Kabupaten Kutai Barat, Selasa (11/8/2026).(Dok Dishut Kaltim)
Dinas Kehutanan (Dishut) Provinsi Kalimantan Timur mengoptimalkan pemanfaatan skema pendanaan karbon dari Forest Carbon Partnership Facility (FCPF) sekitar Rp19 miliar. Dana tersebut dialokasikan untuk memperkuat mitigasi dan operasional penanganan darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah tersebut.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dishut Kalimantan Timur (Kaltim), Rusmadi, menjelaskan bahwa alokasi dana karbon FCPF diprioritaskan untuk mendukung kebutuhan esensial petugas dan relawan di garis depan. Fokus utama penggunaan dana ini adalah dukungan operasional guna mengantisipasi puncak kerawanan kebakaran yang diprediksi terjadi pada September.
"Dana ini difokuskan pada dukungan operasional untuk mengantisipasi puncak kerawanan kebakaran," ujar Rusmadi di Samarinda, Selasa (18/8).
Tantangan Luas Wilayah dan Keterbatasan Personel
Pengawasan kawasan hutan di Kaltim menghadapi tantangan besar mengingat luasnya yang mencapai sekitar 7,8 juta hektare. Saat ini, jumlah Polisi Kehutanan (Polhut) yang dimiliki daerah sangat terbatas, yakni hanya 94 personel. Rasio ini dinilai tidak sebanding dengan luas wilayah yang harus dilindungi dari ancaman pembalakan liar, perambahan, pertambangan ilegal, hingga karhutla.
Untuk menyiasati keterbatasan tersebut, Dishut Kaltim memobilisasi partisipasi masyarakat lokal sebagai ujung tombak pengawasan di tingkat tapak. Berdasarkan data terkini, pemerintah daerah telah menyiagakan:
- Lebih dari 1.700 orang dalam Masyarakat Mitra Polisi Kehutanan (MMP).
- 5.814 anggota Masyarakat Peduli Api (MPA) di berbagai wilayah.
- Ratusan personel Satgas dan Brigade Pengendalian Karhutla.
Sinergi antara masyarakat, TNI, dan Polri menjadi pilar utama dalam menjaga ekosistem di "Benua Etam". Pemerintah juga telah memfasilitasi relawan dengan perlengkapan standar seperti pakaian anti-api, topi, obat-obatan, dan peralatan teknis lainnya untuk menjamin keselamatan saat bertugas.
Strategi Hadapi Puncak Kemarau
Menghadapi tantangan geografis dan krisis sumber air saat puncak kemarau, petugas menempatkan tandon lipat di sejumlah area rawan karhutla. Selain tim darat, operasi udara menggunakan helikopter dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) disiapkan untuk menjangkau titik api yang sulit diakses.
Langkah antisipatif ini semakin diperketat menyusul terjadinya dua kali insiden kebakaran di Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Soeharto, yang merupakan bagian dari kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).


















































